Kue keranjang terbuat dari beras ketan dan gula, biasanya dicetak dalam sebuah keranjang dengan dibungkus daun, sebutan lainya dodol cina. Kue ini mudah ditemukan setiap menjelang perayaan İmlek, meski saya tidak merayakan, tapi kenangan melekat tentang kue keranjang atau dodol Cina terekam dengan manis dimasa kecil.

Dulu, dipertengahan tahun 90-an, tetangga tionghoa atau toko langganan emak di Pasar serpong, selalu membagikan kue keranjang ke pelanggan setia tokonya, setiap pulang dari pasar, menjelang imlek, kamipun selalu kebagian menikmati kue keranjang ini. Biasanya dinikmati langsung, terkadang di Seupan –dikukus kembali, sampai kuenya bertekstur kenyal, atau diolah kembali dengan dibalur tepung kemudian digoreng, dinikmati dengan teh hangat dipagi hari, saya lebih menyukai tekstur dodol cina dibanding dodol biasa. Kue keranjang jadi salah satu makanan favorit di masa kecil.

Dodol cina memiliki nama asli Nian Gao atau Ni-Kwe , kue ini hanya hanya dibuat tahunan menjelang perayaan imlek. Hidup besar di kampung, meski mayoritas beragama islam, dikampung saya cukup toleransi dengan saudara-saudara tionghoa, ada satu kampung khusus bertetangga dengan kampung saya tinggal, kampung Nordin namanya , dimana mayoritas warganya memang tionghoa.

Kampung Tionghoa tetangga kami

Kampung ini sempat menjadi perbincangan beberapa tahun silam, sengketa tanah dengan TNİ AU-lanud atang sanjaya. Konflik agraria pengklaim-an tanah warga dengan TNİ, kasus ini sampai diliput media nasional, sempat terjadi kericuhan, bahkan ada tetangga komplek yang dibawa petugas polisi karena dituduh sebagai penggerak demostrasi, Saya tidak sempat bergabung untuk demo di depan istana negara, karena bekerja. Mendengar cerita saja dari tetangga dan kerabat yang berangkat ke Jakarta untuk demo, minta penyelesaian konflik agraria dengan TNİ.

Kalau penasaran bisa Googling berita lama: Konflik Agraria TNİ AU atangsanjaya dengan warga Rumpin:) Lokasi yang disengketakan di daerah kampung Nordin ini. Tapi jika dibayangkan kampung ini isinya orang-orang tionghoa kaya raya seperti di perkotaan? warga kampung ini kebanyakan warga biasa dan banyak juga yang hidup digaris kemiskinan bahkan putus sekolah. Mereka sudah menetap turun temurun di Nordin.

Kuburan dan vampire loncat

Tidak jauh dari rumah, ada keluarga tionghoa yang sudah dianggap sesepuh kampung juga, keluarga bah olin, rumahnya bertetangga dengan tanah keluarga dari bapak, istri dari bah olin biasa kami panggil Mpok Anni. Yang saya selalu ingat tentang mpok Anni adalah kecintaannya dengan kebaya, sepanjang ingatan saya bertemu mpok anni, dia selalu berkebaya kemanapun pergi.

Sekarang keluarga uwak saya yang menempati dan membangun rumah ditanah peninggalan kakek. Bah olin tetangga lama kakek saya dari pihak bapak, Dulu, daerah rumah Bah olin dikelilingi hutan bambu, masih sepi, biasa kalau saya pulang sekolah dan berjalan kaki, mengambil jalan pintas lewat komplek Lapan, kemudian melewati area rumah Bah olin,biasa melewati kuburan keluarga mereka, karena tahun 90-an terkenal sekali film Bo Bo ho atau Vampire Cina, yang loncat-loncat dan berhenti kalau ditempeli kertas kuning berisi doa-doa, saya dan teman sering membayangkan, ada vampire loncat-loncat kalau lewat kuburan tersebut, lari terbirit-birit sampai ketemu rumah Bah olin, berarti aman hahaha.

Selain kuburan di dekat rumah Bah Olin, ada juga pemakaman khusus tionghoa bernama santiong, setiap pergi sekolah naik angkot, melewati pekuburan ini, karena lokasinya persis dipinggir jalan raya, saya jadi ingat dimasa kecil, ketika emak sibuk dan tidak menjemput ke sekolah, bersama dengan teman-teman, pulang jalan kaki, jaraknya lumayan jauh dan harus melewati kuburan santiong.

Sebenarnya bisa juga mengambil jalan pintas lewat komplek Lapan, tapi masih harus masuk ke arah perkampungan dalam, Seingat saya waktu itu, kami jalan pulang sekolah, ditemani abang tukang es klenong-es krim jadul– biasanya menyebutnya es klenong, karena dia selalu membunyikan sejenis alat dan berbunyi ‘‘Nong..nong” berjejer mengikuti abang es klenong, karena sudah sama sama kenal dan tinggalnya juga masih satu kampung, berjalan beriringan untuk melewati daerah santiong.

konon beredar kabar tentang mobil hardtop yang kala itu selalu diidentikan mobil penculik, karena daerah santiong ini sepi, kami takut dicegat mobil penculik, serba salah kan, kalau lewat jalan pintas ketemu kuburan cina kebayang vampire loncat-loncat, lewat santiong takutnya ketemu mobil hardtop, entah kenapa rasanya dulu, mobil ini identik sekali dengan julukan mobil penculik. Jadi sebagai anak SD generasi 90-an saya dan teman teman sudah termakan hoaks mobil hardtop ini, sampai takut lewat area kuburan santiong yang sepi.

Pesta Pernikahan dan ibu-ibu kepo

Ketika Bah Olin, menggelar pesta pernikahan salah satu anaknya, warga kampung juga diundang, untuk menghormati tetangga muslim, keluarga bah olin sengaja membedakan menu prasmanannya, antara makanan halal dan non halal. Memasaknya pun dipisahkan.

Saya dapat cerita dari tetangga sepulang kondangan dari rumah bah olin, ada sekumpulan ibu-ibu kepo, atau mungkin juga mereka ga tanya-tanya dulu, padahal meja prasmanan dipisah, mereka mencicipi menu prasmanan khusus, dan lahap makan, sampai tuan rumah menyadarinya, buru-buru negur ibu-ibu, kalau masakan yang disajikan terpisah itu non-halal, daging B21, kontan ibu-ibu tersebut terkejut dan menghentikan makannya, tapi saya sempat mendengar celetukan salah satu ibu tetangga ini:

” tapi dagingnya enak loh, mirip gitu sama daging ayam”.

” eh tapi ga apa-apa kan ya, kita makan, udah ketelan gini”

”khilaf..khilaaaf”.

Dasar emak-emak! Dibilangin suka ngeyel dan terkadang kepo. Tuan rumah sudah memberikan jamuan tersendiri, jamuan khusus dipisahkan karena non halal. Masih aja pada penasaran.

Mpok Anni, mualaf

Sepeninggal Bah Olin, saya dapat kabar kalau mpok Anni menjadi mualaf, karena saya jarang pulang kampung, berita ini saya dapatkan ketika mudik ramadan dan lebaran dari Jogja, Setiap solat tarawih di mushola dekat rumah, sering melihat mpok anni yang datang ke mushola untuk ikut tarawih, diusia senjanya dia semangat sekali belajar agama, meski gerakan solat mpok annie belum sempurna, terkadang posisi duduk tahiyatnya masih keliru kemudian dia menoleh kanan kiri untuk mencontoh, sesekali disela tarawih, ada ibu-ibu tetangga yang mengajari Mpok Anni gerakan solat kembali, ya saya maklum, usia senja dan ingatan yang semakin menurun.

Semangatnya untuk belajar tidak pernah surut sampai akhir hayatnya. Dia selalu datang lebih awal untuk pergi solat tarawih, anak-anak mpok annie tetap mendukung keputusan ibunya pindah keyakinan, menyediakan baju untuk hari raya, membelikan kue-kue lebaran. Dan tradisi keluarga mereka setiap imlek tetap berjalan untuk kumpul keluarga, beda nya mungkin mpok anni tidak ikut sembahyang-nya saja.

Dulu, setiap İmlek, banyak kerabat mpok anni yang berkunjung, jika naik angkot, mereka berhenti persis di depan toko milik emak saya, sebelum menyeberang jalan, kemudian masuk lagi jalan kecil menuju rumah mpok anni, biasanya kami beramah tamah dulu di depan toko, sambil mengucapkan selamat lebaran cina , dandanan mereka layaknya hari raya idul fitri , baju baru dan tidak lupa hantaran dalam rantang yang akan dibawa ke tetua mereka.

Melihat tetangga merayakan imlek adalah hal biasa dari dulu, bertahun tahun hidup rukun, bahkan saya juga merindukan sajian kue keranjang khas imlek, si emak sering sekali mendapatkan hadiah kue keranjang dari toko distributor langganannya, kalau lebaran dapat bingkisan sarung atau sekaleng khong ghuan yang legend itu, imlek sudah pasti kiriman kue keranjang, dan kami menikmatinya dengan sukacita.

Baca:

Berbisnis dengan orang cina

Review drama cina Mr Fighting, Denglun

Review Drama China: Chef Hua, drama tentang kuliner cina

Dahulu rasanya aman tentram saja, ikut bersuka cita dengan kebahagiaan tetangga yang berbeda keyakinan merayakan hari rayanya, tidak seramai sekarang pro-kontra di sosial media, semoga tidak ada yang mengharamkan kue keranjang hehe, karena kami sering menikmatinya juga setiap imlek, İndonesia itu unik, beragam. Meski saya tidak merayakan, tapi hidup bertetangga dan membaur dengan warga tionghoa dari kecil, Koh hendra (beda ya sama Hendra ejer yang viral itu) salah satu supplier alat alat listrik ke Toko si emak, sudah dianggap seperti keluarga, setiap datang ke toko, ngobrol santai, sering bercanda, dan dia juga banyak membantu usaha keluarga. Pertemanan yang awet sampai sekarang.

Kini jauh hidup di Turki menjelang İmlek, saya jadi merindukan kue keranjang, dodol cina yang digoreng tepung atau diseupan sama si emak dinikmati dengan teh melati, sambil menikmati rintik hujan, bercerita tentang banyak hal. Dulu setiap hujan dan dirumah ada kue keranjang, selalu nyeletuk ‘‘ wah bah olin mau lebaran”

Entah kenapa seingat saya setiap menjelang imlek, sering sekali turun hujan, kenangan tentang kue keranjang goreng maupun seupan melekat sekali, saya tidak hafal filosopi kue keranjang, yang saya tahu cuma rasa enak dan cocok dilidah. Dimakan hangat-hangat sambil nyeruput teh. Nikmat…., Teman -teman suka juga dengan kue keranjang?