Seorang kawan lama pernah mengatakan: ” not, jalan rezeki itu bisa dari mana saja, salah satunya lewat pertemanan”. kalimat yang sederhana saja sebenarnya, tapi buat saya sebagai newbie di dunia kantoran kalau itu, kalimat yang dia ucapkan seperti sebuah motivasi, ”ya siapa tahu Allah bukakan jalan rezeki saya lewat seorang teman”. Saat itu saya baru resign dari kantor pertama yang hanya bertahan 3 bulan saja, mengisi waktu selama jobless-saya tetap aktif ikut kumpul teman-teman komunitas, karena bidang pekerjaan kami sama. Masih ‘buta’ dengan dunia kerja di İbukota. Oh ya, saya punya nama panggilan khusus diantara teman teman komunitas ini.

Selang berapa lama, saya dapat tawaran kerja di percetakan, menggantikan karyawan bagian desainnya yang resign, karena butuh cepat, saya ditawarkan oleh seorang teman yang kebetulan bekerja disana sebagai staf administrasinya. Di pekerjaan kedua ini juga sebenarnya tidak lama, saya kurang nyaman dengan lingkungannya dan juga si teman yang menawari pekerjaan, sedikit ada konflik ujungnya, kemudian memilih resign (lagi) ditambah ada karyawan pria yang gencar melakukan PDKT, dan saya tahu dia sudah beristri, Ujian apapula ini, sampai akhirnya saya meminta sepupu saya buat berpura-pura sebagai ‘pacar’ ketika dia terus menerus mengganggu dengan telponnya, aktingnya lumayan keren, bentakan, marah-marahnya sebagai ‘pacar’ yang merasa terganggu, meladeni telpon si teman kerja yang gigih melakukan PDKT hahahah sesudahnya kami tertawa bersama setelah sukses ‘ngeprank’ si mantan teman kerja ini. Keluarlah saya dari lingkungan kerja toxic.

Kemudian, saya kembali memasukan berbagai lamaran kerja kembali, lebih baik usaha lewat tangan sendiri daripada menggunakan ‘orang dalem’ harga diri saya terusik–ciee–ya sedikit sok idealis gitu, karena merasa kalau jalur orang dalam seperti kerja di percetakan itu, saya merasa kemampuan saya sebenarnya tidak dihargai. Karena bidang saya desain grafis. İya ini alasan utamanya.

Tidak lama, panggilan kerja datang kembali, saya keterima disebuah kantor desain pakaian, masa kontrak 3 bulan sebelum jadi karyawan tetap, oh ya saya cuma sanggup 3 bulan dan tidak berminat melanjutkan hahahha, alasannya lagi-lagi senior desainer yang saya gambarkan terlalu sadis dan penjilat atasan. Ah lagi lagi ketemu lingkungan toxic. Padahal saya dapat tawaran jadi karyawan tetap, entahlah kurang sreg aja. Santai banget gitu ya dulu.

Kemudian nganggur lagi, sebulan, ikhtiar kembali memasukkan lamaran kerja, bermodal info loker dari koran kompas. Selama masa nganggur, saya sempat bantu-bantu sepupu yang punya percetakan kecil di kampung, ya daripada bosan di rumah. karena saya sudah selesai kuliah dan sempat kerja, rasanya malu kalau kebutuhan harian minta kembali ke orangtua, gaji terakhir, saya cukup-cukupkan, sambil berafirmasi positif ke diri sendiri, bulan depan ada gaji baru. Tidak lupa selama masa nganggur itu selain ningkatin skill-dengan bantuin sepupu— saya juga rutinkan amalan-amalan, khususnya solat sunah Dhuha. Bismillah.

Rezeki itu jalannya ada sendiri

Saya ingat sekali, uang terakhir saya kurang dari 100 ribu, kemudian ada panggilan lewat telpon di toko si emak, saya dapat panggilan interview kerja kembali, jadwalnya keesokan hari. Bismillah, sebelum berangkat saya minta doa si emak, terus beliau maksa menyelipkan tambahan uang transport dua puluh ribu, katanya takut saya nyasar waktu cari alamat, kemudian butuh ongkos lagi.

Selama interview ada 3 kandidat, semuanya pria, saya perempuan sendiri, langsung tes karya, kebetulan waktu itu bos-nya sedang ada di kantor, beliau yang mengujinya langsung, test-nya cuma minta desain baju, seragam untuk SPG atau promo poduk seperti itu. Kebetulan ditempat kerja terakhir saya mengerjakan pekerjaan yang terkait, test bisa saya lalui dengan mudah, menyisihkan 3 kandidat lainnya, si Bos yang sama – sama perempuan-karena dua desainer lainnya laki-laki:D tertarik dengan karya desain saya, langsung dipanggil ke ruangannya. Beliau bertanya, kapan saya siap masuk kantor? Alhamdulilah lancar.

Kantor itu menjadi kantor terakhir saya, dengan lingkungan yang lebih baik, bahkan saya sempat disidang si Bos karena pilih resign untuk menikah hahaha, nah selama bekerja ini saya punya banyak cerita, terkait alur rezeki, ya rezeki lewat pekerjaan bukan hanya tentang nominal gaji saja.

Mantan Bos saya ini, seorang perempuan keturunan tionghoa tangguh, beliau memulai usahanya dari bangku kuliah, sampai akhirnya sebesar saat ini, selain perusahaan desain, beliau membuka bisnis lain mendirikan rumah produksi, berbekal jaringan bisnisnya, banyak TVC yang diproduksi PH ini, jujur saya salut dengan perkembangannya, sekarang lokasi kantor juga sudah dipindahkan ke area Jakarta timur. Semasa bekerja dengan beliau, saya banyak dapat ilmu baru dan juga kebaikan-kebaikannya, saya pernah diajak ke Bandung, hanya untuk mempelajari desain bordir dari ahli-nya di Bandung, kemudian saya memutuskan menghabiskan akhir pekan di Bandung, janjian dengan teman lama dan menginap di rumahnya, tidak ikut pulang ke Jakarta, Bu bos ini baik hati sekali, saya diberi uang khusus untuk menikmati Bandung, duhai rezeki, katanya buat saya jajan selama di Bandung.

Di lain waktu, saya lembur. İtupun menggantikan senior desain yang pekerjaannya belum selesai, mengejar even klien, deadline di depan mata. Saya hanya meneruskan pekerjaannya, lagi-lagi si bu bos memberikan saya uang lembur cash, jumlahnya alhamdulilah. Padahal saya cuma menunggu print-an dan mengoperasikan PC dari meja si senior saja, ya memang Print-nya khusus, bukan print kertas ya:D malah selama menunggu print-an saya sambi berselancar internet, asyik chatting dengan teman, daripada jenuh sendirian di ruangan. Sampai jam 12 malam, kebetulan kost di belakang kantor, jadi ga takut juga pulang sendiri. İtupun sudah dibelikan makan malam dari restoran terdekat plus oleh oleh dari luar kota.

Matematika Allah itu luar biasa kok. Rezeki juga tidak selalu berbentuk uang. Bayangkan ketika jam-jam pulang kantor, naik busway di halte seberang kantor yang bisa dipastikan penuh, kebetulan saya ada janji bertemu salah seorang kawan di pasar senin. Jarak lumayan jauh, begitu masuk selang satu halte, ada yang berdiri dan saya dipersilahkan duduk, itu rasanya gimana? serasa menang miss universe ya hahahha untung ga pake gaya kiss bye- ke penonton, yang ada saya dipelototi penumpang lain. Ah rezeki bisa duduk dan ga berdesak-desakan.

Kemudian ketika menikah?

Mendapatkan nafkah resmi dari suami pertamakali? masha allah rasanya, saya ingat sekali. Gaji pertamanya kurang dari 1000 lira, dia baru keterima kerja kembali selepas menikah. Biar kecil tapi berkah. Pekerjaannya waktu itu di Pabrik. Kemudian tidak lama dia daftar CPNS dan dapat panggilan ke İstanbul, sebagai istri yang selalu berusaha positif, dan dengan perencanaan matang juga sebenarnya, karena suami juga udah daftar kuliah lagi, ayolah kesempatan tidak datang dua kali kalau belum dicoba, keluar lagi dia dari pekerjaannya, atas hasutan istri hahah duh saya tuh gitu. Allah mencukupkan rezeki kita selepas menikah terbuka kembali jalannya. Hingga sampai dititik sekarang ini.

Turki inflasi dan dampak ke kita?

Turki memasuki masa-masa sulit, inflasi tinggi, ditambah kehajar pandemi, Banyak sektor usaha mengalami krisis dan menuju bankrut, harga minyak sayur aja naik dua kali lipat, dan harga kebutuhan pokok lainnya. Mau tidak mau kita mengencangkan ikat pinggang. Banyak pengeluaran yang harus diperhitungkan matang, kenaikan pajak yang menggila. Awal tahun memang PNS ada kenaikan gaji tapi cuma 4 % saja, kabar lainnya biaya sewa apartemen dinas naik 100 lira, langsung dipotong dari gaji suami, nah angka 4 % ini cuma numpang lewat saja sebenarnya, beberapa teman juga mengeluhkan kenaikan listrik, gas,air. Apalagi musim dingin, ketika kebutuhan gas dan listrik vital sekali. Pajak juga tinggi, kebutuhan pokok naik semua.

Haruskah saya juga mengeluh? keluhan saya tidak seberat teman-teman di perkotaan, meski terasing di gunung dan biaya sewa naik–suami sebenarnya protes juga sik hahah, karena ngerasa lokasi tinggal juga terpencil kok ya dinaikin pula- tapi kami masih diuntungkan dapat fasilitas penghangat ruangan gratis, tidak menggunakan gas, biaya tagihan gas akan tinggi ketika musim dingin seperti sekarang, dulu di İstanbul, tagihan gas berkisar normalnya 500-600 lira per bulan, ini belum biaya lainnya. Gas untuk masak saja kami bayar terpisah, karena jalur nya beda. Tagihan bulan ini 40 lira saja. Masih ada sisi rasa syukurnya. Karena tidak mengeluarkan ratusan lira untuk tagihan gas.

Untuk kebutuhan lainnya, ya seperti makanan? karena tekadnya 2021 hidup lebih baik dan sehat, rasanya tidak terlalu berat untuk mengurangi makanan yang digoreng, saya juga mulai mengurangi konsumsi nasi putih. Pos makanan kita prioritaskan ke makanan sehat, beli kebutuhan vitamin untuk daya tahan tubuh dan konsumsi sayur dan buah yang kami tingkatkan. Stok sayur buah harus aman, sebab kesehatan ini berharga sekali, berjuang untuk tetap bugar selama masa-masa pandemi.

Saya sempat chat juga dengan salah satu teman lama di Turki, ya biasalah keluhan emak-emak tentang dunia dapur, bagaimana menghadapi krisis gini, kondisi negara seperti ini? Jawaban dia simpel saja sebenarnya: Rezeki kita ga ada urusannya sama negara, Rezeki itu Allah yang ngatur! Jlebb. Saya kok serasa tertampar ya, karena ketakutan -ketakutan menghadapi krisis, inflasi, takut ga bisa makan? karena keluhan harga harga semakin naik. ya kalau manusia yang hanya mengandalkan logika, berbusa-busa membahasnya dari sisi ekonomi, sebagai manusia beragama, seakan kok peran Allah dilupakan, Siapa sebenarnya yang memberikan rezeki kita? Mau krisis seperti apa, ruwetnya kehidupan seperti apa, rezeki tetap mengalir ke orang yang diberikanNya kok. Kecuali satu? Kematian. İtu saja. Hanya kematian yang memutus jatah rezeki kita di dunia. Jatahnya habis. Bukan perkara krisis yang diciptakan manusia saja.

Keluhan serba naik tapi masih bisa makan enak, ada tempat berteduh udah alhamdulilah saja, hanya perlu mengatur pos-pos keuangan lainnya, apa yang harus dikurangi, terutama kebutuhan-kebutuhan yang hanya memenuhi ego saja, karena toh selama musim dingin aktifitas keluar rumah juga terbatas, semisal masih ada koleksi baju musim dingin tahun tahun sebelumnya dan masih layak pakai, kenapa harus memaksakan belanja beli baru? Ya krisis juga bisa jadi ajang introspeksi buat kita, untuk menghargai sesuatu, seperti seringnya membuang-buang makanan misalkan, jadi bisa mengatur porsi makan lebih baik, Biasanya jalan-jalan, ada pandemi? waktu berkualitas lebih banyak dengan keluarga.

Tadinya saya mau ngeluh banyak sih tentang harga -harga naik, tapi dipikir-pikir, yang ngerasain bukan saya saja, ada yang lebih berat, ketika kehilangan pekerjaan dimasa pandemi, tetap berusaha keras menyambung hidupnya. Setiap orang punya kesulitan hidup masing-masing. Saya masih ada tempat tinggal dengan penghangat ruangan, ada sandang pangan tercukupi. Tinggal mengatur saja dalam bentuk hemat, tidak berlebihan dalam konsumsi makanan, agar tidak ada makanan sisa.

Saya teriak-teriak juga tidak berefek besar, ya mungkin menggantungkan harapan dalam doa-doa, semoga krisis bisa terlewati dan ada orang-orang amanah yang berjuang dalam masa masa ini, bantu doa saja, sebagai rakyat biasa. Ya masalahnya berdebat dan menulis status panjang lebar juga, ga serta merta harga bahan pokok turun, cuma menumpahkah energi negatif saja. Tidak punya ‘power’ mengatur kebijakan ekonomi sebuah negara paling cuma bisa jadi komentator saja. Jadi teringat lagi kata-kata si teman: Yang ngatur rezeki kamu bukan negara, tapi Allah…., ehm ada yang setuju?