Hampir semua media online dan sosial media masih membahas virus corona, Covid19, Kebanyakan baca berita tentang wabah ini, jujur saja sedikit membuat cemas, saya berusaha mengurangi interaksi di sosial media, buka internet peralihannya ke Netflix, lalu foto-foto halaman belakang komplek, untuk mengalihkan kecemasan. Apalagi baca berita dari tanah air, inget si emak dan bapak. Semoga sehat-sehat semua.

Perkembangan terakhir di Turki, angka penyebaran Corona mulai meningkat, sementara ini untuk bepergian ke luar daerah harus ada izin dari pihak yang berwenang, pelintas batas tiap daerah di cek suhu tubuh,dan berbagai tindakan pencegahan semakin diperketat. Dan selama wabah corona ini, kamipun kesulitan untuk masuk ke pusat kota, ditambah anjuran, anak-anak dilarang diajak ke pasar atau supermarket. Praktis untuk membeli keperluan rumah tangga semua dihandle suami sang kepala keluarga. Ya paling hiburan saya bermain diladang gandum area belakang komplek.

Saya juga sempat nonton video tentang Spanish Flu 1918, ditahun 1918 dimana mobilitas manusianya tidak seperti saat ini, spanis flu mencatat angka kematian 50 juta jiwa diseluruh dunia, inipun datanya saya pikir masih banyak yang tidak tercatat, apalagi İndonesia saat itu belum menjadi sebuah negara kesatuan, penyebaran spanish Flu di Hindia belanda juga cukup luas, banyak memakan korban jiwa, sedang sensus penduduk Hindia-Belanda baru dimulai tahun 1920-an.

Tahun 2020 dibuka dengan awal yang berat, Pandemic Flu. Baca berbagai kisah perjuangan selama terjadinya wabah, banyak juga kisa mengharukan tentang kemanusiaan, tidak ada sekat. Semua berjuang bersama, Awalnya saya punya ketakutan akan terjadi perang di perbatasan Turki, ternyata Perang dunia benar-benar terjadi, Perang melawan Wabah Corona yang sudah memakan banyak korban jiwa. Perang melawan ‘The invisible’ covid19 dengan pasukan Paramedis hampir diseluruh dunia. Ya kita hidup dalam sejarah yang terulang 100 tahun lalu. Tapi saya berdoa dan berdoa semoga korbanya tidak sebanyak Spanish Flu yang juga di juluki’‘ the mother of pandemic Flu”

Masa karantina

Kegiatan sehari-hari di Komplek, Ya dirumah aja. Kebetulan jam kerja suami juga dilonggarkan, tidak semua staf masuk kantor secara bersamaan, sistem shif mulai diperlakukan, ada satu gedung dibuat untuk masa karantina 14 hari, bagi warga binaan yang izin keluar, atau baru datang dari kota lain. Dipisahkan dulu. Mengingat sudah ada kasus Corona di Lapas Sincan Ankara.

Ya bicara Lapas, saya jadi teringat WA suami pas dia sedang masuk Shif kerja 24 jam, mengirimkan sebuah foto. Sosok wanita İndonesia dengan dua anak laki-laki perpaduan İndonesia Turki, Dia menanyakan, apakah saya kenal teman WNİ yang difoto tersebut? berasal dari kalimantan dan tinggal di İstanbul. Wah dengan banyaknya WNİ sekarang, saya tidak kenal, sempat juga saya tanya ke teman di istanbul, kebetulan sudah menetap di Turki dari akhir tahun 90-an. Beliaupun tidak mengenal sosok ini. Tidak semua WNİ tercatat di KBRi saya pikir, apalagi mendengar cerita suami, jika wanita ini masuk Turki secara ilegal awalnya. Jadi hubunganya apa? Anak remaja dari wanita İndonesia ini jadi tahanan! untuk kasusnya antara: narkoba-Pencurian-atau tindak kekerasan- Dia kiriman dari İstanbul yang dibina di Pluto. Kebetulan pas Suami jaga, mereka sempat ngobrol dan si remaja ini menyodorkan foto ibunya yang dia bawa. Sayangnya foto lama. Entah maksudnya apa, si anak remaja ini kesenengan tahu ada yang senegara dengan ibunya, ya tapi jangan pas berkasus gini napa kalau mau ngenalin-.-‘ , Untuk komunikasi? dia sama sekali tidak bisa bahasa İndonesia dan belum pernah mengunjungi İndonesia. Status kewarganegaraan İbunya, sejauh ini saya kurang tahu, apa sudah menjadi warga negara Turki. Apa masih tidak jelas?

Ternyata berat ya mendidik anak di Turki, iya sama aja, pergaulan kota besar, kalau suami nebaknya ini anak sepertinya kasus narkoba. Karena untuk detail kasusnya biasa tidak dijelaskan, hanya urusan di pengadilan antara dia dan pengacaranya, tidak semua pekerja tahu kasus perkasus penghuni. Hanya klasifikasi kasus hukumnya saja dijelaskan.

Apa yang ingin dilakukan jika wabah ini berakhir?

Saya ingin melihat laut, tinggal di daerah gunung jadi kangen melihat birunya lautan

di gunung malah kangen laut

Saat ini sebisa mungkin menahan diri, ya dirumah aja, produktif dari rumah, tapi malah posting Blog tersendat heheh, apalagi kami berempat ya dirumah aja, saya bolak balik ke dapur kayak setrikaan, karena ada aja teriakan si Alya: anne..accccimmm..., padahal dia baru selesai makan, itu cara Alya saja bangunin saya agar tidak tidur siang.

Tinggal di gunung gini kan aman?

Belum tentu juga, saya melihat di berita lokal, ada beberapa desa yang harus di karantina karena penyebaran corona, bisa jadi penyebaran dari pendatang ke desa tersebut, di awal-awal, Turki juga sama saja, banyak warganya yang bandel, sampai akhirnya sekarang diberi ketegasan untuk bepergian ke luar daerah harus dapat izin. Di provinsi saya tinggal ada 18 kasus dan sudah ada yang meninggal. Jadilah semakin menjaga jarak agar tidak bepergian ke pusat kota, memantau Kedua mertua saja lewat telpon, mereka sudah dilarang bepergian ke luar, karena ada aturan usia 65 tahun keatas dilarang ke luar rumah, Mertua saya usia 75 tahun. Kami pun tidak berani mengunjungi demi kesehatan mereka. Ya semoga wabah ini segera berlalu, sedih rasanya apalagi sebagai muslim akan menyambut bulan suci Ramadan sebentar lagi, apa rasanya masjid dan surau sepi-.-‘

Teman teman bagaimana melewati masa-masa karantina diri di rumah, semoga sehat sehat semuanya.