Bulan lalu penurunan nilai tukar lira Turki terhadap dollar memang merosot tajam, karena saya bukan ahli ekonomi, bukan kapasitas saya membahas lebih jauh. Bahas dari ‘pintu dapur’ saja.

Apa semengerikan berita di media tentang terpuruknya ekonomi Turki?

Krisis Turki?  Harga-harga kebutuhan pokok memang mulai merambat naik. Naik sekitar 2 sampai 3 lira, kebutuhan diaper anak ke-dua saya, beli merk lokal yang kualitasnya bagus, biasanya harga sekitar 18 lira, terakhir beli dua hari lalu sudah naik menjadi 21 lira.

beli roti murah digerai milik pemerintah lokal

Ekmek (roti somon) harga di market , sebelumnya  berkisar 75 krs-1 lira, naik jadi 1.15 lira, tapi pemerintah punya perusahaan roti nasional yang disubsidi, beli roti di gerai milik pemerintah harga masih 75 krs.
İndomie dulu berkisar 1 lira naik menjadi 1.25 lira, naik sedikit (indomie punya pabrik sendiri di Turki) Sebenarnya untuk kebutuhan pokok tidak terasa dampak besarnya, kecuali di barang elektronik, karena nilai tukar lira yang jatuh atau  makanan import semacam bihun sepaket sekarang sudah seharga 16 lira, saos sriracha dari 8 lira menjadi 22 lira, Produk pangan import yang terasa sekali kenaikan harganya berlipat-lipat

Kebutuhan sayur dan buah?

Di pasar tradisional, harga masih terbilang wajar, kecuali untuk buah import, memang terasa kenaikan harga. Tapi ingat! Turki  itu untuk urusan pangan bisa dibilang mandiri, tidak banyak mengandalkan import dari luar negeri, justru meng-ekspor ke luar negeri, seperti buah-buahan, gandum. Biasanya yang mengincar sayur dan buah import itu ya umumnya orang asing, seperti saya: nyari sayuran tropis:) saos pedas, jadi berasa sekali  dampak penurunan lira, beli buah nanas yang sebelumnya per buah 6-7 lira, terakhir harga saya cek sudah 17 lira, jadi berpikir ulang untuk beli.
Hari raya idul adha  bulan lalu bersamaan dengan merosotnya nilai tukar lira, apa antusiasme masyarakat muslim Turki berkurang untuk berkurban sapi? Ternyata Tidak, Apalagi penduduk di daerah -daerah yang kehidupan ekonominya ditopang pertanian, peternakan.  Antusiasme berkurban tetap besar meski sempat diterpa isu penyebaran antrax dari sapi-sapi import.
Orang Turki yang bermukim di kota-kota besar, selalu menjadikan moment hari raya idul adha untuk pulang kampung, sekalian panen, Pulang lagi ke kota membawa hasil panen dan berbagai kebutuhan pokok lainnya untuk stok makanan di musim dingin, Pemandangan seperti ini sudah biasa di arus mudik lebaran idul adha di Turki, bahkan sering di liput media lokal.
Banyak yang mengandalkan hasil bumi, contoh yang nyata bukan hoax:)
Mertua saya yang berprofesi sebagai petani.

  1. Sayur dan buah, 70 persen mengandalkan dari kebun sendiri.
  2.  Keju, mentega,yoghurt,susu segar di olah dari ternak sendiri
  3.  Terigu, dhasil dari  ladang gandum sendiri
  4.  saos salca, mengolah dari kebun tomatnya
  5.  selai buah plum dari pohon plum disamping rumahnya yang lebat, buahnya dia olah jadi selai
  6.  daun anggur untuk sarma, pekmez (molases)
  7.  telor, dari ternak ayam kampungnya, dijamin organik
  8.  roti lavas, dia buat sendiri.

Kebutuhan lainnya seperti sabun, minyak dll baru beli di market, beli langsung ukuran besar dan awet berbulan bulan. Ketika berbagai media ‘heboh’ membahas dampak penurunan lira, terutama mereka yang hidup di kota besar, orang desa..slowwww. Kehidupan berjalan biasa aja.
Untuk mensiasati kebutuhan makanan di musim dingin, İbu-ibu Turki begitu piawai membuat stok cadangan makanan. sayuran  musim panas, biasa mereka keringkan, sebagian dibuat Tursu / acar, salca, daun anggur untuk stok sarma. Memasuki musim gugur, pemandangan ibu-ibu yang belanja stok tomat berkilo-kilo menjadi hal biasa, karena tomat tidak tumbuh di musim dingin, mereka akan mengolah tomat menjadi pasta dll.

Presiden Turki menyerukan rakyatnya untuk membeli produk lokal.

Produk elektronik lokal Turki banyak yang sudah berstandar eropa, jadi bukan sesuatu yang berat untuk beralih, (tapi semoga si bapak presiden juga sudah beralih ke merk smartphone lokal, karena terakhir pernah disorot media, beliau penyuka merk apel digigit itu.)
Produk elektronik rumah tangga seperti mesin cuci, kulkas, diswasher, vacuum cleaner dsb, Beberapa merk smartphone lokal pun sudah bisa bersaing. Tapi sayangnya untuk jenis kamera belum ada produk lokal yang bersaing, lonjakan harga kamera terbaru, mengikuti harga dollar, lumayan menguras kantong. Pajak yang berkali lipat juga menjadi alasan barang import semakin meroket.

Liburan ke Turki menjadi lebih murah

liburan disaat lira turki turun

Dengan kurs lira saat ini, bisa jadi kesempatan yang menarik juga bagi wisatawan mancanegara untuk liburan ke Turki, apalagi musim dingin tahun ini di prediksi akan jauh lebih dingin dari tahun sebelumnya.
Ya untuk teman teman yang tertarik liburan musim dingin, bisa menjadikan Turki sebagai pilihan. Banyak resort sky sekitar İstanbul yang tak kalah cantik, seperti uludağ, kartepe di Bolu, atau pesona erciyes maupun provinsi Erzurum Turki yang terkenal sebagai daerah terdingin.
İstanbul dengan pemandangan musim dingin juga sangat cantik, untuk penggemar fotografi banyak objek cantik bertebaran di pusat kota tua nya.
Saya merasa kehidupan sehari hari masih berjalan normal, ingat dengan percakapan bareng beberapa teman disini, sebagai orang asing, jujur kita memang dibuat galau dengan penurunan lira, sampai ada yang berpikir seperti kasus krisis 98 di indonesia, apa kira-kira bakal banyak yang menyerbu market dan membeli stok makanan?
Baca: Tips untuk traveller istanbul
Lokasi makam guru muhamad al fatih
Bilecik kota kecil dengan sejarah besar
menikmati spa ala Turki
Datang ke market, biasa aja ga ada kehebohan. Kualitas barang barang lokal tetap terbaik, mulai dari peralatan dapur, percayalah brand Turki itu cantik cantik desainnya terutama penyuka shabby chic. Furniture. fashion kerudung Turki. Seperti Brand besar KARACA turki yang sudah masuk pasar İndonesia. Banyak dari teman teman perantau di Turki yang secara tidak langsung membantu perekonomian negara ini, salah satunya dengan banyak meng eksport produk produk  buatan Turki ke negara masing-masing, jangan heran kalau sekarang trend hijab Turki pun melanda indonesia.
Dengan kurs lira yang di satu sisi bagi orang Turki, jadi terasa berat untuk membeli barang import, atau merencanakan liburan, misal ke indonesia:) tapi disisi lain bisa jadi menguntungkan bagi para traveller yang berencana liburan ke Turki, ketika lira sedang turun. Liburan jadi terasa lebih murah.
Saya masih optimis, Turki tetap bisa bertahan, kekuatan ekonomi lokal bisa menjadi benteng kuat negara ini.