Kesedihan lebih cenderung dengan kata perpisahan, kehilangan seseorang yang disayang. Tahun 2013 akhir. Saya mendapat kabar duka, disuatu pagi ketika sedang menyiapkan sarapan perasaan ga enak datang menghampiri, kemudian buka sosial media. Baca status yang diposting sepupu, menulis tentang kondisi keponakan yang sedang kritis. Loh ada apa!! buru-buru tanya Bapak, tanya siapa aja yang bisa dihubungi, kemudian Bapak jawab telpon saya dan mengabarkan kondisi sebenarnya. Keponakan sesayangan saya Wafat! seketika kedua kaki saya langsung lemas mendapat kabar mendadak kematian keponakan. Padahal saya baru mau memberi kejutan, kalau lebaran nanti akan mudik, justru dia memberi kejutan luar biasa membuat saya sedih dengan kepergiannya yang tiba-tiba.

Sedih tentu saja! Saya sudah menjadwalkan kepulangan saya dari Turki. Keponakan tidak sabar ingin bertemu adik sepupunya (Fatih yang saat itu masih bayi) Selalu bertanya setiap video call atau chat, ”kapan anteu (panggilan buat saya spesial) mau pulang?” selalu bertanya hal sama terus menerus, sampai Bapak juga cerita, Beberapa hari sebelum kematiannya, Keponakan ini pernah minta sama Bapak buat anterin dia ke Turki ”pengen ketemu anteu, anterin paaa” minta sama Bapak. Kata si Bapak, kalau Turki dekat udah dianterin pakai mobilnya, menjelaskan ke dia kalau ke Turki, harus naik pesawat, dan punya pasport dulu. Si keponakan hanya mengangguk ‘‘ jauh ya pak” tanyanya ulang. ‘‘ kalau dekat udah bapak anter Ka”. Percakapan si Bapak yang beliau ceritakan ulang membuat saya berkaca-kaca. Sesedih itu. Seperti firasat dia yang merasa tidak akan bertemu saya selama-lamanya.

Firasat dan salam perpisahan

2013, Bapak saya baru beli Mobil baru. Waktu itu keponakan sempat nyeletuk, ” wah entar mobilnya sempit kalau nganterin cika”. Si Bapak malah tertawa, ” ini mobil gede gini masa sempit cuma nganterin kamu” ternyata omongan dia terbukti, ketika mau mengantar ke pekuburan karena hari hujan rintik-rintik, jenazahnya dibawa pakai mobil si Bapak, dan menjadi sempit karena banyak yan ikut masuk.

Setia versi Bapak, setia sama mobil kesayangan

Pulang mudik pertama kalinya ke İndonesia, saya sudah niat membawa banyak oleh-oleh untuk keponakan kesayangan, semua tidak terlaksana, syukurnya pernah kirim paket titip teman mudik, hadiah untuk dia, setahun sebelumnya. Saya hanya menemukan Pusaranya, datang untuk Ziarah kubur, mendoakan dia sambil mengenalkan Fatih, adik sepupu yang hanya sempat dia lihat foto dan videonya saja.

foto kenangan keponakan

Firasat dan Kematian

Cika Namanya, Usianya baru menginjak 9 tahun ketika wafat, masa-masa singkat di hidupnya di isi penuh keceriaan, sebagai cucu pertama, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan si Emak. Neneknya. Karena kakak saya bekerja dan si emak sendiri ingin mengasuh cucunya, kedekatan dengan kakek neneknya luar biasa, begitu juga dengan saya sebagai tantenya, Dulu setiap tanggal gajian, selalu ada Cika yang menanti oleh-oleh. Tiap weekend saya pulang ke rumah dari kost di Jakarta, sekadar jajanan saja senangnya bukan main, dia anak ceria penghidup suasana.

Beberapa kali memang saya sering menulis kisah si keponakan ini dalam Blog, karena memang kehadiran dan kepergian dia meninggalkan jejak kenangan dalam hidup saya, Kepergiannya yang tiba-tiba disaat kakak saya sedang menghadapi ujian rumah tangga, menghadapi sidang perceraian. Anak semata wayangnya dipanggil Allah SWT. Dia sayang İbu-ayahnya tapi tahu juga ayahnya seperti apa ke İbunya, ketika ditanya harus memilih. Guru ngajinya yang kebetulan tetangga rumah bertanya ke Dia: ” Cika ga mau harus memilih ibu atau Ayah, kalau gitu Cika aja yang pergi dari mereka” jawaban yang dia berikan ke Guru ngajinya beberapa saat sebelum waktu kematiannya tiba, sepulang mengaji siang.

Dia wafat sepulang mengaji, entah kenapa tidak lewat jalan biasa, malah berputar ke arah lain dan melewati sebuah pohon yang ada sarang tawon-nya. Sebelumnya ada gerombolan anak iseng yang melempar sarang tersebut dengan batu kemudian lari, keponakan saya lewat dan hanya dia yang diserang dikepalanya. Sedih, remuk hati keluarga, mencoba mengobati tapi ketika azal mendekat dia sendiri yang menolak pengobatan darurat, dia pergi ketika dalam perjalanan ke UGD.

Bagaimana perasaan kakak saya sebagai ibunya, kehilangan anak semata wayang, kalau saya pasti hancur sekali, Kakak saya tipikal perempuan kuat, ujian hidup datang bertubi-tubi, kesabarannya luar biasa,Titipan Allah diambil kembali tapi kami selalu yakin, Dia bahagia di alam sana, menunggu İbunya nanti untuk berkumpul kembali. Saya hanya sebagai tantenya saja merasa begitu kehilangan dan selalu terkenang…, Akhir tahun selalu menjadi kenangan menyedihkan jika mengingatnya, hanya satu usaha kami, tak henti selalu mengirim Doa untuknya.