Setiap mendekati tanggal 17 agustus, yang diingat bagian meramaikan agustusan kemudian ikut game 17 agustus, ikut berbagai lomba yang diadakan pak RT. Kalau bagian upacara bendera? Saya kebanyakan bolosnya..uppss. İngat sekali waktu SD, Saya paling malas kalau ada upacara  17 agustus, waktu itu kelas 5 SD, saya pernah jadi provokator (bakat yang jelek ya buu) ngajak anak sekelas untuk bolos upacara bendera 17 agustusan di sekolah. Hanya ada beberapa murid saja yang tidak terhasud dan tetap datang ke sekolah untuk upacara bendera.
Nah karena saya gak ikutan upacara di sekolah, Saya datang ke lokasi lomba agustusan di dekat rumah, nongkrong dari pagi, Entah kenapa acara lomba agustusan lebih menarik buat saya dibanding upacara bendera di sekolah. Beberapa lomba saya ikuti,  mulai dari lomba balap kelereng, balap karung, makan krupuk. Meski ga semuanya saya keluar jadi juara 1. Yang penting keseruannya. Terus apa kabar upacara bendera di sekolah?
 
Esoknya, saya berangkat ke sekolah seperti biasa, pasang wajah polos. Lalu wali kelas menghampiri, menginterogasi, siapa aktris…ciee aktris..atau dalang di balik hampir sekelas bolos upacara agustusan di sekolah, semua teman kompak bilang kalau itu ulah saya yang ngajak bolos!  Ga ada pembelaan, lalu saya kena ceramah, dan pulang sekolah kena hukuman di jemur dekat tiang bendera, hampir semua teman satu kelas ngeledek. Malu? tetap aja muka lempeng! pulang ke rumah masih dapat PR menulis ” saya berjanji tidak akan nakal lagi di sekolah” lupa berapa lembar, lumayan pegal juga sih nulis banyak.
Hikmah dari hukuman 17 agustus, setiap kelas saya dapat giliran jadi petugas upacara, mesti disuruh jadi salah satu petugas, entahlah yang baca UUD, Doa,  Baca Pancasila, petugas pengibar bendera-kayaknya wali kelas sengaja banget– ‘kutandai kau provokator cilik’.
Kenangan lainnya Adalah: İkut kemping di kecamatan, ikut lomba gerak jalan. İni juga moment yang melekat buat saya, karena menjadi peserta lomba gerak jalan juga pilihan, kalau kemping di lapangan kecamatan. Apalagi kecamatan saya tinggal, lokasinya waktu itu masih daerah gunung. Ada sungai di belakang kecamatan, ikut kemping anak pramuka.,nyoba ngerasain mandi di sungai, yang awalnya girang beberapa saat kemudian jadi kehebohan ketika ada tokai lewat..ahhhh horor. Kebersihan sungai ternoda oleh ulah oknum yang mungkin kebelet buang air besar di pinggiran sungai.
Upacara 17 agustus bareng pak Camat itu menurut saya tidak menyenangkan. Upacara jadi lebih lama apalagi ada bagian pidato nya, kadang ada aja peserta yang jatuh pingsan, saking lama dan cuaca juga mulai panas.  Kenapa sih orang kalau pidato muter-muter, singkat padat jelas kan enak ya? hahah ini sih keluhan saya banget setiap ikutan upacara di masa-masa sekolah.
Kalau membahas tentang cerita masa-masa kemerdekaan, saya punya seorang bibi (adik dari almarhumah nenek saya) yang sampai detik ini saya nulis, insha allah masih sehat. Beliau ini paling suka bercerita tentang masa lalu nya, ingatannya terbilang masih tajam, dia masih ingat bagaimana sahabat dekatnya di tembak tentara jepang, ketika mereka sedang ada di ladang. Bahkan dia masih ingat anak tetangga (yang sekarang juga sudah almarhum-salah satu bapak dari teman saya) lahir di masa kemerdekaan, beliau selalu bercerita bagaimana ibu si anak ini bersembunyi bersamanya di sela sela pohon kiray demi menghindari tentara belanda.saksi hidup
Beliau juga masih ingat di masa-masa sulit bahkan memakai pakaian yang dijahit dari sisa karung goni. Duduk didekat si Bibi lalu mendengarkan segala cerita di masa kemerdekaan. Bagi si Bibi setiap bertemu orang asing adalah orang belanda hehe, lucu juga sebenarnya ketika awal memperkenalkan suami ke si Bibi .
” Sing hade ah eta urang balanda”. (hati-hati lah sama orang belanda)
” Lain bi, orang Turki”.  (Bukan bi, dia orang Turki)
”Aih tapi eta irungna sarua”. (tapi itu hidungnya sama-mancung maksudnya)
Begitu saya menikah,dan kebetulan datang teman kantor sama pacarnya yang kebetulan memang asli belanda. Si Bibi makin lah heboh
” Eta kos kompeni nyah, jangkung” (İtu kayak orang kompeni, tinggi)
” nyana, orang belanda bi”. si bibi kaget.  (dia emang asli belanda)
” oh pantes, inget bae kos  kompeni mawa bedil” (oh pantes jadi inget sama tentara kompeni bawa senjata).– pacar teman saya dibilang mirip tentara penjajah:D
Jadi si Bibi ini orangnya memang jarang interaksi dengan orang asing, beliau juga tertutup, hanya dekat dengan keluarga saja. Percaya atau tidak, terakhir dia bepergian jauh itu sekitar tahun 90an, saya ingat betul bapak saya ngajak dia ke daerah pandeglang. Mabuk darat! semenjak itu dia trauma naik kendaraan apapun. Naik mobil harus dipaksa kalau pas ngajak dia berobat ke dokter, itu pun masih daerah dekat rumah.
Setiap agustusan, si Bibi selalu mengingatkan untuk pasang bendera di depan rumah. Meski dia bukan pejuang kemerdekaan, tapi dia saksi hidup betapa beratnya masa penjajahan  dahulu.
Si Bibi salah satu orang yang tertua di kampung saya yang masih ada, hampir semua teman seumurannya sudah wafat, termasuk nenek saya tahun 2016 silam.
Sekarang! Moment agustusan di mata generasi penerus bangsa, bagaimana? Apa sekadar seremonial belaka. karena hari libur, tanggal merah, atau momentum banyak diskonan dari berbagai brand atau gerai makanan buat yang namanya: Agus?
Ah pernah ga sih merasakan lagi ‘feel’ dengan lagu kebangsaan mata kita berkaca-kaca.
Pernah ga sih tiba-tiba dengan lagu kebangsaan indonesia raya di jalan, lalu kita berhenti sejenak untuk mendengarkannya sambil memegang  dada. Bangga sebagai bangsa indonesia?
seperti cerita dari : İstiklal marsı lagu kebangsaan Turki
Saya pernah berguman: İri!
Ketika mendengarkan lagu kebangsaan di Bumi Ottoman ini, Nasionalisme yang tinggi,  menghargai simbol bangsa lalu saya membandingkan dengan foto viral yang ngaku-ngaku anak pecinta alam, naik gunung, bawa bendera merah putih, lalu di coret-coret dengan hal yang gak penting!  Duh sedih liatnya, harusnya kita sadar berapa banyak darah yang di korbankan demi merah putih. Perjuangan-perjuangan penuh darah dan air mata demi  kemerdekaan dan berdirinya negara besar bernama İndonesia!
Sekarang. Setiap moment agustusan semenjak saya memutuskan hidup di Luar tanah air, adalah hal yang mengingatkan tentang siapa jati diri saya. Bukan lomba agustusan, upacara bendera .
Tapi tentang menjadi orang İndonesia supaya tidak dianggap remeh di negeri yang saya tinggali!
Kita menjadi duta bangsa dengan jalan kita sendiri…
Ya dirgahayu tanah airku… Merdeka!