Categories
Cerita keluargapanda

Keluarga Turki yang penuh warna

Apa yang dirasakan semenjak menjadi bagian dari anggota keluarga Turki? sesuatu yang baru, syok kultur adalah hal umum dan biasa. Memasuki tahun ke-delapan, rasanya juga masih belum sepenuhnya adaftasi. Ya terutama soal makanan. Saya tetap konsisten hanya makan roti sesekali, tidak menjadikannya makanan pokok, syukur-syukur malah semakin mengurangi asupan karbo.

Tahun ini menjadi hari raya idul fitri pertama saya bersama keluarga besar suami di kota kelahirannya, sebelumnya setiap hari raya idul fitri lebih banyak dihabiskan di İstanbul bersama keluarga dari Kakak suami tertua.

Buka puasa pertama bareng ibu mertua. Bahkan disela menjelang waktu berbuka puasa, beliau masih saja melakukan pekerjaan rutinnya memerah susu sapi di kandang. Setiap menjelang maghrib, sapi-sapi yang dititipkan ke pengembala (cobancı) akan balik ke kandang, kemudian ibu mertua akan bersiap dengan baju khususnya, bawa dua ember untuk memerah susu sapi. Kegiatan ini tak berhenti selama Ramadan. Bahkan di hari lebaran ke-tiga, beliau sudah disibukan kembali dengan mesin untuk membuat mentega. Oh ya ibu mertua saya handal dalam urusan mengolah susu sapi perahannya: membuat yoghurt, keju, mentega, kemudian sebagian dia jual ke pasar atau menerima pesanan khusus. Uang hasil menjual keju sempat dia pakai untuk berangkat umrah 2 tahun silam.

Lelahnya membujuk Orangtua

Hampir setiap Hari raya atau keluarga berkumpul, ibu mertua selalu mengeluh tentang sakit, capek karena melakukan banyak pekerjaan di rumah. Anak menantu selalu meminta mereka untuk istirahat, apalagi usia sudah tua. Uang pensiunan mencukupi . untuk apalagi menyibukan diri menggarap ladang gandum, berkebun, dan pekerjaan lainnya. Setiap dibujuk untuk istirahat. Jawaban mereka berdua selalu sama: ”terus kami ngapain?” . Aneh kan. Diminta untuk menikmati hari tua saja tanpa harus capek-capek mereka tidak mau. Tapi setiap bertemu anak-menantu selalu mengeluh ini-itu yang melelahkan, dan ekpresi kami selalu sama: hmmmm….hanya mendengarkan saja,bahkan sampai kakak ipar ngancam akan menjual ladang gandum si baba, saking buntunya untuk meminta mereka istirahat, demi kesehatannya juga. Disini kadang saya emang mengakui betapa kerasnya karakter orang Turki. Ketika mereka mengeluh sakit, ya sakit yang mereka cari sendiri.

Padahal apa susahnya menikmati hari tua, fokus saja ibadah, jaga kesehatan, uang pensiunan juga ada. Kalaupun ingin tetap berkebun, 2 kebun di pekarangan rumah, rasanya cukup untuk tetap menyalurkan hobby, tanpa harus lelah menggarap ladang gandum. Tapi itulah mereka…tidak bisa diajak leha-leha. Kerja keras yang di hari tua yang membuat kuatir anak cucu.

Baca:mertua berkunjung ke rumah

Ketika Marah susahnya meminta maaf

Kadang hari raya waktunya bermaaf-maafan, tidak dijadikan moment bagi mereka yang sedang ‘bermusuhan’. Sekali tidak berbicara seakan putus hubungan. Ego atau emang karakter sudah seperti itu, harga diri disinggung, susah sekali memaafkan. Sering, dan bahkan melihat sendiri kondisi dalam kekerabatan keluarga Turki seperti ini. Memang ketika mereka menjaga hubungan baik, Baiknya masha allah, tapi ketika sudah bermusuhan-seakan jalan damai tertutup rapat. Saya sebagai orang luar sering mempertanyakan ke suami, kok gini amat? ” ya emang gitu” jawaban nggantung.

bermain di kebun rumah babaanne

Hari terakhir Ramadan dan cara menyambut Hari raya

Hari raya di Keluarga Turki juga berwarna. Warnanya biasa aja sebenarnya hehe, tidak seantusias Menyambut hari raya di İndonesia. Ketika buka puasa terakhir dan esoknya Hari raya, kebetulan buka puasa terakhir saya lakukan bareng mertua, di sela buka puasa, saya bercerita tentang antusiasnya muslim indonesia menjelang hari raya, ada malam takbir, pawai obor keliling, bahkan suara kembang api dan petasan dimana-mana, seakan berpesta. ujar saya. Lalu apa tanggapan suami:

kok aneh? kenapa mereka tidak bersedih ditinggalkan Ramadan, malah seakan menyambut tahun baru? ”-– ehm dalam hati: İya juga ya, bahkan hari-hari terakhir Ramadan jamaah tarawih makin mengecil shafnya, sibuk mudik atau belanja keperluan hari raya. Kecapean. Jadi ketika malam takbir, suasana syahdu cenderung sepi, sesekali suara di speaker masjid desa mengumandangkan solawat tapi bukan gema takbir. Untuk bacaan Takbir hanya terdengar di Masjid sebelum dan sesudah solat İdul fitri saja. Yah disini saya mulai beradaftasi. Apa yang saya rayakan? hari kemenangan atau kesedihan ditinggalkan Ramadan bulan yang penuh berkah, tahun depan belum jadi jaminan saya bertemu Ramadan kembali. Duh.

Baca:Tradisi musik hari raya di turki

Seiring usia, saya memaknai hari raya tidak lah seperti beberapa tahun sebelumnya, tidak ada kesibukan membuat kue dan hidangan khas lebaran, ya karena malas juga, apa tidak merindukan makanan khas hari raya ? sejauh ini masih terkendali, saya bukan penggemar makanan berkuah santan dan berlemak, bukan pecinta kue kering khas lebaran, rasanya ya biasa aja, asal hidangan lebaran khas kampung kecuali dodol. saya akan tetap merindukannya. Semacam rengginang di kaleng khong guan, opak. ok. Belanja hari raya? alhamdulilah sebelum hari raya dapat rezeki di traktir baba mertua, ya sudah beli baju buat anak-anak, menantunya juga kebagian. Suami bahkan tidak membeli baju baru khusus hari raya, memakai yang ada saja , yang masih bagus. Tidak ada kue lebaran. Fokus kami silaturahmi saja, berkumpul bareng keluarga. 3 hari menginap di rumah mertua, sehari di rumah kakak ipar ketiga. Kemudian pulang kembali ke lojman, ternyata warga komplek belum sepenuhnya kembali dari liburan hari raya. Sepi. Sementara memantau saja keramaian suasana hari raya di sosial media. Tetap indah dan terasa.

12 replies on “Keluarga Turki yang penuh warna”

udah macam kaset jadul ya di ulang2 antara side A dan side B…dikasih solusi ya ga mau..ya udah dengerin aja..tiap ketemu ngomong ngeluh mulu heheh disuruh istirahat ga mau, alo capek..beliau tşduran bentar..ga lama udah ngilang lagi entah kemana:D

Mbak mohon maaf lahir batin dari Indonesia. Seru baca postingan mbak tentang kehidupan di Turki. Iya bener, kalo ditinggal Ramadan mah harusnya sedih ya, tapi di negara kita malah dirayain pake takbir keliling hihi…..

Masuk akal juga sih. Harusnya kita sedih ditinggal bulan Ramadan. Yg ada malah sibuk mudik, belanja2, terima THR #eh dan lupa esensi ibadahnya ya. Org tua ngeluh itu biasa, mrk cuma minta diperhatiin dan didengar. Lbh bagus tua tp produktif sih krn kalau tubuh ga ngapa2in malah sering sakit..btw mohon maaf lahir batin ya mba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *