Keluarga besar saya datang dari Banten, Setiap tahun selalu ada kunjungan ke tanah leluhur, biasanya seminggu setelah hari raya, Mengunjungi kampung kelahiran Kakek, yang paling saya suka setiap berkunjung ke kampung halaman kakek, adalah mengunjungi rumah-rumah panggung yang masih dipertahankan. Datang dari keluarga besar, nenek saya melahirkan 15 anak, namun wafat 4, kemudian bertahan 11, sekarang tinggal 8 bersaudara. Jangan bayangkan bagaimana mengasuh 15 anak seorang diri, Dulu kakek jadi kades, beliau juga berbisnis, banyak pekerja di rumah, kalau minjem istilah film İndia: Tuan tanah hehe. Sedang Keluarga dari Bapak saya? jangankan saya, si emak juga belum pernah bertemu kedua mertuanya, karena wafat ketika Bapak masih kecil. Bapak saya yatim piatu , Hidup prihatin dibesarkan neneknya, İni juga alasan Bapak tidak berpendidikan tinggi, lulus SD. Karena tidak ada biaya, Bapak hidupnya keras, dia mulai ikut orang berdagang.

mi familia

Antara Bapak dan emak saya masih ada kekerabatan. Konon katanya mereka di jodohkan. Dengan Kondisi Bapak tanpa orangtua, Bahkan foto dari kakek dari pihak Bapak juga tidak ada, Terus kata salah satu kerabat, ” Kamu kalau penasaran wajah kakek kamu, lihat saja wajah Bapak kamu, Dia persis wajah Kakek” Diantara Paman-paman saya, katanya Wajah Bapak saya Bak pinang dibelah dua dengan wajah almarhum kakek. Allah Maha Besar ya…,

Panggilan saya ke İbu memang emak, heran. Padahal di keluarga besar, tante-tante saya dipanggil, mimih, mamah, ibu. Cuma dikeluarga kami manggil emak. Keluarga besar saya tinggal satu kampung, hanya bertetangga RT, Pokoknya sepanjang jalan menuju rumah nenek, semua rumah kerabat. Paling jauh sekarang ada sepupu di Lombok, Yogya, Bandung, ini juga generasi penerusnya, kalau generasi si emak, paling jauh di Jakarta dan Tangerang. Dan saya mencatatkan rekor, jauh sendiri di Turki. Rata-rata Profesi yang ditekuni Keluarga: Pendidik dan Pedagang. Paman-paman saya Kalau tidak guru ya pedagang, Dulu kami punya Toko kelontong di rumah, Bapak dimasa mudanya juga berdagang kain keliling, sempat punya toko juga.

Sekarang Kakak pertama saya Guru dan pintar berdagang juga, sepupu sepupu ya jangan ditanya, Rata rata jadi Guru juga. Kalau tante-tante saya ada yang jadi Guru agama, ngelola Majlis taklim dan juga mengelola PAUD. Nah karena dikelilingi lingkungan seperti ini saya maunya tampil beda.

Saya dibesarkan penuh cinta dan omelan

Sepertinya problem generasi 90-an heheh, Tapi terus terang saya iri sama kehangatan tokoh Abah di dalam Keluarga Cemara, Hangat gitu sama anak-anaknya, kondisi terbalik dengan masa kecil saya. Tapi beruntung Punya emak yang kadar sabarnya luas banget, Karakter Bapak sama emak ibarat Api dan Air. Kuping juga kebal sih dengar omelan si Bapak. Mungkin ya, karena kondisi seperti ini saya lebih nyaman tinggal berjauhan dari Keluarga. Punya space sendiri. Bapak saya Baik, beliau royal, cara menunjukan kasih sayangnya ya dengan memenuhi segala kebutuhan anak, tapi ga enaknya kalau lagi ngomel aja. Kalau kata si Emak, Bapak itu kalau dapat rezeki semua diberikan ke İstri, dia jarang pegang duit.

Si Emak, tipe perasa. Saya mikir beberapa karakter emak nurun , Saya ingat sekali kenangan masa kecil: Biasa tiap selesai Maghrib, saya pergi mengaji di rumah ustazah seberang jalan rumah, Karena saya baru dibelikan sandal baru di Pasar Baru Tangerang, waktu itu rasanya kalau dibeliin barang di Tangerang atau Tanah Abang, wajib pamer sama teman pengajian**duh niatnya** Begitu selesai ngaji, sandal saya hilang, sandal baru!! huaaa nangis dan ngamuk lah saya, dibujuk rayu ga mempan, saya pilih opsi bolos ngaji Maghrib sampai sandal baru saya ketemu! nah yang kalang kabut, si emak dan ustazah nya juga, 2 hari tidak pergi mengaji. Saya ngotot sampai sandal ketemu , ga mau ngaji dan juga belajar. Dibujuk bagaimanapun tidak mempan. Anak kecil kelas 1 SD loh. Sampai akhirnya sandal tersebut ketemu, ternyata dipakai santri surau. Saya semenjak dulu menandai sekali barang kepemilikan dan tidak suka berbagi. Dipinjam pun tidak sudi**ampunn semedit itu:V**

Terus terang Meski Bapak terkesan Galak, saya jarang diomeli, karena beliau tahu, ngomel panjang kali lebar, ga akan saya dengerin. Tau anaknya cuek. Mungkin sikap cuek juga bentuk pertahanan diri? who knows…,

Sebenarnya yang saya sukai dari Bapak, Beliau demokratis. Tidak pernah ikut campur pilihan saya, mau sekolah dimana, ambil jurusan apa, saya menempuh pendidikan di Yogyakarta, seorang diri, Bapak percaya, kalau saya tahu batasnya. Nasehat Beliau yang masih saya ingat sampai detik ini: ‘‘ Kamu boleh jauh dari Keluarga, Hidup mandiri, bisa melakukan apa aja untuk melanggar kepercayaan Bapak, Tapi inget kamu ga bisa menyembunyikan apapun dari Allah, Dia maha Melihat, Jadi Bapak titipin kamu sama Allah” Jlebb. Wejangan Bapak ini jadi REM saya selama di Yogyakarta. Tidak berani melanggar kepercayaan penuh yang beliau berikan. Pergaulan saya bisa dibilang Alhamdulilah lurus-lurus aja, di SMA pernah punya teman yang terjerat pergaulan bebas, Alkohol sampai hamil di luar nikah. Saya membentengi diri, Berteman dengan batasan. Sampai akhirnya (dan jadi pendengar curhatan ) Si Teman ini bersyukur saya tidak terseret, dia melakukan semua itu karena tertekan, orangtua yang teramat disiplin, pemberontakannya luar biasa di masa remaja. Karena tidak suka dengan pola didik ayah ibu nya.

Sisi Lain

ketika saya meminta restu untuk menikah dengan calon suami? Bapak hanya butuh pembuktian kalau calon saya serius dan paham agama. Oh ya, tidak tatoan:P ini syarat banget dari kedua orangtua. Entah kenapa Beliau langsung Sreg , Beliau belajar dari kesalahannya dimasa lalu ketika pernah memaksakan pendapatnya untuk kakak saya dan berakhir kegagalan. Dia percaya dengan pilihan saya.

Waktu pamit pindah ke Turki, untuk pertamakalinya merasakan pelukan hangat beliau!! sungguh luar biasa, Beliau jarang mengekpresikan kasih sayangnya ke anak, formalitas saja paling cium tangan, tapi ini dipeluk! Sejak saat itu, saya tahu Ada cinta Bapak yang besar untuk anak-anaknya dengan caranya sendiri.

Dengan kondisi seperti itu, saya tetap bersyukur memiliki mereka sebagai orangtua, Si emak meski terlihat lembut tapi cukup tegas menerapkan disiplin terutama urusan saya belajar ngaji dari kecil. Kalau saya melanggar, malah asyik main, Beliau bisa keluar ‘galak’nya juga, bawa gagang sapu nyari saya di belakang rumah hahah, malah asyik main. Dulu saya sempat protes dengan cara emak yang rasanya memaksa banget saya pergi ngaji siang selepas dhuhur dan selepas maghrib, sepulang ngaji masih harus masuk madrasah ibtidaiyah punya kakek. Yang ngajar tante tante saya. Saya ingat omongan beliau :” Sekarang kamu boleh mengeluh, tapi nanti ketika kamu dewasa, kamu bersyukur emak maksain kamu belajar ngaji” kata beliau: İni tanggung jawab sebagai orangtua, nanti dipertanyakan di akherat. Harus mengenalkan agama juga.

Sekarang, mereka semakin tua, sedihnya saya hidup sangat jauh, meski teknologi menjembatani, rasanya tetap beda ngobrol langsung tatap muka dan via video call. Kakak saya yang menjaga mereka, dan keluarga besar yang bertetangga semua, sebenarnya tidak terlalu khawatir mereka kesepian, tapi kami disini yang kadang rindu pulang**termasuk suami, yang sudah menganggap kampung saya kampung halamannya juga, ngaku ngaku banget dah-.-‘