Rabu lalu, tumben banget suami ngajak keluar rumah, setelah 2 bulan dirumah aja, tadinya Hari Rabu, izin untuk anak-anak keluar rumah, tapi kabar terakhir katanya dibatalkan kembali oleh menteri kesehatan, dan sayangnya saya ga sempat cek berita terbaru sudah terlalu excited mau diajak keluar Pluto, lalu rencana tetap lanjut, bandel ya…

Tujuan kami keluar dari Pluto untuk pergi ke mars, eaa antar planet gitu, engga ding. Main ke danau saja, Seydım, kalau diterjemahkan: baraj ini bendungan, tapi saya mikirnya ya kayak danau aja, karena dibandingkan Bendungan yang lain, Seydim barajı lebih mirip Danau. Lokasi Danau ini tepat di depan villa milik keluarga suami, Keluarga dari İbu mertua, Dayı (paman dari pihak ibu) mengelola tanah peninggalan keluarga, membangun Villa. Sedang tanah ibu mertua sudah dijual, sayang banget sebenarnya. Padahal kalau melihat lokasi Danau ini, berpotensi besar akan menjadi tempat wisata, Dulu pertama kali datang ke Turki dan diajak ke Seydim, belum ada bangunan Villa sama sekali, sekarang mulai banyak bangunan Villa di daerah atas, karena memang pemandangannya cukup indah.

Biasanya kami mampir ke Villanya İbrahim dayi, Paman yang ramah, kenapa saya bilang ramah, karena paman yang lain kalau ngomong seperlunya, kalau Paman İbrahim ini, termasuk paman ceriwis. İstrinya juga ramah, rajin nge DM di İnstagram, pemantau İnstastories setia, apalagi kalau saya posting masakan, hahhaha kepo nya tingkat kelurahan. Terakhir saya posting foto perjalanan ke seydim dan ga mampir Villa-nya kena tegur hahah, harus mampir.

Seydım dan kenangan buruk

Di Blog lama saya pernah menulis tentang sepupu suami yang wafat di Danau ini, menolong anak-anak yang tenggelam, sedang dirinya tidak terselamatkan.

Waktu itu berita mendadak dan membuat semua keluarga terpukul, termasuk ibu mertua saya, tante kesayangannya. Sebelum wafat sempat berkunjung ke rumah, seperti berpamitan dengan kami. Tapi hidup harus terus berjalan, kenangan tentang Halil tetap tersimpan, dia juga sepupu suami yang ramah menyapa saya, ditambah kemampuan bahasa inggrisnya lumayan, kami sempat ngobrol-ngobrol ketika dia berkunjung untuk terakhir kalinya, bertanya kabar dan kesan-kesan di Turki, karena tahu saya orang asing yang masuk keluarga besarnya. Kepergian dia yang mendadak juga membuat saya shock.

Mari lupakan sejenak kisah kelam sepupu kami itu, Seydım barajı ini letaknya memang persis diseberang jalan rumah peninggalan keluarga ibu mertua, sayangnya kemarin pas kami datang, rumah tua tersebut sudah direnovasi dan diganti bangunan baru oleh adik ibu mertua yang lain, mereka membangun Villa keluarga ditanah peninggalan orangtuanya, Lokasi cukup strategis, dipinggir jalan dan langsung menghadap Seydım baraj, Pemandangan hijau, menyegarkan mata.

Sepulang dari Seydim, sempat mampir rumah ibu mertua, silaturahmi hari raya, meski tetap menerapkan Sosial distancing, No cipika cipiki, tapi tetap cium tangan, abis itu pake hand sanitizer, numpang makan siang, pulangnya tetap ditawari: mau bawa keju ga?–saya tolak,karena çokolek (jenis keju bubuk gitu lah) di kulkas masih banyak, kemudian beliau memberikan sebuah wadah bekas yoghurt yang isinya telur ayam organik, wah jangan ditolak dong kalau telur hehe.

Baca:

Melihat pembebasan narapidana di Turki karena Corona

Bermain dirumah petani ketika wabah corona

Cerita anak-anak ketika dirumah aja

Mampir ke rumah si abla dulu sebentar, sekalian jalan pulang. Jam sudah menunjukan pukul 3 sore, batas akhir bawa anak-anak keluar rumah. Sepanjang perjalanan melewati pegunungan, kami pikir aman. Tapi tahunya.!!!

diberhentikan petugas keamanan (jandarma)

Ada satu mobil jandarma patroli:D waduh udah deg-deg-an juga sebenarnya, mobil kami diberhentikan dipinggir jalan, minta cek kartu identitas, ya syukurnya ikamet selalu saya bawa ditas, tapi kimlik anak-anak,saya lupa bawa. Baba nya keluarkan Adalet Card bukan kimlik biasa, Kartu identitas khusus Departemen Keadilan –semacam departemen hukum-kalau di İndonesia. İdentitas pegawai. dicek sama petugasnya, kemudian lolos.Diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Udah kepikiran aja bakal kena denda 6 juta kalau melanggar peraturan keluar rumah selama pandemi. Dan baca berita terakhir, semenjak dilakukan lockdown 4 hari , lebaran kemarin, Pemerintah memberi sanksi 50 ribu orang se Turki, kalikan saja 6 juta per-kepala, cukup ya buat nambah dana penanggulangan Virus covid ini. Lucu lagi, ada di berita. Semasa Lockdown ada yang sengaja melanggar dan kena denda, karena tidak tahan dirumah, istrinya cerewet terus, Bisa gitu ya, Sultan banyak duit mungkin:)

Meski kasus covid di Pluto ini rendah, bahkan katanya NOL, penerapan lockdown dan lainnya mengikuti anjuran pemerintah, Para petugas keamanan tetap kontrol di jalanan, termasuk di area pegunungan tempat kami tinggal, mengecek kartu identitas agar bisa mengantisipasi penduduk dari Zona merah datang ke daerah yang masih steril, Bulan maret lalu sempat kecolongan, datang dua pemudik dari İstanbul dan positif Covid, langsung mereka dikarantina.

Peraturan terbaru, Hanya setiap hari Rabu saja, Usia dibawah 18 tahun boleh keluar rumah, itupun dari jam 2 siang sampai jam 8 malam. Meski saya diatas usia 18 tahun, mau ga mau ikutin peraturan, karena anak-anak kan nempel terus sama İbunya, ga mungkin saya tinggalkan mereka dirumah sementara jalan-jalan berdua sama babanya.

New Normal versi Turki

Juni ini mulai diterapkan, hari ini masjid-masjid tertentu mulai dibuka untuk solat jumat, sebelumnya sudah dilakukan penyemprotan disinfektan dan bersih-bersih semua area masjid, untuk usia diatas 65 tahun dan dibawah 18 tahun, belum benar-bnar dibebaskan keluar rumah, mereka memiliki jadwal mingguan, jam dan hari-untuk keluar rumah. Restoran juga mulai buka termasuk pusat keramaian, Dikurung terus dalam rumah juga tidak mungkin, roda ekonomi harus tetap berjalan, New normal, penerapan jaga jarak dan segala protokol kesehatan semoga tetap tegas diterapkan, kalau saya sekarang, keluar rumah kalau memang benar-benar butuh saja, Ya apalagi masyarakat Turki yang kental dengan budaya kumpul-kumpulnya, rela melanggar asal bisa tetap ngobrol dengan teman-temannya secara langsung, Oh ya, belum kalau musim panas terkenal dengan musim hajatan, saya pikir karena adanya wabah ini, banyak yang akan membatalkan acara resepsinya, ternyata engga! termasuk keponakan ganteng —sang konsultan Blog keluargapanda- tetap akan melangsungkan pesta pernikahannya agustus mendatang, itu artinya kami harus ke İstanbul–

Sekali keluar dari Pluto, saya pilih ke seydım baraji, sepi dari orang-orang, eh pulangnya tetap dicegat jandarma, kirain aman. Sejauh ini kami belum ke pusat keramaian, ke gunung dulu, danau, meminimalisir kontak dengan banyak orang , ya ini New normal yang kami jalani sekarang sampai covid berlalu yang entah kapan.