Larangan keluar di waktu magrib mitos atau fakta? pernah ga ngalamin dimasa kecil, ketika waktu magrib tiba, kita sebagai anak kecil diminta masuk kedalam rumah? dalam islam ada hadist yang menerangkan tentang larangan ini:

“Jika malam datang menjelang, atau kalian berada di sore hari, maka tahanlah anak-anak kalian, karena sesungguhnya ketika itu setan sedang bertebaran. Jika telah berlalu sesaat dari waktu malam, maka lepaskan mereka. Tutuplah pintu dan berzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutup pula wadah minuman dan makanan kalian dan berzikirlah kepada Allah, walaupun dengan sekedar meletakkan sesuatu di atasnya, matikanlah lampu-lampu kalian.” (HR. Bukhari, no. 3280, Muslim, no. 2012)

Mungkin orang zaman sekarang menganggap ini hanya mitos yang dipercayai secara turun temurun, tapi ternyata ada dasarnya. Dan ada yang menjelaskannya secara ilmiah tentang fenomena alam dalam pergantian waktu diwaktu magrib ini.

Cerita tentang Sanekala

İstilah Sanekala* terdengar tidak asing bagi urang sunda, orang zaman dulu nyebutnya sanekala, waktu waktu larangan keluar rumah ini ketika magrib. Kejadian yang dianggap sanekala pernah terjadi di kampung, dua anak tetangga meski tidak dalam waktu berdekatan, pernah tiba tiba menghilang. Hal itu sempat mengundang kepanikan warga, sibuk mencari keberadaan mereka, kemudian tidak lama, ketika ditemukan, mereka ada didekat empang.

Kemudian ketika ditanya, kenapa bisa ada disana, padahal tadinya ada di depan rumah, belakang rumah tersebut kondisinya gelap. Jawabnya, karena ada seseorang yang mengajak mereka? ditanya siapa orangnya, dia tidak bisa menjawab.

Antara mitos atau bukan, dari dulu, dibiasakan ketika waktu magrib tiba, diminta masuk rumah, untuk solat magrib kemudian setelahnya pergi mengaji ke rumah ustazah bareng-bareng.

Waktu magrib di musim panas

Di musim panas, banyak aktivitas warga di luar ruangan, menjelang sore ketika panas terik berangsur berkurang, termasuk ditempat tinggal sekarang, warga komplek baru keluar rumah untuk menikmati angin segar, bercengkrama dengan tetangga hingga menjelang waktu magrib tiba,

Meski azan telah berkumandang, terkadang tidak menggerakan mereka untuk langsung meninggalkan aktivitas bersantainya, masih tetap lanjut ngobrol dan lainnya.

Kebiasaan ini bukan hal mengejutkan di Turki, apalagi jika berjalan dipinggir sahıl*pinggir laut. Banyak aktivitas warga yang sedang asyik berpiknik, istilahnya mangal atau barbekuan, meski waktu magrib tiba, sibuk masing masing, jika ada yang ingat untuk solat ya solat, selebihnya tidak peduli, dan kebiasaan untuk saling mengingatkan seperti sesuatu yang tabu, karena urusan ibadah adalah urusan pribadi-ya konon katanya seperti itu, ingat ya tidak semua orang Turki suka diingatkan tentang waktu solat–kadang bisa dianggap tidak sopan.

Nah tetangga di komplek juga seperti itu, saya justru malah diajak terus ngobrol padahal waktu azan sudah lewat, sambil ngobrol saya juga bujuk si Alya-dalam bahasa indonesia–agar teman saya tidak paham heheh, supaya Alya mau diajak masuk rumah, bukan karena sanekala , tapi juga karena waktu magrib sudah tiba, harus solat dan ada jadwal fatih belajar iqro. Kalau mengikuti teman teman itu bisa lewat solat, kemudian saya nyelonong saja masuk gedung, setelah berhasil membujuk Alya.

Dapat julukan anti-sosial

Semenjak pandemi, sengaja membatasi diri berinteraksi dengan tetangga, mulai menikmati kehidupan di rumah aja, melakukan hobby masing masing, baca buku, nonton film atau drama, banyak hal kita lakukan di rumah selain rebahan. Wifi, Netflix, semua ada. Kemudian ketika ada teman yang kirim WA, baru saya datang. Si teman ini menjuluki kami sebagai pasangan anti sosial, katanya kami berdua jarang sekali keluar rumah, sekali keluar, jauh sekalian:D

Sempat juga ngobrol sama suami, tentang alasan masing-masing kenapa kita jarang berinteraksi dengan tetangga, kalau suami alasannya jelas: di kantor ketemu, di gedung komplek masih juga bertemu rekan kerjanya, ngobrol di luar rumah, tetangga tetangga itu teman kerjanya juga, kemudian ada atasan-atasan juga tinggal satu komplek, nah ‘circle’ tetangga adalah rekan kerja juga yang kadang membuat dia bosan.–Maklum namanya tinggal di komplek dinas:D–

Keluar menjelang magrib bukan kebiasaan dari dulu, waktu magrib begitu sempit, meninggalkan obrolan menjadi sering dilakukan selama di Turki, mereka tidak percaya sanekala, bukan karena hadist juga, tapi menurut mereka, menjelang magrib, udaranya enak, tidak panas untuk bermain di luar rumah buat anak-anak. Melihat kebiasaan anak-anak bermain di waktu magrib justru hal biasa disini dengan alasan cuaca, perkara ibadah urusan masing masing.