Hari kamis lalu, saya belanja lagi ke BİM, setelah dua minggu di rumah saja, ya meski aturan selama Pandemi agak sedikit longgar, karena banyak juga yang menikmati libur musim panas. Saya masih terkurung di Komplek dinas. Biasanya setiap suami dapat jadwal kerja, seminggu sebelumnya dia dites Swab Covid19 dulu, test yang kedua tidak dilakukan di Kantor Lapas, tapi petugas yang datang ke apartemen kami, waktu itu 3 orang, suami dan 3 rekannya yang kebetulan tinggal satu lantai, di tes swb pcr bareng. Kirain mau di tes di rumah masing-masing tapi ternyata cuma didepan pintu apartemen, petugas memakai baju khusus lengkap. Padahal dari semalam sampai saya beres-beres ruang tamu dan ngepel segala, sumpah kerajinan banget-.-* tes Swab ternyata cuma sebentar.

Jadi setelah dilakukan test swab kalau hasilnya negatif baru masuk kerja, karena ada salah satu rekannya di tes swab hasilnya positif. Sağlık memur berhati-hati semua. Tes ini gratis karena masuk protokol kesehatan dari Negara untuk ASN-nya, khusus ditempat kami di Pluto. Nah setelah Tes selesai, dikarantina seminggu, ga boleh keluar komplek. Nanti dapat jadwal kerja, masuk asrama seminggu, Praktis lah urusan keluar Pluto harus nunggu suami dulu. Kalau dia ga boleh keluar, ya otomatis kami juga ga bisa kemana-mana, saya belum bisa nyetir*.- nyesel banget sih dulu ga minta diajarin si bapak, meski pake omelan yang banyak hahaha, saya inget waktu si emak belajar nyetir sama Bapak, ampun galak banget ngajarinnya, bikin saya ciut , udahannya si emak kapok. Emang lebih bagus masuk kursus aja.

Jadi setelah 2 minggu saya menghirup udara bebas (macam tahanan juga) hal pertama yang dilakukan adalah, geret suami ke Market, nge-list kebutuhan pokok. Berangkat berdua, anak-anak sudah bisa ditinggalkan di rumah, kalau Fatih sekarang males diajak ke Market karena tau musim virus dan harus pakai masker. Mending di rumah aja nonton TV..oh Good Boy! Asal dibelikan jajanan. Kalau Alya ya ngekor abi-nya.

Peraturan terbaru di BİM Market

Oh ya BİM ini semacam İndomei yang ada dimana-mana cabangnya dan terkenal harganya sedikit lebih murah dari Market kompetitornya. Kalau ke Turki pasti mudah menemukan market ini dimana-mana. Untuk ke BİM sekitar 8 km dari Pluto, pertama keluar komplek dulu sekitar 1 km sampai ketemu jalan besar kemudian ambil arah ke perempatan yang jaraknya sekitar 500 M baru menuju Carsi 8 Km, eh itungannya jadi 9 Km lebih ya, jadi cukup jauh kalau disuruh jalan kaki-.- ku tak sanggup. Kalau dulu di İstanbul , BİM tinggal ngesot doang dari apartemen. Sekarang di Gunung mau ke BİM aja serasa diajak nge Mall sama suami. Oh kalau ke Mall di Pusat kota Provinsi: Kami menuju pusat kota Çorum, menyeberangi sungai besar kizilirmak kemudian lewatin area pertanian, lewat lembah, jalan menanjak, sisi jurang.. begitu masuk Pusat kota Corum tinggal ambil arah kanan ketemu Mall. Dan cuma ada satu seprovinsi hahahahah, bayangkan sama kampung saya Pinggiran BSD. Sehari aja ga cukup keliling Mall di Serpong.

Nah balik lagi ke BİM, malah nyasar ke Mall:D, Kemarin di BİM ditempel tulisan baru dipintu masuknya (lupa foto) peraturan yang tertulis:

  • Pengunjung wajib menggunakan masker
  • Untuk Usia dibawah 18 tahun tidak diperkenankan masuk market jika tanpa orangtua.
  • Untuk lansia hanya jam (10.00-12.00) boleh belanja di Market

Waktu saya baru masuk ke Market, ada dua anak ABG sekitar usia 15 tahunan berdua, sedang milih barang di rak, kemudian ada petugas yang menghampiri, ditanya:” kamu kesini sama orang tua atau tidak?”. Mereka bilang cuma berdua. Kemudian si petugas menyuruh mereka keluar, tidak diperkenankan belanja. Saya sempat bertanya ke teman-teman yang di kota lain, ada yang sama aturannya tapi ada juga yang bebas. Mungkin tergantung peraturan Cabang masing-masing. Saya pikir aturan dari Pusatnya. Di Pluto cukup ketat juga ternyata.

Belanja tidak banyak sebenarnya, kemudian seperti biasa saya iseng melihat barang promosi, biasa ditaruh di rak khusus. Dan menemukan ini.

Saya dan suami selalu penasaran dengan iming-iming rasa kelapa, tapi ga boleh bandingin sama made in İndonesia ya…ini rasanya hancur minah arrrghhhh…., cuma untuk menuhi rasa penasaran saja beli. Kopi latte yang dicampur santan tapi udah bau tengik santannya, ya bisa bayangkan ya…, İni ga saya habiskan, karena kurang enak. Jangan tertipu dengan tulisan coconut Flavoured kalau di Turki. Mereka tuh ga tahu rasanya kelapa degan, Kelapa yang di İmport dari amerika selatan dan itu kelapa tua, Biasanya ada kelapa degan di Grossmarket, seperti Metro. Saya pernah beli, tapi kecewa juga rasanya. Tidak segar dan berbau tengik, Kelapa degan import dari thailand.

Setelah belanja di BİM, biasanya kami masuk A101 (Ayuzbir) market Biru pesaing BİM, dan letaknya selalu berdekatan, mirip lah sama İndomei sama pasangannya AlBa, di Market Biru, karena ciri khasnya berwarna Biru muda ( warna biru Aqua.kalau orang Grafis paham warna ini:D) Peraturan tidak seketat BİM. Masih bebas siapa aja masuk asal bermasker. Tapi BİM percaya diri saja memasang Peraturan ketat. BİM market terkenal dengan harga paling bersahabat di Turki.Tidak takut kehilangan pelanggan.

Baca:

Makanan ini khas kota İskilip

Sekarang Keluargapanda tinggal disini

Hidup di samping penjara

Jadi selama Libur, sekitar satu minggu , Dia dibebaskan bepergian, kecuali ke Kota besar seperti İstanbul, rencana untuk hadir dipernikahan keponakan di Pendik, harus batal. Suami khawatir, selain karena masa Pandemi dan izin yang sulit. İstanbul masuk Zona merah Corona di Turki. Jalan-jalan sementara ini cari lokasi yang aman, tidak ke pusat keramaian di akhir pekan. Dia menghindari sekali bepergian di akhir pekan, karena dipastikan ramai dimana-mana.

Untuk sementara ini di Open Prison–açık ceza evi– sedikit lenggang. Karena masa liburan tahanan diperpanjang dua bulan , menurut data ada sekitar 60 ribu tahanan di Açik ceza evi diberi libur selama pandemi. Termasuk di Pluto, hanya tinggal sekitar 30 puluhan tahanan di dalam, itu juga karena mereka bekerja. Lebih pilih bertahan di dalam lapas. Daripada libur di luar tapi pengangguran, di Lapas mereka bekerja membuat sepatu dan beberapa kerajinan tangan. Dan di Gaji. sudah lah dapat makan gratis, tempat tinggal juga nyaman, tidak diteralis, mirip asrama dengan ranjang tingkat, ada kantin kemudian disediakan telpon koin.

Ya meski jumlah berkurang bukan berarti si Suami bisa bebas kemana-mana, atasannya tetap memantau hahaha, ga enaknya tinggal di Komplek dinas. Saya posting foto jalan-jalan saja semisal di WA stories dan kebetulan berteman dengan tetangga komplek yang ga lain istri istri rekan kerja suami, bisa jadi bahas diskusi tetangga. Suami jarang posting foto ketika bepergian di akun sosmednya. Cuma saya yang bandel–kan Blogger ya buat bahan tulisan (membela diri) Bahkan kami pernah berangkat diam-diam waktu mau ke Oğuzlar, berasa anak murid yang takut ketahuan kepala sekolahnya.

Sebelum keluar komplek, suami ngecek dulu di Blok B, mobil Mudur (atasan) parkir ga. Wah ga ada..yukk cabut. POkoknya semenjak Pandemi Corona ini, ruang gerak dibatasi dan dipantau, kebetulan tinggal di komplek dinas, dimana kepala Lapas dan wakil wakilnya tinggal bertetangga dengan kami. Kucing-kucingan kalau mau jalan, jadi ga berani ke İstanbul. Apalagi semenjak ketahuan rekan kerja ada yang positif Covid. Nah saya kebayang, kalau Cuti tahanan selesai dan mereka balik ke dalam lagi, rata rata datang dari İstanbul. Bisa bisa makin ketat suami ga bisa kemana-mana. Petugas Lapas dari semua jabatan di karantina dulu. Yang tinggal di Komplek, banyak yang akhirnya berkebun, tahun ini semakin ramai petani dadakan. Kebun sayur di belakang Gedung. Sahabatnya suami, memang hobby berkebun, kebunnya paling luas di komplek, eh dia belum puas, sampai menyewa tanah petani tetangga depan komplek dan berkebun lagi disana. Sedang dia sendiri?? Males katanya, udah punya Hasan. Sampai bibit cabe rawit yang dikirim dari İndonesia aja, sama suami dikasihkan ke temannya, minta ditanam. Nanti kalau udah panen dia tinggal petik. (Persahabatan macam apa ini:C) eh tapi herannya si teman ini senang senang aja, karena emang Hobby.

Libur musim panas kemana?

Tadinya mau ke Atikum Sahıl di Kota Samsun, sekitar 2 jam lebih dari Pluto, sempat tanya teman kondisi disana, Belum menyarankan untuk di kunjungi, dan Kota Samsun juga termasuk Zona merah Covid19, Pasien di rumah sakit rujukan Covid di kota ini masih penuh. Nah was-was kan, mau lihat laut. Suami bilang, Tahun ini batalkan saja niat ketemu Laut, Musim panas, Pantai jadi tempat liburan yang paling banyak dikunjungi. Mungkin minggu ini kami piknik lagi ke Oğuzlar, cari lokasi sepi, pergi hari biasa. Akhir pekan juga ramai pengunjung. (semenjak Covid saya jadi kayak antisosial gini:D) Setiap ada rencana mau nge-trip, cari jadwal dihari kerja. Jadi suasana sepi dan tidak banyak interaksi dengan orang lain, menghindari keramaian. Hari ini, suami juga pergi ke Corum, niat pengen ke Mall, ga diajak. Katanya akhir pekan ramai pengunjung, pokoknya kapan-kapan kalau hari kerja saja baru jalan ke Mall. Bahkan kami pernah mengajak Fatih dan Alya ke Park pagi-pagi, cuma mereka berdua yang bermain. Cari aman. İtu terus alasan suami. Demi kebaikan dan kesehatan, nurut ajaaaaaa.

So jadwal besok, rebahan.., karena puncak musim panas, rumah juga panas banget ya, dan tugas rumah tangga si suami belum dikerjakan, cucian numpuk:S Semoga minggu ini bisa ngetrip ke gunung lagi, minggu depan harus urus perpanjangan izin tinggal yang selalu penuh drama. Kabar yang ga enak, situasi ekonomi Turki masih gini aja, İnflasi, Nilai Tukar lira yang belum stabil.

Tentang Aya sofia, kenapa saya ga menulis artikel di Blog

OH ya saya mau nambahin statemen saya:cieee macam artis aja:V. Sempat ada yang inbox kenapa saya ga tertarik menulis tentang Aya Sofia jadi masjid, lalu Cerita yang ‘Menjual’ haru biru sebagai muslim , 350 ribu orang berkumpul. Feed Sosial media saya Penuh share berita tentang Aya sofia dan tidak ketinggalan di İndonesia, sedang saya adem ayem aja gitu, ga punya sisi relijius kah…., sampai ada yang komen: Kalau keimanan saya dipertanyakan karena punya pendapat kontra, Ehm segitunya hahahha. Ada 3 masjid dalam İslam yang dikenal dan kalau bisa semasa hidup bisa mengunjunginya: Masjidil Haram, Masjid Al aqsa, Masjid Nabawi. Apa Aya sofia masuk? Jadi kenapa saya kegeret kurang berislam karena ga antusias. Saya fokus ke PANDEMİ COVİD19 itu belum usai! dan İstanbul adalah zona merah terbesar di Turki, udah khawatir aja dengan peningkatan angka Covid semenjak Aya sofia diBuka naik. Dan hari ini ada berita:

3000 people believed to be infected with COVID-19 during first prayers in Hagia Sophia

Padahal berharap akhir agustus ini, fatih bisa masuk sekolah Normal, Memang Protokol covid untuk Pembukaan Solat jumat di Aya sofia di jalankan, Saf Solat diberi jarak. Tapi ketika selesai dan bubaran, kerumunan massa , berhimpitan di jalan, saya lihat dibeberapa Video dan Foto-foto di Media.

Saya mikir: Allah itu Menurunkan Wabah pasti juga bisa kita petik hikmahnya, Seperti menjaga kesehatan yang lebih baik, disisi lain menunjukkan keegoisan manusia itu sendiri. Seremonial , kerumunan ribuan orang, Padahal İbadah haji saja dibatasi Jamaahnya tahun ini, begitu ketat protokol covid19 dijalankan. Ah manusia…, Saya cuma kepikiran kalau Angka Covid bisa naik tinggi lagi di Turki-.-‘.

Jadi kenapa saya ga tertarik bahas semaraknya Aya Sofia? Udah jelas aja sih sebenarnya. Kasihan sama menteri kesehatan Turki Dr Fahrettin Hoca, Kerja keras memerangi dan menekan Angka pasien Covid di Turki. Kalau nanti cluster Aya Sofia bertumbangan..Allah korusun.