Seperti biasa, jika hari libur, suami seperti layaknya manusia berdarah Turki, hobby sekali bermalas-malasan di kasur, Pulang kerja selepas Dinas malam, langsung mencium kasur, Siang baru bangun. Obrolan pembuka ketika bangun tidur, seperti kebiasaan saya semenjak menikah adalah mengelus-ngelus perutnya yang semakin menggemaskan layaknya ibu hamil menginjak 5 bulan: ‘‘haduh kapan lahirannya pak’‘. Dia hanya tersenyum sambil tetap bermalas-malasan, tujuan saya membangunkannya tidak lain untuk sarapan, yang jamnya sudah masuk jam makan siang, ya anggap aja sarapan. Kalau tidak disiapkan pasti juga langsung nagih.

Obrolan santai sambil dia mengumpulkan nyawanya kembali setelah tidur lama, kemudian dia teringat akan sesuatu yang ingin dia tunjukan ke saya:

kartu bukti mendonorkan organ

‘Apa ini?” tanya saya penasaran. Dengan santai dia jawab ” ini kartu tanda bukti kalau nanti aku wafat , mau nyumbangin organ penting ke Departemen kesehatan”. Ngomong dengan entengnya. Saya yang dengar langsung syok dibuatnya. ”wafat??’‘.

”kamu sudah punya pemikiran sejauh itu?” tanya saya heran. ‘‘iya, saya cuma pengen ketika udah waktunya meninggalkan dunia, masih ada yang bisa saya perbuat untuk orang lain, menyumbangkan organ tubuh yang sehat untuk mereka yang membutuhkan”--Dan ngomongnya santai gitu. Reaksi saya masih setengah ga percaya, apalagi ketika dia menunjukan tulisan dibalik kartu: selain keterangan pribadi suami, ada nama saya dibawah beserta nomer telpon, saya sebagai istri ditunjuk sebagai orang yang akan mengurusnya nanti (ahli waris), lemes ga! Ya Allah belum kebayang sama sekali, kalau waktu kartu ini aktif.

Jika sebelum meninggal, orang tersebut telah berwasiat untuk mendonorkan organnya, maka diperbolehkan untuk memindahkan kepada orang yang membutuhkan organ tersebut. Walaupun akan merusak kehormatan orang yang meninggal, namun hal ini tidak dilarang sebab mendahulukan perkara yang sangat penting. –sumber: https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-donor-organ-dalam-islam

Karena donor organ tubuh sama halnya dengan orang yang bersedakah, maka orang yang meninggal boleh mendonorkan, namun tentunya dengan syarat bahwa ahli warisnya telah mengizinkan dan setuju dengan tidak memberikan mudharat kepada mayit yang bersangkutan.

Sebagian ulama ada juga yang tidak memperbolehkan tentang Donor organ, sebagian lagi berpendapat jika darurot untuk kemanusiaan diperbolehkan. Wawlohualam.

Tapi begitulah si Babapanda, aksinya tidak pernah terlintas sama sekali dipikiran saya, kadang ga habis pikir kenapa dia punya pemikiran sejauh itu, apa yang menjadi ‘titipan’nya dalam bentuk tubuh, dia jaga dengan baik, salah satunya menghindari Rokok apalagi tato, tujuannya: ‘‘biar saya bisa sering donor darah” Jleb! Saya merasa tersindir, karena seumur hidup belum pernah ikut melakukan aksi donor darah sama sekali, lihat darah berceceran langsung lemas. Salah satu bukti ‘kerajinan’nya Menjadi pendonor darah adalah dengan penghargaan resmi dari PMİ Turki (Turk Kizilay) Menjadi salah satu pendonor darah teraktif seprovinsi Corum.

Penghargaan dari Turk kizilayı

Dapat koin dan juga piagam penghargaan, keaktifannya mendonorkan darah, mendapat apresiasi dari Turk kizilay Corum.

Kartu Donor organ yang baru diurusnya Minggu lalu benar-benar membuat saya terkejut, Alih-alih bangga sendiri dengan aksi sosial suami (gpp kan muji heheh) tapi dalam hati , jujur terbersit rasa cemas, ada. Melihat kartu itu seakan diingatkan, ada limit waktu kebersamaan dengan Pasangan hidup, kartu itu sekarang masih non aktif, tanda kartu itu aktif adalah: batas umur suami. Saya belum sanggup membayangkan mengurus kartu itu nantinya.

Baca-baca juga ya:

Tidak ada suami sempurna

Tinggal di luar negeri perlukah jadi duta bangsa?

Tapi kartu ini juga bisa jadi KARTU As, terutama buat saya pribadi, ketika dalam posisi marah, kesal, kecewa dengan Pasangan hidup, Melihat kartu ini jadi diingatkan, ngapain sih buang-buang waktu gedein emosi sesaat, semua masalah pasti ada jalan keluarnya, ngapain ngeluh terus hidup, ngeluh suami yang kadang ga peka, sibuk ngelihat kekurangannya terus, ngapain!

Yakin dia jodohmu?baca dulu ini

Kehadiran kartu itu menjadi pengingat saya, peredam amarah. Saya tidak mau menyesal! untuk setiap waktu yang kami lewati bersama, setiap waktu yang masih diberikan Allah untuk saya mendampinginya akan saya syukuri apapun kondisinya, belajar dan belajar terus. Waktu sebenar-benarnya perpisahan, tidak ada yang pernah tahu. Awalnya merasa ngeri sendiri, ketika suami dengan bangga menunjukan Kartu ini, Ada tujuan diakhir hidupnya. Tapi keputusan apapun saya dukung. Rezeki, jodoh, umur sudah diatur. Mungkin kesannya agak menye-menye too cheesy…no problem, kalau setiap hari tidak pernah absen untuk saling mengucapkan: Seni seviyorum..meski dia sedang tertidur, sedang asyik makan, bahkan sedang asyik bertengger di Wc duduk, tiba-tiba kepala saya nongol: Sen, seviyorum balım…,sambil nyengir, sambil tutup hidung. Ga apa-apa, Pernikahan itu juga harus dinikmati, susah senangnya. Ya anggap aja begitu, Mengurus Kartu donor organ yang awalnya saya pikir mengerikan, ambil sisi positifnya saja, sebagai Kartu peredam emosi hubungan suami istri. Ya ngapain marahan lama-lama, karena ga tau sampai kapan waktu kebersamaan itu tetap tercipta. Biar ga menyesal belakangan. Salam:)