Minggu lalu sepulang dari jalan jalan dadakan ke Kastamonu, suami langsung dapat ‘surat cinta’ dari Kantor, tentang aturan karantina kembali. Tahun ini masalah hidup ga jauh dari Pandemi Corona, Perkembangan kasus Corona di Turki angkanya naik. Tanggal 3 September lalu. Pemerintah Turki mulai menerapkan aturan baru, salah satunya tentang aturan melakukan acara berkumpul banyak orang.–diberi batas waktu–Pesta Pernikahan hanya boleh 1 jam saja, Mulai diperlakukan Denda besar, terakhir yang saya tonton beritanya, ada 24 orang yang didenda 75.600 lira (152 juta sekian) karena mengadakan acara Kına Geçesı (malam hena) Dan LUCU nya sehari kemudian diberitakan lagi ada wakil rakyat dari Partai Penguasa yang mengadakan pesta pernikahan puteranya mengundang 1500 orang –-nah pejabat ini kena denda atau tidak? Belum ada kabar terbaru—

Turki Membuka diri meski resiko besar Pandemi Corona mengancam, İbarat buah simalakama, Rakyat juga butuh makan, Apalagi Turki juga mengandalkan dunia pariwisata untuk Devisa, Sektor ini buka-tutup. Musim panas, Turis dari negara tetangga maupun negara jauh seperti İndonesia masih diberi kebebasan datang liburan. Kalau akhirnya kekhawatiran gelombang ke-dua covid corona mengancam, resiko besar yang harus kembali dihadapi-.-

Nah bahas Karantina suami, Aturan ini diperlakukan semenjak Pandemi corona semakin mengancam di Turki, Setiap dapat jatah Dinas, Test Swab Pcr wajib, lalu karantina Mandiri di rumah. Tidak boleh bepergian, ada rekan kerjanya yang ditugasi jadi kurir di komplek, kalau kami butuh membeli sesuatu ke Pusat kota tinggal telpon teman suami itu.

indomie

Ceritanya minggu ini İndomie Turki mengeluarkan Produk mie instan baru, postingan Mie ini viral di semua akun sosial media rekan WNİ di Turki, tergoda untuk beli juga, sayangnya minimarket BIM cukup jauh dari Komplek, sehari sebelumnya udah nitip belanja sama rekan kerja suami itu, Jadi ga ada yang bisa dititipin beli lagi, mau ga mau nunggu minggu depan, kalau suami pulang Dinas dan dapat jatah keluar komplek, dia sih sempat ngomong juga:” kamu itu, kenapa dulu ga belajar nyetir sih di İndonesia! ” Saya cuma bisa bawa motor, tapi udah lama juga ga bawa-.-‘ minta beliin motor listrik, ga diturutin. Alasannya: Disini bukan İndonesia..Baca Alasan Orang Turki kurang sabar

lahh terus, sudahlah jangan diingatkan kemalasan saya belajar nyetir dulu-.-‘ sekarang baru menyesal! Kalau bisa nyetir bisa langsung beli İndomie ke BİM–demi İndomie:S jadinya nunggu suami selesai dinas dulu. Apa-apa jadi nunggu disupirin.

kuda

Kemarin sore dari Balkon apartemen, saya melihat seseorang sedang menuntun kuda, lalu manggil Alya, dia suka sekali melihatnya. Suami menghampiri, melihat siapa yang bawa kuda di belakang komplek. Setelah memastikan kalau dia kenal sosok pria yang menuntun kuda:

‘ itu teman kerja, namanya G– abi’‘ ujarnya.

‘ hah serius, dia punya kuda?” tanya saya penasaran.

iya itu Kuda miliknya”.kata suami lagi.

lalu kandang kudanya dimana, kan ga boleh di komplek?” Tanya saya penasaran.

”mungkin dititipin di rumah petani sekitaran sini”.

Waduh ada-ada aja, Ketika banyak orang trend beli sepeda, si teman suami, yang bosan nyetir mobil, malah beli Kuda buat tunggangannya, karena tinggal di daerah pertanian seperti sekarang, belum banyak kendala punya kuda, nah repot kalau pindah ke Kota besar.

Tomat

İni cerita lain dari belakang komplek, Banyak petani sayur dadakan pengisi waktu luang ketika kena karantina. Beberapa teman dekat suami hobby bercocok tanam, bulan ini panen hasil kebun, kami sering dapat kiriman tomat dan beberapa jenis sayur lainnya, Ada salah satu teman terdekatnya kebun sayurnya paling luas, dia menawarkan ke kami, kalau mau sayur tinggal petik saja, tapi kok ya saya rada sungkan:D baiknya kan ngomong dulu sama dia atau istrinya, apalagi bibit cabe İndonesia juga saya titipkan untuk ditanam di kebunnya. Belum panen semua. Saya cuma nanam kangkung saja di Balkon rumah. Tahun lalu, Kakak saya mengirim bibit cabe dan kangkung dititpkan teman.

Jadi seminggu ini hanya fokus di rumah sambil menunggu masa karantina dan kerja suami selesai, baru bisa bebas bepergian lagi, Kakak ipar yang datang dari İstanbul juga tidak bisa berkunjung, karena ada larangan menerima tamu dari luar sementara ini, nyaris sembilan bulan lebih tidak ada tamu yang berkunjung, pernah kakak sepupu suami datang ke Pusat kota, mengabarkan kalau mau mampir karena dia lewat daerah kami, tapi dengan berat hati kami tolak kunjungannya, karena Sesuai protokol ‘surat cinta’ dari kantornya.