Turki İnflasi, mata uang lira terjun bebas, ini benar-benar diluar nalar, sebagai warga biasa dan mengandalkan pemasukan lira tentu saja kita was-was, bagaimana nasib kedepan, dalam kurun waktu seminggu harga di supermarket sudah berubah, terutama barang-barang impor, terakhir saya membeli Minyak kelapa setoples kecil 13 lira, seminggu kemudian saya datang lagi ke market yang sama dan menuju rak sama, harga sudah naik 20 lira.

Untuk produk lokal kenaikan perlahan, tapi produk impor langsung melonjak tajam, bayangkan untuk produk Hp apel di Turki melonjak tinggi, belum ditambah Turki memberikan pajak tinggi untuk produk amerika, 30 % , Apple store menutup penjualannya di Turki.

Ekonomi semakin terpuruk?

Jelas itu yang dirasakan hampir semua orang saat ini, banyak generasi Z Turki, berharap meninggalkan negaranya, karena merasa tidak ada harapan masa depan untuk mereka, pergi dan hidup di negara lain adalah impian anak muda Turki saat ini. Bayangkan ketika generasi mudanya sudah enggan terlibat mengurusi negara, karena melihat kaum tau nya masih tamak saling berebut kuasa, harus ada regenerasi bangsa ini.

Kasus yang mengerikan.

Setiap membuka twitter, tujuan utama saya adalah, membaca kabar terbaru dari tanah air, tapi kurang lebih isinya juga mengerikan, beberapa kali saya baca berita kasus pelecehan se*** terhadap anak, serasa dimana mana tidak ada tempat aman lagi untuk anak. Tidak berbeda jauh dengan di İndonesia, ditengah Turki yang sedang dihantam permasalahan ekonomi saat ini,ada kasus yang sama! hari ini trending di media. Jujur bacanya geram!

Kasus kematian seorang balita berusiaberusia 3 tahun, ditemukan 10 hari kemudian, anak ini dibawa ke forensik, di tes DNA, apakah benar anak balita yang sedang dicari tersebut, yang mengejutkan tes DNAnya memilki kecocokan dengan kakeknya Hasan yağal, Loh jadi anak balita ini bukan anak kandung dari Babanya, tapi anak dari kakeknya, lalu terkuaklah, kalau selama ini, menantunya mengalami pelecehan se*** dibawah ancaman akan dibunuh, si kakek bejat ini melakukannya ketika sang anak pergi untuk wajib militer, meninggalkan istri di rumah, dan lebih mengerikan lagi, salah satu kakak dari si balita ini juga adalah anak dari bapak mertuanya, bukan dari suaminya. Makin gila aja orang orang-.-” 14 tahun si menantu ‘terbungkam’ jadi pemuas nafsu bapak mertuanya juga. Netijen geram! sampai tagar tentang hukum gantung minta diberlakukan lagi! Turki pernah menerapkan hukum gantung untuk pelaku kejahatan berat, dan tiang gantung terkenal itu masih tersimpan di MUSEUM ulucanlar Ankara

Tidak di İndonesia atau di Turki, kasus kasus seperti ini semakin meningkat, sebagai orangtua berpikir tentang masa depan anak-anak, semoga dijauhkan dari orang orang jahat seperti itu, Makin mengerikan saja! Pilihan sebisa mungkin ketika berumah tangga hidup terpisah dari mertua dan kerabat bisa jadi salah satu solusi, meski masih hidup berdekatan, harus diterapkan aturan-aturan, apalagi jika anak beranjak dewasa, karena justru dari lingkaran terdekat, penjahat itu datang. Jangan pernah mudah percaya sama orang! ini yang sering dikatakan orang Turki.

Saya ingat sekali nasehat dari salah satu staf kedutaan Turki di Jakarta 10 tahun silam, beliau mengatakan :ketika kamu memutuskan hidup di Turki, jangan pernah mudah percaya sama orang! Pesannya menurut saya tidak jelas, sebagai orang İndonesia kita terbiasa hangat dan ramah ke orang lain, dan si bapak itu mengatakan, jangan diterapkan ketika hidup di Turki. Tapi sekarang saya bisa mencerna dengan baik maksud si bapak mengatakan itu. Karena terkadang ‘orang terdekat’ bisa menjadi musuh dalam selimut.

Kehidupan selanjutnya menghadapi situasi ekonomi tidak menentu

Lupakan tentang mudik sekeluarga untuk sementara, kondisi ekonomi seperti ini, berat untuk kami bepergian ke luar negeri, mungkin kedepan jika kondisi tidak sepenuhnya membaik, hanya saya yang bisa menjenguk keluarga, tapi kata suami, justru yang dikangenin itu cucu-cucu nya, lah terus bagaimana? kalau saya dan anak-anak mudik, pasti babanya iri berat dan nekad juga nyusul lagi-.-‘ Begitulah, biasa sepaket.

Seberat apapun kondisi ekonomi, saya masih optimis, kondisi akan membaik, dan urusan rezeki bukan semata karena ditentukan valas, itu urusan Allah…, Bismillah aja, dan berdoa kami baik-baik saja dan tercukupi rezeki, Entah mau nulis apa lagi, saya bukan ahli ekonomi seperti ibu Sri Mulyani, hanya ibu rumah tangga yang kalau nulis nyalahin sana sini dengan bahasa ekonomi yang saya sendiri ga paham juga percuma, apa berpengaruh-.-‘