Kecerdasan intrapersonal adalah: jenis kecerdasan yang ditemukan oleh seorang ahli pendidikan psikologi dari Universitas Harvard, Howard Gardner, kecerdasan yang berhubungan dengan kesadaran diri, kemampuan tepat dan nyata bisa menciptakan seperti apa dirinya, sangat mengetahui emosi yang dialaminya, orang yang sangat mengenal dan mencintai dirinya sendiri.

Salah satu ciri seseorang memiliki intrapersonal yang kuat:Memegang teguh prinsip.İntuisi tajam, Refleksi diri, ada hobby yang unik. Nah ada kah teman teman yang memiliki ciri ini?

Test kepribadian

Test kepribadian entah akurat atau tidak, mudah ditemukan di internet, terkadang jika senggang, mencoba mengikuti test-test tersebut, ada baiknya jika test langsung dengan tenaga profesional dibidang ini, ehm kalau tulisan ini bisa kemungkinan ‘cocoklogi’ yang saya gunakan, untuk menilai diri sendiri.

Saya mencoba test, dan hasilnya intrapersonal 100 %, wow, Benarkah? sebagian ciri-ciri itu saya rasakan sendiri, tentang intuisi tajam, mungkin salah satu alasan kenapa teman saya ga banyak, ga pernah ikut geng, sulit tergoda keanggotaan MLM, atau satu hal keuntungan, selalu gagal kena tipu sms berhadiah,telpon iseng, İntuisi tajam dan sulit menaruh kepercayaan terhadap orang, menjadikan terlalu hati-hati.

Seperti halnya, ketika banyak orang yang mempertanyakan kegilaan dan kenekadan saya menikah dengan suami: kenal di İnternet 1tahun, ketemu darat 3 hari langsung nikah! yah segila apa itu! patah sudah teori konspirasi scammer cinta, tapi ingat, saya juga tidak selugu itu. Ada banyak perencanaan dikepala yang tentu saja saya tidak ceritakan kesembarang orang, bahkan saya simpan sendiri, saya perencana yang baik untuk sebuah keputusan beresiko tinggi, terlihat dari luar ‘pasrahan, santai sekali, nekad’ ohhh tidak seperti itu maemunah:D

İntuisi saya dalam menilai seseorang, mesti tidak 100 persen terjamin, tapi angka mendekatinya cukup tinggi, kadang hal ini juga jadi pertanyaan suami sendiri kalau sedang mode ‘deep talk’ dia hanya berpikir, tentang kemungkinan jodoh yang unik dan ajaib dan sering mempertanyakan juga, ‘‘kok saya mau dengan dirinya saat itu” kalau diukur dari kriteria ideal, dari luar bermodal Goodlooking saja–??. dari kriteria finansial dan lainnya minus sekali.

Sebodoh itu kah saya, cuma modal tampang doang? Tapi ada satu ‘point’ dari dirinya yang bisa menyelamatkan semua penilaian kriteria ideal itu, 10 tahun ini sudah teruji dengan baik. Dia dan komitmen! Ya intuisi ini berperan sekali ketika saya memutuskan menerima ajakannya untuk menikah. of course.. i’m happy. Ya kalau lagi ga PMS..lol. Growing up together menjaga dan mempertahankan komitmen, badai tornado, tsunami kehidupan juga pernah iseng mampir, tapi ya ga mungkin saya bagi dengan detail di sosial media, ada yang cukup disimpan saja ada yang bisa kita bagi setelah melalui sortiran.

Saya dan prinsip kuat

Sekuat apakah saya? samson? bukan, kalau urusan kekuatan fisik, saya termasuk lemah, apalagi juga sering darah rendah, di SMA saya pernah hampir pingsan gara gara jatuh tangan berdarah, atau mungkin juga saat itu perut lapar, kombinasi yang cocok untuk istirahat di Uks. Tapi untuk urusan pegang prinsip, saya cukup kuat.

Tetap nyaman menjadi diri sendiri.

Salah satu hal yang selalu menjadi kendala dalam adaptasi,terutama dalam lingkup pernikahan campuran, terkadang ada sebagian orang yang ‘mau’nya seorang istri ketika masuk dalam keluarganya mengikuti sepenuhnya aturan yang diterapkan, tanpa bantahan. Klisenya sampai urusan sosial media saja diatur pasangan, Berbusana? ehm sebagian saya melihatnya seperti itu. Saya itu ‘ngeyelan’ atau si bani israil kata guru agama di SMA, saking selalu mempertanyakan segala peraturan yang dibuat, dasarnya apa, lalu konsekuensinya apa, kan ada alternatifnya kenapa harus saklek. Kalau masuk logika saya terima dengan lapang dada.

Sama halnya ketika awal menjadi Gelin, maunya keluarga, saya harus begini, saya harus begitu, sebelum membuat bantahan, saya kumpulkan dulu informasi, untuk berargumen, tidak akan tunduk dengan mudah jika tidak masuk logika- Semisal: kok apa-apa dibilang tabu.

Terlihat ‘orangnya pasrahan’ tapi aslinya bisa balik menindas tanpa terlihat menindas hahaha, ya ini salah satu cara saya survive diitengah keluarga Turki. Apa manipulatif? saya tidak suka dikendalikan, tapi bisa mengendalikan tanpa disadari.

Refleksi diri dalam bentuk baca:

Selain suka iseng mengikuti test kepribadian, bacaan juga menjadi alat untuk refleksi diri, bisa dalam bentuk apa saja, terkadang selipan dicerita fiksi juga ada saja yang mengena.

Ada saatnya saya menjadi seseorang yang terkesan extrovert di sosial media dengan jokes absurd, ada saat saya menarik diri, dalam sepi dan sendiri, nyaman hanya dengan mengobrol dengan satu orang saja 24 jam,tanpa keluar rumah tanpa menyapa tetangga tanpa berbalas WA.

Ketika menceritakan sebagian diri seperti ini, apa masuk kategori intrapersonal, atau hanya cocoklogi menurut sendiri, tapi mengakui saja dibagian intuisi, apa saya punya masalah kepribadian.