Awal tahun dibuka dengan wafatnya syeh Ali jaber, sebelumnya berita duka saya dapatkan lewat grup WA maupun twitter, Kyai-kyai Pesantren, Duh kesedihan bertubi-tubi, ketika para pewaris İlmu dipanggilNya pulang. İnsha Allah mereka semua husnul khotimah, dtempatkan ditempat terbaik. Husnul Khotimah adalah: wafat dalam keadaan terbaik, dalam kondisi terbaik, diridhoi Allah SWT, sudah seharusnya ini menjadi impian semua umat islam.

Saya juga sempat menyaksikan pemakaman beliau melalui video yang dibagikan ust Yusuf Mansur, bagaimana ketika jenazah masuk liang kubur, proses pemakaman ini mengingatkan saya kemasa kecil, ketika kakak sepupu wafat karena sakit, saya dengan polosnya ikut mengantarkan ke TPU, bahkan tanpa pengawasan orangtua, saya menyaksikan proses dia dimakamkan dari pinggir liang kubur, bagaimana ketika satu persatu bambu yang sudah dipotong untuk menutupi jenazah dipasang. Sampai akhirnya tertutup tanah merah, disuatu sore dan hujan gerimis kala itu, pikiran kecil saya, ” Teh İis apa ga kesepian disana?” .

Saya sempat menonton video Syeh Ali dengan puteranya, kebetulan follow instagram beliau, tanggal 16 desember, Beliau mengobrol dengan puteranya. Obrolan hangat seorang ayah dan anak. Siapa yang mengira jika masa-masa itu adalah masa-masa terakhirnya sebelum diuji sakit.

Perpisahan dengan orang orang terdekat menjadi sebuah pengingat

Kemudian ingatan saya kembali ke tahun 2007, ketika uwak saya meninggal dunia, Beliau anak tertua di keluarga bapak saya, memang selama itu beliau sering mengeluh sakit, usia juga sudah tua. Pada satu hari sebelum ajal menjemputnya, tiba-tiba saya ijin kantor, karena perut melilit, diare, menjelang siang, kondisi membaik. Tiba-tiba ada kakak sepupu datang ke rumah mencari bapak, mengabarkan kondisi uwak kritis, saya mengikuti bapak menuju rumah uwak, hanya beda RT saja, kami jalan kaki. Sesampai di rumah uwak, anak-anak dan tetangga uwak sudah berkumpul, uwak dibaringkan di ruang tengah, ada kasur yang sengaja ditaruh disana, disamping uwak ada santri dari pesantren dekat rumah, mereka melantunkan surah yasin, Uwak sedang dalam kondisi sakaratul maut. kedua bola matanya menatap ke langit-langit tanpa ekpresi, saya panggil nama beliau juga tidak merespon, tidak sengaja saya sentuh ujung kakinya, uwak seakan terkejut, layaknya menahan kesakitan.

Saya ingat sekali kondisi di ruang itu, meski ada suara tangisan bergantian dengan suara orang mengaji, saya memandang langit-langit, apakah disana ada malaikat maut yang sedang menyabut nyawa uwak, karena uwak seperti memandang sesuatu tanpa ekpresi. Saya gambarkan meski ramai dengan berbagai suara, udara cukup tenang, seperti merasa ada kesunyian, saya tidak punya indera ke-6, tapi jujur saja, sampai sekarang suasana itu masih terbayang jelas, kehampaan, kesunyian. Lalu ketika uwak dinyatakan wafat, dan pecah suara tangis orang-orang yang mencintainya, suhu udara dan suasana normal kembali. Apa ya, serasa ada yang beda saja suasananya.

Allah kirim isyarat kematian, tanpa kita sadari

İni juga dialami uwak, dari sakit parah kemudian membaik, dia bisa berjalan lagi, duduk di teras rumah, pagi hari masih melayani tetangga datang dan ngobrol santai, seakan uwak tidak pernah sakit saja. Semua berjalan normal, sampai tiba-tiba pukul 10 pagi, dia mengeluh lelah kemudian mengatakan ingin tiduran di kasur hingga maut menjemput.

Dulu, keponakan tersayang, seperti yang diceritakan kakak saya, malam sebelum musibah, dia meluk ibunya terus, bahkan sempat mengatakan ingin Solat berjamaah sama kakak saya, takut besok ga bisa solat jamaah lagi. Perbedaan sikapnya baru disadari sang ibu ketika dia sudah wafat. İsyarat kematiannya sudah dekat.

Saya membayangkan juga, rasa sesak yang teramat menyiksa pasien-pasien kritis Covid corona, sungguh seakan kematian begitu dekat. Jika masih diberi kesempatan sehat dan panjang umur, jika ajal menjemput? semakin usia bertambah jarak saya dengan kematian juga semakin mendekat, Mati itu pasti, hanya masalah waktu saja.

Tahun 2021 ini ketika dibuka dengan berbagai berita musibah dan bencana alam, tujuan hidup saya jadi bertambah, tentang kematian. Bagaimana saya harus menghadapinya, sesiap apa saya sebenarnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terekam kuat, jalur mana yang bisa saya tempuh. Apakah saya termasuk hamba yang beruntung bisa masuk golongan orang orang yang dicintaiNYa, dikumpulkan dengan orang Soleh, berharap bisa bertemu kakek dari pihak bapak, karena seumur hidup tidak pernah mengenalnya. Saya juga teringat Sari, teman di yisc Al azhar yang wafat karena sakit, saya sering pulang dari kegiatan bersamanya, sari yang identik membawa tas merah liverpool itu sosok yang menyenangkan bagi saya. Pada suatu sore, saya dan sari sempat main ke Monas sepulang dari Al azhar kebayoran, kemudian kami solat di İstiqlal. Saya ingat waktu itu sempat bertanya ke sari tentang rencana masa depan, menikah? jawaban dia ” ga kepikiran menikah, apa nanti gue menikah?”.

Jawaban Sari ini saya ingat kembali ketika mengunjunginya di rumah sakit, Sari kritis, dia dibantu alat-alat tertentu yang saya tidak tahu kegunaannya, menjenguknya ke ruangan tersebut, harus steril, saya berbicara pelan sambil menahan air mata, memberi semangat untuk dia sembuh, responnya hanya kedipan mata, sari menangis setiap kami satu persatu masuk, dia merasakan kehadiran kami, meski tidak merespon. Tidak lama saya dapat kabar, dia berpulang.

Mengingat kematian ini bisa jadi alat kontrol besar untuk saya bersikap, tidak lagi menyia-nyiakan waktu yang tersisa, membaca kembali tulisan tentang para alim ulama dalam bersikap, bagaimana sosok seorang syeh Ali ketika disakiti hingga terluka dan dia memaafkan pelakunya, bagaimana menilai seseorang yang belum menutup auratnya secara sempurna, kita itu butuh teladan sebagai vitamin jiwa. Dakwah dengan menyebar ujaran kebencian dan ketakutan, berujung sikap antipati.

Kita sering sekali merasa diri sudah lebih baik, sudah menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba-Nya, entah kewajiban sebagai penghindaran dari ancaman dosa semata, menggugurkan kewajiban saja, tapi dalam sikap, masih jauh dari ciri seorang mukmin sebenarnya.

Teror komik ‘siksa neraka’

Pernah ga di masa kecil baca komik tentang azab, penggambaran surga dan neraka, kalau anak angkatan 90-an rasanya paham komik populer ini, atau komik karya Tatang S dengan karakter si Petruk, eh ini komik horor pada masanya juga ya. Tapi komik azab atau siksa neraka itu cukup menghantui saya, penggambaran siksaan neraka yang menyeramkan, ada yang dililit ular besar, ada lidah yang digergaji, horor sendiri, oh ya saat itu saya masih sekolah dasar. Biasanya dulu ada penjual komik tentang siksa neraka di dekat sekolah SD, lupa harganya berapa, kadang jika sedang ikut ke Pasar, bisa beli di pasar juga komik jenis ini. Bayangkan anak SD bacaanya siksa neraka:D— Dulu belum ada ya sinetron azab versi TV ikan terbang--, Gara-gara komik ini saya jadi kepikiran nanti matinya gimana, ‘‘disiksa kayak dikomik ga?”. ” serem amat ya”. ”itu kalau dikubur sesak nafas ga?”

Pertanyaan -pertanyaan ini syukurnya bisa dijawab dengan baik oleh ustazah-ustazah di masa-masa saya sekolah, karena saking penasarannya, kan ditutup tanah pasti sesak ga ada oksigen (konsep orang mati , tidak bernafas lagi, saya lupa waktu itu )

Tapi meski komik itu menyeramkan dari gambarnya, buat saya tetap bermanfaat, jadi kalau saya galak sama orang sampai berkata kasar, dengan lugunya kepikiran, ”takut ah entar lidahnya di gergaji”.

Tapi entah kenapa semakin dewasa justru pikiran polos itu terkikis, malah terkadang kehilangan kontrol, scroll..ada berita panas apa ya di dunia maya…Astagfirullah dasar menungso! tobat mbakyuuu…

Hal apa saja yang harus dipersiapkan

Sekarang apa yang harusnya dilakukan? ehm hidup lebih sehat lagi, jangan terlalu dzolim sama badan, mensyukuri apa yang ada, apa yang dimiliki saat ini, kontrol emosi, melatih diri untuk menjaga sikap, belajar berlapang dada untuk memaafkan, berbuat sekecil apapun untuk bisa bermanfaat bagi sekitar, selain amalan ibadah, diringi juga perbaikan hubungan antar sesama, bisa jadi doa-doa orang baik meringankan langkah kita dihari perhitungan kelak. Ahhhh ini cuma saya aja yang lagi kepikiran, setiap ada berita wafat orang orang besar, orang orang berilmu yang diwafatkan dengan cara yang baik, seakan bumi pun ikut menangisinya, kehilangan tiang tiang ilmu. Lalu ketika nanti, esok atau entah kapan, dalam keadaan apa saya dimatikan, apa tulisan Blog ini bisa jadi salah satu ‘penolong’ kelak, ketikan demi ketikan di sosial media sampai menyinggung perasaan orang lain bisa memberatkan langkah saya?

Setiap awal tahun selalu jadi momentum pengingat waktu, usia yang semakin bertambah, artinya kematian juga semakin mendekati kedatangannya…, tidak bisa berlari, semacam gambaran film terkenal Final Fantasy, pada akhirnya maut tetap menjemput.

Jadi tujuan akhir kita sebenarnya, diwafatkan dengan cara baik (husnul khotimah)– Berharap wafat dijalan ini, kita bisa memintanya sama Allah, jangan urusan rezeki dan jodoh saja sibuk berdoa, meminta akhir yang baik juga kita bawa dalam doa.