Menikah dengan Keluarga Turki dan masuk dalam Keluarga besarnya, selalu punya cerita tersendiri, oh ya jangan lupa, sistem kekerabatan di Turki termasuk erat, bahkan bisa ‘sangat erat’. Selain hubungan Mertua dan Gelin (menantu perempuan) Tentu saja ada cerita dengan ipar-ipar sebagai support actor, kalau dalam drama. Peran mereka bisa saja hanya penggembira, atau bisa saja tiba-tiba mereka maunya jadi aktor utama.

Saya memiliki 4 kakak ipar, dua laki-laki dan dua perempuan. Suami, kebetulan sebagai anak bungsu, dengan jarak umur cukup jauh dengan kakak-kakaknya, kakak ke -empat jarak umur 10 tahun, dengan kakak pertama 20 tahun lebih. Bisa dibilang kakak ipar pertama seumur dengan ibu saya. Lalu bagaimana cara saya menjalin hubungan agar tetap harmonis dengan mereka?

Kalau dibilang harmonis terus, sejauh ini Alhamdulilah tidak pernah ada kendala berarti, riak-riak kecil wajar saja, Hubungan dengan kakak ipar tergantung suami sebagi adik mereka, saya tahu persis bagaimana ke empat kakaknya memperlakukan suami sebagai adik terkecil mereka, karena umur suami sendiri bisa dibilang seumur juga dengan keponakan pertamanya, kakak ipar kadang memposisikan adik terkecilnya persis seperti anak mereka sendiri.

Kakak ipar sebagai tempat bertanya

Memposisikan mereka sebagai kakak yang akan ditanyai pendapat terlebih dahulu, sebelum bertanya ke Orangtua. Peran kakak ipar pertama, termasuk sangat menentukan ketika kami serius akan menikah. Lewat beliau lah yang akhirnya semua urusan dipermudah, termasuk memberi pengertian ke Keluarga besar suami.

Photo by Kevin Delvecchio on Unsplash

Hadiah: sebagai pintu awal berkomunikasi

Ketika masuk ke keluarga suami, selain bagaimana menjalin hubungan dengan Mertua, yang saya pikirkan juga, bagaimana cara agar bisa dekat dengan kakak ipar, yup tentu saja terpikir untuk membawa oleh-oleh untuk mereka, Oleh-oleh disesuaikan dengan kesukaan mereka, atas dasar pendapat suami, kami mencari oleh-oleh untuk mereka.

Ringan tangan ketika berada di rumah mereka

İni seperti aturan tidak tertulis tapi rasanya memang wajib, ketika bermalam di rumah kakak ipar, membantu menyiapkan sarapan atau makan siang, meski sekadar membantu membuat salad, saya lakukan.

Memberi batasan

Meski hubungan kami sangat dekat, kami tetap memberi batasan untuk mereka, ketika meminta pendapat tentang sebuah pilihan, mereka tidak akan segan membantu, tapi selebihnya mereka akan serahkan keputusan akhir dikami sendiri. Semisal ketika kami memutuskan pindah rumah, Kakak ipar pertama yang membantu kami pindahan, termasuk membereskan barang-barang di apartemen lama, pindah ke tempat baru, kakak ipar nomer tiga yang sibuk membantu menyiapkan apartemen baru kami, masalah membeli furniture baru, beliau urung pendapat, tapi selebihnya keputusan mana yang akan kami beli, suami tetap mendiskusikannya dengan saya, berkirim gambar melalui pesan WA, Karena posisi saya waktu itu masih di İstanbul.

Baca: Mertua datang ke rumah

İpar Pemicu Masalah

Banyak masalah dalam Keluarga Turki, hubungan kekerabatan yang berakhir kurang harmonis, mereka bisa mendiamkan kerabatnya bertahun-tahun tanpa tegur sapa, meski lewat sudah hari Raya untuk saling memaafkan, Ego yang tinggi terkadang mengalahkan pentingnya menyambung tali silaturahmi kembali. Pemicunya bisa macam-macam, salah satunya hubungan dengan Kakak ipar atau adik ipar yang kurang harmonis, Menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Kalau bernasib memiliki İpar dengan tabiat buruk.

Baca: İbu ibu Turki berbadan besar

İpar yang Dominan

Salah satu problem yang sering terjadi di Keluarga Turki, adalah dominasi İpar, ipar yang selalu ikut campur dengan urusan rumah tangga kita, kadang sebagian dari mereka menganggap Yabancı gelın (menantu asing) tidak paham urusan rumah tangga ala Turki seperti apa, urusan kebersihan, memasak, ngurus anak. Mereka akan memaksakan pola asuh yang mereka jalani, Membenarkan cara mereka dan menganggap pola asuh yang kita terapkan bertolak belakang dan dianggap kurang bagus.

Ketegasan! Disini butuh sekali sikap kita bertindak tegas dan memberikan batasan, saya juga sempat mengalami perbedaan pola asuh ketika punya anak pertama, salah satu ipar , menempelkan peniti kecil dengan yang dibalut ayat-ayat suci, lalu juga nazar boncuk dengan alasan agar terhindar dari Ain’. Untuk menempelkan nazar boncuk, jujur saya keberatan, saya lebih percaya kekuatan doa daripada jimat. Dengan tegas saya lepas ‘jimat’ yang ditempelkan kakak ipar, dan bicara langsung, Bagaimana saya melindungi anak, Tidak ada ajaran menempelkan jimat dalam islam. Diskusi juga dengan suami, Syukurnya Suami lebih paham, dia bicarakan baik-baik dengan kakaknya. Bagaimana kami mengasuh anak, punya cara tersendiri. Batasan dan ketegasan, menjadi kunci bagi saya akan dominasi İpar.

Baca: Karakter keras orang Turki

Ketika akan serius menjalin hubungan dengan pasangan, selain mengenal karakternya, mengenal keluarganya yang akan menjadi bagian keluarga kita juga termasuk urusan yang tidak boleh diabaikan. Mencari tahu informasi dan karakter Keluarga dekat sang pasangan, bagaimana hubungan saudara-saudaranya, kebiasaan mereka. Bisa saja terlihat baik-baik saja diawal, tapi menjadi banyak kejutan ketika sudah menyatu dalam ikatan keluarga.

Karena saya mengingatkan kembali: tipikal hubungan Kekerabatan di Turki erat bahkan ‘sangat erat’ yang saya beri tanda kutip, saking eratnya bisa aja nempel terus kayak prangko, tiap hari tidak pernah absen datang bertamu, tidak pernah absen untuk telpon, kontrol isi rumah, mengomentari isi rumah, pamer perabotan barunya. Banyak tipe İpar ala Turki, syukur-syukur ketemu yang asyik, santai. Bisa pamer keharmonisan bersama ipar di sosial media tanpa pencitraan. Ehm.. İya menjalin hubungan dengan İpar dalam keluarga Turki juga selalu penuh warna dan cerita, Kalau teman teman punya tips ampuh apa biar harmonis sama ipar?