Fatih dan Alya jarak usia diantara mereka 3.5 tahun, Memiliki anak ke-dua awalnya tidak direncanakan dalam waktu cepat, rencana saat itu jika Fatih sudah mulai masuk sekolah, Baru rencana nambah anak atau cukup satu saja. Tapi namanya rezeki dan Allah sudah memberinya, Masa ditolak. Meski awalnya tidak begitu siap. Untuk urusan berapa jumlah anak, kami memang bersepakat maksimal dua, dan tidak terpengaruh dengan ‘omongan’ orang atau ceramah tentang Banyak anak banyak rezeki, tiap keluarga punya pandangan sendiri. Jadi silahkan urus saja Keluarga masing-masing:) Ada banyak pertimbangan terutama dari Suami.

Mengurus dua anak dan hampir 99 persen hanya kami berdua dari awal kehadiran mereka, bukan perkara mudah. Saya tidak didampingi Mertua maupun keluarga di İndonesia, Hanya kakak ipar dan terhitung hari saja. Dukungan teman-teman WNİ juga Alhamdulilah ada tapi tidak mendampingi 24 jam. Selebihnya mengurus Bayi sepenuhnya kami berdua. Terkadang Apa yang kita pikirkan jauh dari kenyataan, rasa ketakutan tidak bisa mengurus bayi, bisa teratasi ASAL kedua orangtuanya bisa bekerjasama, melahap berbagai sumber bacaan, Video, bertanya dengan Ahlinya. Lalu praktek. Semudah itu? Bagi kami, ya mudah aja. Percaya atau tidak Kalau Fatih Bayi menjadi ‘korban’ babanya hasil nonton berbagai video: Bagaimana cara memandikan bayi ! Bertanya ke orang yang lebih pengalaman, tentu saja. Sisanya cocokkan saja gaya parenting sendiri.

Kalau Akhirnya kedekatan antara anak-anak dan kami, bukan perkara pencitraan di media sosial saja. Babanya yang merasa mengurus mereka dari Bayi merah, sampai detik ini menghujani ciuman untuk mereka tidak pernah berubah, tetap dengan gaya yang sama. Saya sering mengingatkan kejadian tahun 2014, ketika kami mudik pertama kali ke İndonesia, lalu si Baba pulang terlebih dahulu ke İstanbul, karena masa cuti-nya selesai. Saya dan Fatih memperpanjang Liburan sampai hari raya. Si Baba melakukan Video Call pertamanya dengan berurai air mata, karena rumah sepi tidak ada İstri dan anak. Sekarang kalau mengingat-ingat masa itu, dia pura-pura amnesia hahaha karena malu. Dan jadi senjata buat saya untuk terus menggodanya. Duh sayang masa itu ga kepikiran mau screen shoot. Dan perpisahan sementara dengan si Baba membuat Fatih Balita jatuh sakit di İndonesia.

Hubungan kedua anak

Sebagaimana dua ber saudara, hubungan mereka bisa diibaratkan sesekali menjadi Tom and jerry, salah satu kartun lama yang terkenal. Kadang juga berprilaku sebaliknya. Fatih tidak begitu cemburu dengan kehadiran adik bayinya kala itu, karena selama kehamilan, fokus saya mengajak dia bermain terus dan Babanya juga selalu meluangkan waktu berdua, memberi pengertian tentang calon adiknya yang masih di dalam perut. Penerimaannya tidak terlalu banyak kendala, dia senang memiliki adik, dan mau membantu Anne-nya ketika sibuk di dapur. Dia menjaga adiknya Alya tanpa saya paksa.

Menurut saya pribadi, kecemburuan anak sulung ketika akan hadirnya adik memang pekerjaan tidak mudah, jauh jauh hari harus terus memberi pengertian bakal calon kakak, libatkan terus si calon kakak dalam menjalani kehamilan, awal awal ketika kontrol ke Dokter, karena jarang ada yang jaga, saya memang sering bawa Fatih, kecuali pas mendekati HPL, terkadang saya tunjukan hasil USG sambil menjelaskan gambar dengan bahasa yang bisa dia pahami. Atau ketika memilih perlengkapan untuk menyambut kehadiran adiknya, sedikit repot memang, tapi ketika dia merasa dilibatkan, perasaan memiliki nya lama -lama tumbuh. Begitu adiknya lahir, meski awalnya kaku melihat adik bayinya, rasa sayangnya langsung terlihat. Dulu repotnya karena saya sekamar dengan mereka, kanan kasur Fatih, kiri Box bayi Alya, terpaksa LDR-beda kamar sama Babanya, dan gelar kasur ditengah mereka.Capek? Oh tentu saja, apalagi kalau Kakaknya sedang aktif dan adiknya tidur nyenyak. Sabar adalah kunci.

nasip jadi adik

Sampai sekarang hubungan mereka ya gitu itu, kejar-kejaran di dalam rumah, Kadang manis peluk-pelukan lalu dalam sekejap jadi tendang tendangan, rebutan mainan, kadang Kakaknya sengaja hanya untuk menggoda adiknya. Jam tidur selalu disi drama, perang dulu, Menjahili adik sampai nangis, lalu peluk lalu usil lagi, sampai tanda suara babanya meninggi mereka langsung akting tidur, belum benar benar tidur kalau belum kena petuah: ‘‘nanti tetangga bawah keganggu” ya nasip tinggal dirumah susun kan ya.

Kami akui, tidak memiliki gaya parenting ideal mengikuti berbagai kelas dan metode termutakhir bagaimana mendidik dan membesarkan anak-anak, saya bahkan jarang membacakan buku cerita setiap anak menjelang tidur, sesekali Babanya mendongeng, Tapi rutinitas bacaan surah pendek Alquran dan ayatul kursi tidak pernah absen, Biasa saya baca tartil sebagai ganti nyanyi-nyanyian penghantar tidur.

selalu melibatkan sang kakak dalam mengasuh adiknya, muka ga yakin gitu disuapin..dan ini berujung huru hara:V blepotan kemana mana..

Untuk urusan pekerjaan rumah, kedua anak dibiasakan. Sekadar mengangkat piring kotor ke dapur, terkadang mereka akan bersaing membantu saya menyiapkan menu makan di meja, membawa dari dapur. Anak penasaran, tidak ada alasan ‘‘ kamu masih kecil?” ya kasih aja biar mereka mencoba dan tidak penasaran lagi. Ruang bermain atau melatih motorik itu bisa dari media apa saja, membuat adonan roti, saya biarkan anak ikut menguleninya, memainkan adonan, kadang mereka minta sebagian adonan untuk pengganti playdoh, terkadang Alya penasaran dengan alat pel, ya saya kasih, meski akhirnya rumah seperti banjir dan berakhir bajunya basah semua, sampai mereka puas sendiri, pekerjaan jadi dua kali lipat.İts OK. Belajar bisa dari mana saja. Saya ini bukan İbu yang kreatif membuat media belajar buat anak-anak semisal dari kain perca atau DİY yang banyak beredar. Saya cuma ingin menghadirkan kehangatan ‘rumah’ bagi mereka.

Oh ya kalau penasaran Alya dan Fatih komunikasinya bagaimana? Mereka bicara bahasa İndonesia dengan saya meski masih campur-campur bahasa Turki, Fatih ke Alya, biasa menggunakan bahasa Turki. Saya ke Babanya bahasa Turki tapi sering di protes, Dia minta saya berbicara bahasa İndonesia..lahhhh, alasannya supaya dia belajar…sumpah ribet banget komunikasi di rumah hahahha, ini jadi penghambat bahasa Turki saya blepotan. Dan saya masih nyelipin bahasa İnggris untuk pengenalan kata: seperti warna.