Guru yang baik adalah guru yang melekat dalam kenangan meski bertahun-tahun telah terlewatkan…,

keluagapanda-

Sebagian besar Guru dimata saya baik dan berkesan, tidak akan hilang dalam memori ingatan saya, meski bukti otentik seperti foto-foto yang telah hilang entah kemana, ya maklum masa sekolah saya belum mengenal era smartphone dan telpon genggam, selepas SD saya tidak lagi tinggal menetap lama di rumah orangtua, tidak punya kamar pribadi kecuali menjelang menikah heheh, ajaib memang. Jadi barang-barang kenangan entah dipindah atau dibuang oleh emak saya. Hari ini jadi mengingatkan saya, ketika buka sosial media, kabar duka saya baca diberanda status teman alumni, bahwa salah satu Guru saya telah wafat di Yogyakarta, 2 Desember 2019, Beliau bernama Pak Budi Suprapto, ungkapan bela sungkawa mengalir di status teman saya, dari semua angkatan Alumni yang pernah menjadi murid beliau, termasuk saya.İngatan saya kembali tentang para Guru yang pernah meninggalkan kesan mendalam selama saya menjadi Murid mereka. Saya ingin menuliskannya disini.

Menjadi Guru bukan cita cita

Meski Keluarga Besar saya datang dari para Pendidik, si emak juga hampir menjadi Guru, kalau saja tidak buru-buru menikah dan Lulus dari Sekolah Keguruannya, Tongkat estafet di teruskan kakak pertama saya yang menjadi Pendidik, lalu adik dari si emak hampir kebanyakan Guru, juga Kakak dari si Emak, Guru. Keponakan, sepupu, menantu, saya dikelilingi Para Guru, Dosen. Termasuk dari Keluarga Bapak, ada saja yang menjadi Guru. Mungkin karena kebanyakan Profesi di Keluarga Besar adalah menjadi Guru, jadi Guru tidak masuk cita-cita saya, pengen berbeda. Meski selepas lulus SMA si emak dengan halus menyarankan saya masuk UİN, Kamu jadi guru agama aja entar? Wah mak.., berat.

Balik lagi tentang Guru-guru yang berkesan

Buat saya sebagai angkatan 90-an, Guru yang berkesan itu, yang ngajarnya enak. Semacam zaman SD, kalau ga salah ketika kelas 6, saya yang sok kritis pernah bertanya dengan Almarhumah İbu Lestari namanya, Beliau Guru SD yang paling saya ingat, karena jawaban beliau, waktu saya tanya: ”BU, kira-kira Presiden İndonesia selanjutnya siapa, Bosen ga ganti-ganti?””Ya siapa lagi lah, sudah bisa ditebak, Foto pak harto ga bakal diganti” Sambil ekor matanya melihat ke arah dua pasang Foto di kelas, Presiden dan wakil Presiden. ”tapi ini Bu, katanya Demokrasi, Presiden jabatannya 5 tahun saja’‘ saya tetap ngeyel. Mungkin kalau jelasin Politik saat itu rada sensitif, Jawaban İbu lestari yang saya ingat malah. ” Pokoknya kata İbu, Presiden İndonesia cuma Pak harto, lihat aja nanti tahun depan pasti pak harto lagi”. Saya malah jawab : ” ibu keren, bisa meramal juga ”.

Lalu ketika masa Madrasah (Mts) di Yogyakarta, saya yang Puber juga mulai bisa membedakan mana Wajah guru ganteng dan pas-pas-an haha iseng banget, hampir kebanyakan Guru laki-laki masih single dan beberapa ada yang masih nyambi Kuliah, sayangnya ga ada yang ganteng-ganteng amat--Duh maafkan lah pak— tapi semua lucu. Cuma ada Guru Cantik saja, jadi Primadona. Guru bahasa inggris. Ah justru Guru yang lucu-lucu ini semua berkesan, Sekolah jadi menyenangkan.

Baca:

Keseruan jadi anak SMA 90-an

Pengalaman merayakan lulus SMA

Kategori teman usia dewasa

Ada Pak Nuruddin BHB, Guru yang punya panggilan khas: Pak kumis, karena memiliki kumis tebal, Selain berprofesi sebagai Guru akidah akhlak, Beliau juga dikenal sebagai ahli kaligrafi, buka kelas ektrakulikuler dan mata pelajaran kaligrafi. Penampilan sangar tapi hati hello kitty. Lalu Pak Budi Suprapto (Rahimahullah–Beliau Wafat 2 Desember 2019) Guru Matematika dan nyambi jadi Guru pencak silat juga. Lalu Pak Anwar kholid Guru Biologi, Guru terlucu jika ngajar, selalu disela candaan, humor-humornya jadi pemikat, Belajar Biologi jadi menyenangkan. Lalu Bu Umi, Guru bahasa İnggris, Yang paling saya ingat tentang Beliau adalah, cerita tentang anak tetangga di Dusun-(kampung) nya, ada yang ingin punya anak dengan nama ke barat-baratan, Bosen dengan nama jawa: Paijo, suparno , Suprapti, dan sebagainya itu, tapi tanpa bertanya dengan Beliau sebagai Guru. Nama anak tetangganya : Happy Birthday, alasannya, karena sering dia dengar dan diucapkan orang banyak. Oalahhhh.

Memilih Teman

Di SMA, Guru yang berkesan? ya lagi-lagi Guru Biologi. Namanya Pak Didik Purwaka, Sekarang Beliau mengajar di salah satu SMA Favorit Yogyakarta. SMA 3. Dulu ketika baru lulus dari İKİP, Beliau mengajar di SMA saya, Menjadi wali kelas. Cara mengajarnya, semenyenangkan Pak Anwar Kholid, Guru Biologi di Mts. Dua Guru Biologi yang hampir saja menjadi İnspirasi saya untuk masuk fakultas Biologi tapi saya urungkan hahaha, karena di akhir-akhir pendaftaran saya jadi ingat, terus nanti lulus saya jadi apa? Jadi Guru juga? wah ga mau ah, kesenengan emak saya. Entah kenapa saya kurang percaya diri menjadi Guru. Meski sebenarnya bisa menjajal profesi lain sesuai jurusan, atau seperti salah satu teman saya, lulus dari jurusan Pertanian, kemudian jadi Bankir hahaha, Sampai suka iseng: ”Tani woey! Panen Duit aja”.

Masa Kuliah? Dosen DKV sekaligus pakar praktisi DKV yogyakarta. Pak Sumbo, Bisa search di Google profil beliau, atau mampir di Blognya https://sumbo.wordpress.com/ Saya dan teman diangkatan dulu, mungkin termasuk mahasiwa beruntung pernah diajar beliau, meski bukan mahasiswa PTN-nya, tapi sebagai ka-prodi di Politeknik dulu, Metode mengajar beliau juga berkesan, yang saya ingat justru bukan tentang bagaimana proses mengajarnya apalagi pas nyerahin tugas dan mengingat ada karya teman yang dirobek robek, tapi kebaikan dan bagaimana beliau bersikap. Saya dan teman yang berkerudung, pernah ditegur beliau bukan karena berkaitan dengan mata kuliahnya, tapi tentang kerudung yang saya kenakan, Beliau mengatakan kalau kerudung yang saya kenakan kurang rapih dan ada rambut saya yang terlihat keluar, mengingatkan saya tentang bagaimana menggunakan kerudung yang baik sebagai muslimah. Sederhana sebenarnya, tapi diingatkan Beliau sebagai Dosen dan juga berbeda keyakinan dengan saya. Respeknya. Meninggalkan jejak kenangan yang kuat. Ah orang Yogya dimasa saya menetap dulu penuh rasa kekeluargaan dan jiwa toleransi yang tinggi.

Mereka adalah Guru-guru kehidupan saya di lembaga pendidikan, saya sempat sedih ketika cita-cita masuk PTN favorit atau Sekolah negeri favorit tidak diterima karena NEM-iya masa sekolah saya masih dengan NEM--saya ngotot ingin tetap sekolah di Yogya, meski bisa saja saya masuk SMA negeri di Tangerang. Dengan Nilai NEM sekolah di Yogya, standar NEM saya hanya bisa masuk SMA kabupaten di Yogya, untuk masuk SMA di wilayah Kotamadya Yogya dengan nilai NEM Minimal 45 sekian itupun SMA peringkat sekian. Ah otak saya hahaha. Atau ketika saya mati-matian mencoba test İSİ yogya dan tidak tertarik UMPTN, tapi gagal, nyeseknya cuma karena teman satu Bimbel yang banyak saya bantu ngerjain tugas, justru dia yang keterima hahaha…nasib dan belum rezeki, sampai saya suudzon sama si emak, yang emang ga ridho saya masuk sekolah Seni, si emak tetap berharap saya berakhir jadi anak UİN dan jadi guru.Sesimpel itu buat ngikutin arus Keluarga besar. Tapi orang ngeyelan kan susah diatur, saya tetap daftar Desain, hingga rezeki bertemu Dosen Favorit DKV di kampus terkenal Yogya, ternyata jadi Ka prodi di politeknik tempat saya kuliah.

Lalu ketika Kerja, saya sempat kecil hati datang ke Jakarta, lagi-lagi nasehat beliau yang tertanam, ‘‘ Ketika kamu masuk dunia kerja, orang lihat skill kamu bukan lagi background kampus kamu” kata-kata Pak Sumbo yang terekam ingatan saya. Waktu itu saya baru nyadar, karena rekan saya di kantor, adalah lulusan dari Jurusan desain dari salah satu kampus elite Jakarta, hampir saya minder, tapi ketika dia justru lebih banyak bertanya, wah kata-kata Pak Sumbo ada benarnya. Harusnya Percaya diri saja, ya kan!

Sekarang, dengan mudahnya banyak kasus Viral tentang Guru, ada yang dipukuli, atau juga ada oknum Guru yang terjerat kasus asusila, atau segala cuitan tentang kecilnya gaji Guru honorer, kisah kisah perjuangan mereka ngajar di daerah terpencil, Guru juga bukan manusia sempurna, Semoga oknum-oknum yang mencederai dunia pendidikan diberi kesempatan taubat, dapat hukuman sesuai perbuatannya, dan untuk guru-guru yang perjuangannya luar biasa. Semoga Allah membalas semua pengabdian kalian dengan hidup yang penuh barokah. İlmu yang manfaat yang tidak akan terputus pahalanya.

Ya bagaimanapun perjuangan mereka yang mengabdi untuk kecerdasan generasi bangsa İndonesia, saya apresiasi, segala jerih payah mereka dalam mendidik insha allah menjadi amal jariyah yang tidak akan putus di akhirat sana kelak. Seperti Hal nya pak Budi, salah satu guru saya di Madrasah, kenangan masa remaja saya hidup di asrama, sekolah di Madrasah, Betapa Beliau sangat disiplin, saya ingat selalu kena hukuman telat masuk sekolah, hukuman biasanya dalam bentuk disuruh scout Jump-untuk siswi dan push up untuk siswa, kok kejam ya? ala militer, heheh. Tapi kami senang-senang aja dihukum. Heran. Beliau terakhir yang saya ingat mengajar matematika. Selepas saya dan teman-teman lulus, kami masih tetap bersilaturahmi tiap tahun, karena kesibukan bekerja, tidak sempat tiap tahun datang ketika acara Pesantren. Tapi yang saya ingat, Beliau tetap mengingat kami mantan murid-muridnya, satu Angkatan yang luar biasa. Ada yang Bandelnya kebangetan, karena ada anak dari kelas saya, mencet bel pulang sekolah 2 jam sebelum waktunya, lolos dari pengawasan Pak Budi, Sekolah langsung bubar seketika karena ulah beberapa teman saya. Mungkin cara paling mudah diingat Para Guru, jadi anak ‘populer’ : anak pinter di kelas, anak populer karena cakep atau ganteng, anak bandel-bandel–sepertinya saya masuk kategori terakhir, karena dulu prinsip bersekolah: Peraturan dibuat untuk dilanggar! Karena seringnya telat, bolos-.-‘

Selamat jalan Pak Budi, Syurga Tempatmu kembali..İnsha Allah…