Saya sendiri tidak mengalami langsung, karena sudah jarang pergi ke tempat keramaian apalagi pusat turis, memang sempat flu sepulang dari Koy, ketularan Mertua. Tapi tidak juga sampai dicurigai berlebihan, lah si emak aja ‘semedi’ di koy terus, jarang kemana-mana. Becandaan sama salah satu teman sempat juga, waktu saya berkunjung ke rumahnya masih dalam kondisi Flu. ‘‘ bukan corona kan?” tanya dia dengan nada candaan, ” corona dari mana? orang dirumah terus” eh tapi kalau ketemu orang cina, jepang, korea sih sering, insha allah ka ketularan, ketemunya via nonton drama soalnya.–garing—.

Baca beberapa berita, seperti kasus di itali yang menjadi negara di luar cina yang paling parah penyebaran virus coronanya, rasisme meningkat. Lihat wajah asia, toko asia, jadi diwaspadai. Sampai berujung kekerasan juga. Ya padahal mereka (yang berwajah asia) belum tentu setahunan itu keluar dari negara tinggalnya, menetap dan hidup bersama disana bertahun tahun, jadinya malah ikut kena dampak rasismenya karena ketakutan berlebihan penyebaran virus corona.

Beberapa teman di Turki juga mulai mengalami, melihat wajah asia, langsung dituduh datang dari Cina ”cin..cin..’ padahal sudah bertahun tahun tinggal di Turki, belum pernah menjejakkan kaki di daratan Cina. Menjaga jarak seakan membawa virus, perasaan jadi tidak nyaman sendiri, sudahlah kadang dikira pengungsi-karena saking banyaknya Turki menampung pengungsi, sekarang ketambahan virus corona, yang terlihat bukan seperti warga lokal langsung dijauhi seakan membawa Virus. Satu hal yang menyebalkan berhadapan dengan orang Turki, banyak yang ‘buta peta’ geografi İndonesia, tidak bisa membedakan Ras. Saya sering dikira sebagai orang jepang, korea, cina. Kalau dikira orang suriah termasuk jarang, karena jelas sekali wajah saya ga ada arab-arab-nya hehe, efek ga enaknya semenjak merebaknya wabah korona di dunia dan sampai jadi pandemi, sikap rasisme juga sedikit demi sedikit mulai dirasakan di Negeri kebab ini. Apalagi jika teman saya memiliki kedua mata sipit, ah sudahlah.

Baca status di media sosial beberapa teman, banyak yang mengalami perlakuan sama, dipandang dari ujung kepala sampai kaki, lalu dijauhi dengan menutup hidung–padahal yang ada, kitanya juga pengen nutup hidung kalau terlalu berdekatan dengan orang Turki yang bau ketek:P— segitu paranoidnya, eh kalau sama tetangga komplek sih biasa aja karena mereka tahu, saya itu ‘Pertapa’ di rumah, jarang gaul kalau ga di WA duluan.

Bagaimana cara Turki menghadang penyebaran virus corona

Baru kemarin Depkes Turki mengumumkan bahwa ada WN Turki yang pulang dari eropa , positif covid19. İngat ya mereka datang dari eropa, bukan pulang dari Wuhan Cina, apalagi Jakarta. Artinya belum tentu wajah-wajah eksotis asian tenggara-Timur ini penyebab mereka kena Virus corona.

Tadi malam, Pemerintah Turki secara Resmi mengumumkan langkah-langkah pencegahan Virus corona. Selain semua fasilitas publik termasuk museum dan sekolah sekolah disemprot disinfektan, ada beberapa kebijakan dikeluarkan:

  • Sekolah diliburkan mulai tanggal 16 maret sampai 23 maret
  • Untuk universitas, diliburkan selama 3 minggu
  • Pertandingan Olahraga diadakan tanpa penonton di stadion
  • Pejabat Publik yang melakukan kunjungan keluar negeri akan diberi izin dalam kondisi tertentu saja.
  • Warga dianjurkan untuk mengurangi-menunda perjalanan ke Luar negeri
  • Bagi yang datang dari Luar Turki harus masuk masa karantina 14 hari.

Masker mahal? untuk barang-barang yang berkaitan dengan kesehatan, seperti masker maupun hand sanitizer jika dijual lebih mahal, warga bisa melaporkan pengaduan online, caranya dengan download aplikasi HFA BİLDİRİMİ milik departemen perdagangan Turki, konsumen diminta mengupload barang bukti-jika harga masker dan alat kesehatan lebih mahal, Pemerintah akan memberi denda perusahaan tersebut, sejauh ini sudah ada 9 perusahaan yang terkena denda dari Departemen perdagangan Turki.

credit to: haberturk

Kekhawatiran dampak corona juga dirasakan Turki, apalagi bertetangga dengan negara negara eropa, dimana kasus penyebaran virus corona semakin tinggi sampai lockdown seperti di İtali, kerugian yang ditaksir menyentuh seratus trilyun lebih, Allah Korusun kalau sampai Turki separah itu, karena negara ini juga sangat mengandalkan sektor pariwisata sebagai salah satu devisa andalan. Pemerintah Turki mulai waspada dengan penyebaran virus corona. Tapi PR meng-edukasi-warganya juga penting-.-‘ jangan gara gara corona, rasisme gitu meningkat, bawaannya curigaan mulu sama wajah wajah asia. Semoga Wabah corona segera bisa teratasi dan keadaan membaik lagi. Sementara saya juga mengurangi bepergian ke pusat keramaian, terakhir minggu lalu ke Koy, sempat mampir Mall dan publik area, ah berusaha positif dulu, karena minggu lalu belum diumumkan ada yang positif corona, Teman-teman jaga kesehatan semua ya..,