Gara-gara İstrinya menulis status penuh ujaran kebencian di sosial media, Jabatan suaminya sebagai  Komandan Komando Distrik Militer 1417 Kendari, Kolonel Kaveleri Hendi Suhendi dicopot dari jabatannya? Ternyata ada aturan internal Sapta Marga yang mengikat anggota dan Keluarganya, Ada UU No 25 Tahun 2014 tentang Hukum Disiplin Militer.

Ketika Menikah dengan Tentara itu artinya Kita menikah dengan Aturan di dalam Tentara Nasional İndonesia.

Baca tulisan dari sumber Blog ini: Syarat menjadi İstri TNİ

İstrinya yang berulah kok Suaminya kena juga? Baca lagi tulisan di atas, Menikah jadi İstri tentara terikat aturan dalam Tentara.

“Dasarnya Hukum Disiplin Militer, berlaku untuk semua yang paling mendasar. Hukum itu meliputi apa saja, salah satunya harus mematuhi pimpinan dan pimpinan di TNI telah mengeluarkan perintah dilarang untuk berpolitik praktis, kedua mengomentari kegiatan politik dan juga menghina pemerintah. Dari situlah dia kena,” kata Fajar saat dikonfirmasi, Sabtu (12/10/2019).

Dia melanjutkan, hukum itu juga termasuk melibatkan anggota keluarga. Apalagi, kata Fajar, istri dari anggota TNI masuk dalam perkumpulan istri tentara.

“Hukum itu berlaku termasuk di keluarga besarnya, anak dan istri. Di situ jelas menghina pemerintah,” ucapnya.

Fajar berharap hukuman pencopotan itu dapat menjadi pelajaran bagi prajurit dan keluarga untuk bijak bermedia sosial.

Memang itu risikonya (keluarga) anggota, karena itu berbijak-bijaklah dalam bermedia sosial,” ucapnya. https://www.liputan6.com/news/read/4084740/ini-dasar-hukum-pencopotan-3-anggota-tni-akibat-postingan-istri

salah satu status istri tentara yg viral dan bermasalah.

Baca:Dalam pernikahan cinta saja tidak cukup

Seharusnya Mereka (İstri-istri Prajurit) sadar dengan konsekuensinya, Bisa Netral, tanpa menyudutkan salah satu pihak, suka atau tidak suka dengan Tokoh tersebut, Ada aturan baku disiplin militer sebagai istri perwira mengikat mereka, tidak boleh beropini sembarangan.

status dr İstri tentara yang berujung bermasalah..ehm kalo yg ditusuk suaminya?

Jadi pelajaran berharga

Herannya masih ada yang membela dengan alasan kebebasan berpendapat? ehm coba baca dari awal lagi tentang Aturan dalam lingkungan TNİ, mereka dikondisikan Netral. Konsekuensi ketika memutuskan masuk menjadi Anggota Keluarga besar Tentara. Kalau mau bebas berpendapat, nyinyir, ataupun mau bebas mengeluarkan berbagai kritik tajam, ujaran kebencian, lepaskan dulu statusnya? eh tapi masih ada UU İTE juga kan ya…

Baca:Adab di Sosmed, ceramahlah pada tempatnya

Suami saya, memang bukan WNİ, bukan juga Tentara İndonesia. Tapi keterikatan dinasnya sebagai salah satu Abdi negara (Turki) menjadi sebuah gambaran, bahwa di negara Turki juga ada kehati-hatian, Suka atau tidak suka dengan Pemimpin negaranya, tetap bijak mengetik sebuah status di sosial media. Menyudutkan pemerintahnya sendiri, rasanya kurang bijak, apalagi jika dia masih digaji oleh pajak. Suami, masih sering mengontrol isi postingan Blog ini jika berkaitan bahasan Tentang Turki, apalagi bahas Pemerintahnya.

Aturan jelas sudah diberikan semenjak kami pindah ke Lojman, Saya sebagai Blogger, dilarang keras mengabadikan atau merekam video Gedung Lapas di samping apartemen kami tinggal, meski tiap hari buka jendela dan bisa melihat dengan jelas aktifitas mereka. Silahkan menulis, tapi jangan cantumkan sumber foto aslinya, kenapa? karena aturan! aturan sebagai orang sipil untuk tidak sembarangan menyebar aktifitas gedung milik pemerintah. Foto-foto resmi hanya dirilis oleh departemen Kehakiman dan Pers yang diijinkan. Konsekuensi juga jelas, ini mengancam karir suami.

Baca:Tentang selfie di LAPAS

Saya belajar menahan diri untuk menulis, apapun status di sosial media, tidak berdasar emosi atau fanatik buta, jejak digital itu luar biasa. Sosial media itu ”kejam” jika tidak bijak menggunakannya. Biasakan untuk menelaah sebuah masalah, jika mendapat berita viral yang diragukan kebenarannya, cek dan ricek lagi. Semoga jadi pelajaran buat para İstri tentara tersebut, Karir suami mereka dipertaruhkan.

Salam