Tanggal 6 september, hari pertama sekolah dimulai, minggu lalu masuk untuk masa pengenalan atau masa orientasi saja untuk kelas satu, sekolah dibuka lagi dengan jadwal normal, mobil antar jemput juga sudah datang kembali setelah hampir 1.5 tahun tidak beroperasi, ya rezeki untuk supir yang kami bayar. Untuk regulasi sekolah bisa berjalan kembali cukup ketat, sempat juga informasi simpang siur.

Aturan ketat dari sekolah

sebelumnya wali kelas sudah memberitahukan di Grup kelas tentang aturan aturan yang diberlakukan ketika anak-anak bersekolah, salah satunya, orangtua tidak diperkenankan masuk area sekolah, meski di taman, hanya boleh mengantar sampai pintu gerbang. Dan prosedur kesehatan lainnya , 2 hari sebelumnya ada wali murid yang jadi relawan khusus membersihkan ruang kelas untuk anak-anak, pokoknya ditangan ibu-ibu Turki yang dikenal master kalau urusan membersihkan rumah, kelas bersih,steril. Kemudian dia posting di grup kelas, setelah beres bebersih.

Peraturan kembali sekolah ini belum permanen, kebijakan bisa saja berubah kalau ada kenaikan kasus, hari ini tanggal 8 september, Fatih membawa selembar kertas ketika pulang jam istirahat, selembar surat perjanjian yang harus saya tanda tangani sebagai wali murid, isinya tentang peraturan standar kesehatan anak, ada sakit seringan apapun, anak tidak diperkenankan masuk sekolah.

Senin tanggal 6 lalu, adalah hari pertama semester baru, Fatih tahun ini masuk kelas 3 sekolah dasar, tahun depan insha allah sudah masuk waktu kelulusan. Di Turki wajib belajar 12 tahun, sama dengan di İndonesia, bedanya sistem yang digunakan: 4 tahun sekolah dasar , 4 tahun sekolah menengah, 4 tahun sekolah menengah atas. Jadi ketika masuk kelas 4 SD, artinya tahun terakhir, kemudian masuk SMP.

Alya masuk TK

Alya meski belum genap 5 tahun, kami memasukkannya ke sekolah TK, minggu lalu masa pengenalan, saya berangkat bareng teman, kebetulan dia bisa menyetir dan baru saja dapat SİM, ternyata sesampainya di TK tujuan, parkiran berjejer mobil tetangga satu komplek semua, beberapa masih menggunakan seragam kerja, salah satunya teman dekat suami, karena jam kerjanya berbeda, dia bisa izin untuk mengantar anaknya masuk TK, sedang babanya Alya tidak diizinkan, karena sistem kerjanya beda. Sebagaimana orangtua baru dan anak mereka pertama kali masuk TK, masing masing saya lihat heboh sendiri, menenangkan anak-anak yang belum berani masuk kelas.

Nah lucunya ada anak tetangga, kebetulan satu gedung, di komplek anak laki-laki ini termasuk pemberani, ketika masuk sekolah, beberapa kali menangis mencari baba dan anne nya, hingga terpaksa babanya yang tinggi besar itu menemani sang anak di kelas. Kemudian saya mendatangi kelasnya Alya, ternyata dia cukup menikmati dan langsung merasa nyaman saja di kelas barunya. Tanpa ada drama apapun, bisa saya tinggalkan dan tunggu di luar.

Alya dan teman TK nya

Minggu ini, sekolah TK juga sudah aktif, sayangnya di hari senin, saya belum bisa mengantarkan Alya ke sekolah, sedang teman barengan yang bisa nyetir, sedang tidak berada di komplek, dia dan suaminya pergi ke Ankara di hari sabtu, untuk mengantar dan menemani sang suami ujian kenaikan pangkat. Di kedinasan suami, kenaikan pangkat bisa dilakukan ketika lulus ujian internal pns yang dilaksanakan di departemen terkait, ujian tulis dan juga wawancara, kemudian jika lulus dengan poin bagus, pengumuman kelulusan langsung diposting di situs resmi pemerintah, kemudian juga langsung ditulis penempatan tugas barunya dikota mana, untuk proses perpindahan ini menunggu sekitar 2 sampai 3 bulan. Tidak ada SK naik jabatan kalau tidak datang ke ibukota Ankara untuk melaksanakan ujian resmi.

Berhubung anak-anaknya mereka masih kecil, belum menjadi kendala ikut ujian kapan saja, berbeda dengan bapak bapak yang anaknya bersekolah di pertengahan tahun, kalau lulus dan harus pindah secepatnya, mending kalau dapat tempat dinas di kota impian, kalau ujungnya dapat di daerah rawan konflik, perbatasan. Ya paham kan gimana Turki dengan kondisi geografis, geopolitiknya sama negara negara ‘panas’, belum separatis, Pendidikan anak jadi taruhan. Bisa bisa curhatan di Blog update terus.:D

ini juga alasan si baba di rumah belum kepikiran daftar ujian, karena nantinya keputusan tempat dinas tidak bisa dia pilih sendiri, penempatan dari pusat, sekarang pilihan di Pluto hasil pengajuan sendiri ketika ada kuota untuk penerimaan pegawai baru. jadi nyambung kesana ya hahah, soalnya alasan kemarin si Alya ga bisa berangkat ke TK, teman teman TK nya di Komplek pada ga ada, ikut baba babanya pergi ke Ankara buat ujian semua.

Menguji keberanian Alya

Hari kedua, Babanya kirim pesan di WA, kalau Alya bisa berangkat ke TK bareng anak sahabatnya, oh ya kalau penasaran siapa, sudah pernah di posting dulu.

teman
sipirang ini.

si pirang seymen:) kalau umur, seymen kelahiran 2017, masih lebih tua Alya beberapa bulan, kelasnya pun beda, dia lebih kecil, tapi sekarang badannya cukup bongsor. Kebetulan Babanya seymen bisa antar, kemudian babanya Alya nitip, saya antar alya ke parkiran saja, jam kelas mereka sama , masuk siang jam 1. Sebelum berangkat, saya bierifing Alya di rumah, Supaya berani, kalau ada apa-apa berani ngomong juga sama amca (babanya seymen) Pulang jam 5 sore, dan laporan yang saya dapatkan, yes Alya berani, dia mandiri, tidak ada drama menangis karena ga ada anne baba, percaya sama amca. Jadi anne nya juga tenang di rumah.

Salah satu teman, yang anaknya seumuran Alya sempat meragu, karena berpikir anaknya masih terlalu kecil untuk sekolah, tapi saya dan suami tetap memutuskan Alya masuk TK dengan alasan: sosialisasi, supaya dia bisa berteman dan yang paling utama, komunikasi. Karena terus terang di rumah, dengan dua bahasa, terkadang pengucapannya juga mix, Alya lebih hafal menyebutkan warna dengan bahasa inggris ketimbang bahasa Turki, untuk ukuran anak komplek juga, Alya sedikit telat berbicara lancar.

Dia juga cukup menikmati suasana dikelas karena lebih banyak bermain, dan semalam saya dapat pesan kejutan hahaha, ternyata, tetangga di Blok B, dia daftar jadi guru TK di sekolah Alya, keterima. Dan dia pula yang jadi guru di kelasnya Alya. Paling ga saya kenal ibu gurunya seperti apa. Memang kejutan sih, karena dulu tidak sempat bertanya latar belakang pendidikannya apa sebelum pindah ke komplek ini, ternyata guru.

—Dan rasanya saya bisa memanfaatkan sedikit waktu disiang hari dengan catatan pekerjaan rumah sudah beres, agar bisa posting blog siang hari, karena hal yang sulit jika anak anak di rumah, apalagi Alya, selalu ngerusuh setiap saya di depan PC:V– Kemerdekaan sebentar untuk seorang ibu*pura pura lupa, pakaian yang baru diangkat dari jemuran seakan akan memanggil minta diurus***