Trailer Film santri mengundang kontroversi, baru trailer, Trailer sendiri berarti Cuplikan, untuk kepentingan promosi sebuah Film, berarti BELUM dianggap Film ‘jadi’ kan ya? Kemudian saya baca, Bahwa Filmnya saja belum masuk Produksi, Menurut Sutradaranya. Livi zeng, rencana penayangan tahun 2020. Kemudian muncul penolakan-penolakan dari berbagai unsur, Sampai ada yang ngaku ustaz menulis bahasa kasar di akun sosial medianya, bahasa kasar yang di klaim kritik tajam. Penuh emosi. Tapi apakah Beliau sudah menonton film tersebut? Apa hanya berdasar asumsi semata hanya bermodal nonton trailer Filmnya. Belum nonton Film aslinya.

Di İndonesia, belakangan ini rasanya sulit sekali menjadi sedikit ‘berbeda’. Ketika tidak masuk barisan si A, kritik habis-habisan dengan Cap Liberal dan sebagainya akan mudah sekali diberikan. Santri? Dunia santri tidak seperti itu! ya, apa se-İndonesia santrinya sama semua?

Saya Pribadi mengagumi sosok ustaz Yusuf Mansur, Belajar dari cara beliau menanggapi semua tuduhan, kritik tajam tetap dengan bahasa yang santun. Adab dengan sesama Ustaz tetap dikedepankan meski berbeda pandangan dan pilihan. Tapi Bahasa kasar, hinaan, cacian dari Netijen yang merasa ‘lebih tahu’ agamanya, lebih ngerasa dia yang paling benar karena ngikutin pengajian ustaz idolanya. Siapa sih kita? Sudah yakin dengan mencaci Guru-guru atau ustaz yang hanya berbeda pandangan, garansi pahala lebih besar dari mereka? Sejak zaman dahulu, Para ulama berbeda pendapat, berbeda pandangan, Berbeda Mahzab sudah ada. Mereka tetap bisa rukun menjaga silaturahmi.

Cerita Dunia Santri

Saya pribadi belum nonton Film THE SANTRİ yang trailernya saja sudah menuai kontroversi, bahkan di Grup WA keluarga, bermodal gambar file Jpeg yang sudah dibumbui narasi yang ‘Panas’ . Komenan ikutan panas. Padahal yang kirim gambarnya, saya yakin dia juga belum nonton filmnya, film baru akan tayang 2020. Bisa kah kita sebagai sesama muslim ber husnudzon dahulu? Apa seburuk itu, hanya bermodal Trailer saja, udah kebakaran jenggot.

Santri itu ada banyak tipenya, ada santri kalong, santri mukim, santri ndalem, santri pekerja

Pengalaman menjadi Santri Mukim

Saya pernah menjadi Santri rentan tahun 1995-2002: MTs, SMA, Kuliah. Saya sempat tinggal di asrama Pesantren, 3 Asrama pesantren berbeda. Satu di Pesantren Besar, Pesantren Mahasiswa, Pesantren kecil. Menjadi Santri Mukim. Yang paling berkesan di Pesantren Besar, Karena Saya sekolah Madrasah juga dalam yayasan Pesantren tersebut, masa SMA, saya sekolah SMA umum di luar Pesantren. Kuliah saya sempat bertahan 2 tahun di pesantren, lalu memutuskan pindah ke Kost, karena menghadapi tugas Akhir dan harus ada komputer di kamar, di Pesantren tidak memungkinkan sekali saya memiliki ruang pribadi dengan seperangkat PC, karena kamar asrama yang terbilang kecil.

Kalau perpikir jadi santri itu seperti hidup di penjara? Tidak bisa menikmati masa remaja seperti yang lain, kurang kasih sayang orangtua? Ketinggalan zaman, Tunggu dulu, rasanya saya ingin memberi gambaran bagaimana rasanya pernah hidup di asrama Pesantren. Ya meski bukan santriwati teladan tapi sukanya telat-an, Masa-masa hidup di asrama menjadi kenangan tersendiri sampai sekarang dan saya tidak pernah menyesali keputusan orangtua kirim saya ke Pesantren.

Mandiri

Hidup di Asrama pesantren tentu saja berbeda dengan hidup serumah dengan orangtua, diusia belia, saya dituntut untuk belajar mandiri, pihak pesantren, karena saya santri kelas 1 Madrasah dan belum lama lulus SD, menyediakan paket laundry pakaian seragam, cuci gosok. Untuk baju sehari-hari, saya belajar nyuci sendiri bareng teman-teman.

Budaya Antri:

Namanya hidup di Asrama, pasti mengenal dengan baik budaya antri, karena saya dulu di daerah Yogya, istilah ini, bisa kita sebut: bare’, nge bar–nge Bar.serapan bahasa lokal. Nge bare’ ini biasanya buat antri mandi, baik mandi pagi atau sore, antrian Bare’ kadang dimulai dini hari, , karena 12 kamar mandi di pakai untuk 3 asrama, cara ngebare’ dengan meletakan alat mandi di depan kamar mandi, membentuk antrian.

Setiap Selesai subuh, biasanya aktivitas kajian alquran dimulai, untuk santri hufaz menyetor hafalannya, untuk santri biasa, antri di barisan ustaz atau ibu nyai ndalem (istri pak kyai) antri ngaji juga bisa panjang, kadang karena kelamaan antri, kita tinggalkan barisan sajadah, sementara bisa ditinggal mandi dulu, karena aktivitas pagi adalah nge-tag kamar mandi dan antrian ngaji.

Aktivitas biasanya selesai menjelang pukul 7 pagi, gantian antri kantin buat sarapan, untuk kantin sarapan, posisinya di samping mushola, Sistem kantin ini, menjual titipan warga sekitar, jadi ekonomi warga juga terbantu. Mereka menitipkan dagangannya untuk di jual ke santri lewat kantin ini, saya paling suka aktifitas nyerbu kantin pondok sebelum berangkat sekolah, karena jajanan beragam, mulai dari nasi uduk, gudeg, bubur, gorengan, dan harga untuk saat itu cukup murah tidak sampai 500 rupiah, dapat banyak makanan. Yogya memang syurga jajanan murah sejak dahulu.

Jadi santri Kuper?

Sekolah Tsanawiyah (setingkat SMP) tempat saya dulu menuntut ilmu, sudah memiliki lab komputer lengkap (tahun 95-98) Ada kelas bahasa asing, Pidato, Kaligrafi, qiroah. Salah satu teman kelas saya pernah menjadi juara pidato bahasa inggris antar sekolah. Di Pesantren memang tidak disediakan TV untuk hiburan, tapi Pesantren langganan Koran besar. Biasanya koran akan di tempel di mading berkaca, kegiatan membaca koran bisa menjadi hal mengasyikan di sela nunggu antrian mandi atau antri untuk mencuci baju.

Belajar Teater, Jurnalistik

Zaman saya SMA di asrama pesantren berbeda, di Pesantren sebelumnya saya hanya 3 tahun, Lulus madrasah Tsanawiyah, saya pilih masuk SMA umum bukan madrasah Aliyah, jadi keluar pesantren satu masuk ke pesantren lain, yang lebih kecil, kebanyakan santrinya Mahasiswa İAİN Yogya.

İni pengalaman yang paling berharga buat saya, di Masa SMA, ketika teman-teman sibuk dengan masa SMA dengan nge band, pacaran, saya menikmati sekali pengalaman baru, Daftar menjadi anggota Majalah santri TİLAWAH, waktu itu majalah lebih banyak dikelola santri mahasiswa, pelajar hanya bertiga, satu santri putera, saya dan sahabat saya Mbak Emma, menjadi anggota pelajar dari santri puteri.

Tiap rapat redaksi biasa dilakukan di masjid, setelah selesai semua kegiatan, ada pembatas antara santri putera dan puteri, sebagai anggota , santri puteri pun berhak menyuarakan ide dan gagasannnya, rapat biasa sampai tengah malam, suasana masjid tetap tidak sepi, beberapa santri penghafal quran juga menemani.

Pengalaman berharga ketika jadi Santri

Saya pernah ikut tim untuk pergi ke jawa timur, tujuan kami waktu itu: Jombang, Kediri. Menuju Lirboyo. Mewawancarai salah satu kyai besar, pengalaman pertamakali yang sungguh berharga, Beliau bisa dikata sangat sibuk, Bahkan Pejabat yang Sowan saja belum tentu bisa dengan mudah bertemu beliau. Sungguh nasib baik sudah di aturNya, kami Tim dari santri biasa, yang sudah payah modal sendiri pergi dari Yogya ke Lirboyo, muka lecek. Begitu kami Sowan, beliau sedang ada di Ndalemnya, Dengan hangat dan ramah langsung menyambut kami, bahkan dijamu dengan sedemikian istimewanya, diruang khusus beliau.Siapa kami ini. Beberapa pejabat sulit bertemu dengannya, tapi saya dan teman-teman Tilawah yang hanya santri biasa, disambut dengan hangat oleh Beliau, Seorang Alim, Kyai besar Lirboyo.

Dunia Teater juga sebenarnya tidak asing, saya juga ikut aktif proyek musikalisasi Puisi: Teater Sangkakala, bersama teman santri yang juga kuliah di İAİN, Proyek mereka tampil di Panggung teater UGM, sambutan meriah. Waktu itu saya masih kelas dua SMA. Di komplek Pelajar, setiap musabaqoh-acara tahunan Pesantren. Proyek saya adalah menjadi Ketua Tim santri pelajar. Tahun pertama hanya bisa jadi juara dua, tahun ke-dua sabet juara umum sekomplek puteri, jadi penulis skenario, sutradara, penata kostum, Teater pelajar. Hadiahnya? satu kardus isi jajanan. Ngurus Mading Pesantren, Pengunjung setia perpust Pesantren yang kadang jadi tempat numpang tidur sambil baca koran kedaulatan rakyat atau Kompas.

Statement Wirda Mansur di akun İnstagramnya: Santri harus multitalent, Karena Dunia santri tidak sesempit yang dibayangkan. Sebagai santri pelajar masa SMA , untuk pertama kalinya saya memiliki Kartu tanda Jurnalis resmi yang diakui PWİ Yogya. Padahal saya Santri. İya Santri harus bisa apa aja.

Dakwahnya Seorang Santri

Masa Kuliah tahun pertama, saya juga tinggal di asrama pesantren, Meski saya tidak kenal secara Pribadi dengan Mbak alumni di Pesantren terakhir, saya dapat dengar cerita dari Teman pengurus, tentang kisah seorang alumni santri yang sekarang bermukim di Belanda, menikah dan bersuamikan warga Belanda, tahun 2002, ketika ada acara khotmil quran , Dia sedang liburan ke İndonesia, mengunjungi Magelang kampung halamannya dan disempatkan berkunjung ke Pesantren. Saya melihatnya dari dekat.

Kisah pertemuan si Mbak alumni ini dengan suaminya cukup unik, tidak sengaja bertemu di Bis umum yang menuju Borobudur, si Mbak alumni yang kebetulan berniat pulang ke rumahnya, membantu Pria asing yang kesulitan, Mbak alumni membantu si Pria ini menujukan arah tujuannya, kebetulan dia fasih berbahasa inggris. Bersama seorang temannya yang kebetulan searah pulang bersama satu bis, si Mbak alumni berkenalan dengan Pria asing warga belanda. Si Pria mengaku seorang atheis. Selama perjalanan, mereka bertukar obrolan, sampai akhirnya membahas tentang agama.

Semenjak perkenalan itu, mereka bertukar alamat, tahun 90-an, belum begitu kenal Panpal apalagi Skype, komunikasi mereka mengandalkan surat menyurat, selepas teman asingnya kembali ke Belanda, Karena tertarik diskusi tentang agama dengan si Mbak alumni (Dan si Pria ini masih belum merasa Puas mendapat penjelasan) Obrolan mereka lanjut lewat surat menyurat, isinya tidak jauh menjelaskan tentang agama islam, dalam hitungan beberapa tahun kemudian si Pria asing yang menjadi temannya ini Allah bukakan pintu Hidayah. Setelah mantap mempelajari İslam dan akhrnya masuk İslam, si Pria ini beranikan diri Melamar si Mbak alumni yang seorang hafidzah.

Cerita terakhir menurut si teman pengurus, si Mbak alumni tetap aktif berdakwah di tempat barunya disana, sambil menunjukan beberapa foto mereka yang terlihat harmonis, si Mbak alumni yang mungil dengan sang suami tinggi menjulang. Saya tidak sempat mengenalnya secara pribadi.

Si Mbak alumni hanya salah satu contoh saja, Biasanya Santri yang sudah dianggap ‘mampu’ menurut pak kyai, akan di utus untuk ngajar di pelosok-pelosok daerah menyebarkan dakwah disana.

Sistem pendidikan Pesantren

Pesantren yang pertama maupun yang terakhir dibawah NU, di Mts saya juga mendapat mata pelajaran khusus ASWAJA, mirip seperti teman yang bersekolah di Muhammadiyah, seingat saya ada Mata pelajaran khusus: semacam kemuhamadiyahan-karena teman saya SMA ada juga yang bersekolah di SMA Muhammadiyah.Mata pelajaran khusus ini banyak menjelaskan tentang Sejarah berdirinya, Profil pendiri dan segala tentang bab ahli sunnah wal jama’ah (aswaja)

Program khususnya, ada tugas Pidato dan doa untuk hari senin, ini mengajarkan anak murid terutama tugas Pidato, agar bisa lebih aktif, mulai menyusun tema dikerjakan sendiri. Petugas Doa sebelum masuk jam belajar, dilakukan di halaman sekolah. Selebihnya pelajaran umum sesuai kurikulum Depag.

Jamaah salat, wajib. Jika Ramadan kegiatan akan lebih aktif, ditambah salat dhuha.Hafalan Hadist: di mata pelajaran alquran hadist. Setiap jam pelajarannya, wajib setor hafalan hadist bab yang akan dibahas

Untuk kelas satu Madrasah, Tes ngaji ketika masuk menjadi santri, dan kemudian program wajib untuk setor hafalan juz 30 di kelas satu Madrasah, Proses menghafal mulai dari setor hafalan ke Santri besar, Ustazah, ibu nyai, test terakhir adalah: Membaca 1 juz lewat mikrofon mushola di Komplek Puteri dari selepas dhuhur, suara kita akan didengar seluruh komplek, ada teman yang akan menyimak, jika ayat keliru, kadang siapa saja santri yang lewat akan membantu mengoreksi bacaan ayat-ayat alquran yang kita baca. Pengalaman ini sungguh membuat saya berkeringat dingin. selesai baca di depan umum lewat pengeras suara di komplek, dinyatakan lulus dan bisa ikut prosesi tahunan khataman besar di Pondok pesantren(khotmil quran), memakai seragam khusus, menjadi kebanggaan sebagai santri. Orangtua akan turut serta hadir, nama kita dipanggil satu persatu. Setiap bacaan alquran di panggung akan di langgamkan, Terakhir Bin nadri ketika kelas dua Madrasah, surat yang dibaca adalah: al jumuah.

Tiap sehabis solat lima waktu, wajib kumpul untuk latihan hataman. ini salah satu rangkaian acara.

prosesi haflah khotmil alquran: posisi terdepan: juz amma, tengah bin nadzri, kemudian hafidzah

Bisa ikut prosesi khotmil alquran seperti di Video menjadi sebuah kebanggaan seorang santri, karena proses seleksi dan perjuangannya tidak mudah.Saya ikut khotmil quran untuk juz amma dan Bin nadzri, Tapi tidak pernah merasakan ikut prosesi Bil ghoib, menjadi hufaz , Hafidzah.

Jadi Santri di era Sosial Media

Sekarang hal sekecil apapun mudah sekali ‘viral’ lalu jadi bahan perguncingan sejagat maya, kasus terakhir tentang Penyitaan HP oleh pengurus salah satu Pesantren, lalu ramailah komentar macam-macam, dari yang merasa paham betul dunia pendidikan, pakar psikologi, atau semacam emak-emak yang pengen berpendapat saja. Semua beropini juga, sampai nyalahin si pengurus dengan tuduhan macam-macam.

Ketika ada satu Lembaga Pesantren yang bermasalah lalu terjadilah generalisir, sampai ada tulisan yang menyebar di Facebook menyudutkan lembaga pesantren. Orang boleh saja mengeluarkan pendapat, tapi ini negara demokrasi dan ada Hukum yang mengatur. Sistem pesantren sudah ada di İndonesia jauh sebelum negeri ini Menjadi Satu: Republik İndonesia,, Peran pesantren tidak hanya sebatas pendidikan, melainkan juga perjuangan kemerdekaan.

Mengenai Film Santri, Rasanya tak patut untuk menilai dahulu sebelum menonton secara keseluruhan, seburuk apa? İnteraksi santri putera dan Puteri tidak ada? Bohong rasanya. İnteraksi tetap ada dengan batasan yang disepakati. Saya pernah ingat sekali dengan ‘joke’ pak Kyai di Pesantren Terakhir, dia membuat peraturan antara tegas tapi sedikit lucu: Santri putera dan Puteri dilarang ngobrol berdua, kalau saya melihat sendiri, langsung saya nikahkan mereka. Entah serius atau hanya candaan hangat pak kyai terhadap santri-santrinya, tapi teman teman saya malah menganggapnya sebuah kesempatan, dan kemudian menjadi obrolan hangat setiap menjelang tidur.

Memilih Pesantren

İni juga harus jadi pertimbangan ketika memutuskan mengirim anaknya untuk jadi santri, sama dengan halnya ketika orangtua berburu sekolah terbaik untuk anak-anaknya, memilih lembaga pendidikan Pesantren juga harus diperhatikan. Julukan Santri radikal, ektrimis ketika selesai nyantri? Tergantung Pesantren mana dulu, dibawah naungan lembaga apa? Sejauh yang saya paham, hampir sebagian besar Pesantren di tanah jawa bermuara ke Nadlatul Ulama (NU) Guru-guru saya di Pesantren tidak pernah mengajarkan penuh kebencian karena perbedaan, dulu disekitar pesantren, masih banyak masyarakat yang percaya mistis dan sebagainya, membuka pesantren menjadi lahan dakwah dan ekonomi warga, dekat sekolah ada gedung aliran kepercayaan, tapi apa kami diajar untuk membenci mereka? Mengenalkan İslam yang İndah dengan santunnya budaya İndonesia menjadi kunci. Saya semakin menghargai perbedaan ketika hidup menjadi santri mukim di Pesantren. Bukan hanya tentang perbedaan akidah dengan orang di Luar pesantren, berbagai perbedaan karakter teman di asrama juga menjadi pengalaman berharga untuk saya menghadapi dunia luar. Saling tenggang rasa.

Belajar banyak hal, Pesantren tidak hanya seputar ngaji kitab kuning dan menjadi santri salaf, metode pendidikan pesantren juga mengikuti perkembangan zaman tanpa menanggalkan akarnya. Jadi Santri sebuah pilihan, dan saya tidak pernah menyesal hidup dan menghabiskan masa remaja saya di balik tembok asrama bersama teman-teman seperjuangan. Percayalah Dunia Santri tidak sesempit yang dibayangkan….

İnfo tentang Pesantren:

PPSPA

Al BAROKAH Yogya

PP Nurul Ummah Yogya