Diskusi tentang poligami sama suami?

Topik hangat seperti ini ga akan kunjung ada titik temunya, kalau ini bahasan santai aja yang kadang saya obrolin sama suami, menanyakan pandangannya tentang praktek poligami, yang kini marak dikampanyekan via sosial media dengan mahar sekian juta, katanya untuk upgrade peserta seminar tentang poligami (Padahal permasalahan ummat jauh lebih banyak dari sekadar ngebahas ini saja)

Kalau dibahas di youtube channel seru kayaknya?–sayangnya narasumbernya ogah:D ya maklumin saja, yang paling aktif bikin konten kan istrinya ini, jadi diskusi dibelakang layar, bertanya tentang pemikirannya.

Suami dan poligami

Sebagai laki laki muslim dia tahu tentang praktek poligami juga ada di Turki, dalam agama tidak ada larangan, bagi yang mampu memenuhi syarat, bukan memaksakan diri diluar batas kemampuannya? Silahkan jika memang memenuhi syarat tersebut, itu menurut dia tapi bagaimana jika dihadapkan ke dia sendiri, mampu kah?

Bahasan Suami, dia langsung mikir: Pendidikan anak, asuransi, jaminan hidup, kesejahteraan istri, lalu ada yang bilang: rezeki urusan Allah, tenang saja?—iya paham, tapi pada prakteknya ya harus bekerja keras, bukan cuma duduk nadah ke langit, ada doa dan usaha. Mampu ? atau memaksakan mampu. Dia cukup tahu diri sebagai pegawai biasa, untuk membuka cabang hati butuh modal tidak sedikit, karena buat dia, hidup ga makan cinta doang, ada perut yang harus di isi dan dinafkahi.

Kondisi kejiwaan anak-anak dan istri?

Hobby bacanya ngeback-up pemikiran dia tentang upgrade-upgrade otak, lulus dari jurusan sosiologi, kenyang dengan bacaan kehidupan sosial dan lihat prakteknya langsung di pekerjaannya, lalu baca buku tentang psikologi juga jadi hobby sambilannya, yang dia pikirkan tentang praktek poligami adalah kondisi kejiwaan si anak, bisa kah menerima kehadiran sosok lain, saudara lain ibu dan belum stigma masyarakat, bisa kah dia berbuat adil untuk membagi kasih sayang dan waktu. Prakteknya ga mudah, iman juga naik turun, foto kebahagiaan yang dipamerkan disosial media tentang penggiat ini, siapa tahu dibelakang layarnya?

Link Bacaan menarik lainnya:

Jangan mau diajak selingkuh Pria Turki

Tingkat KDRT di Turki cukup tinggi!

Jangan ada pelakor diantara kita

Guru, katakanlah kyai saya di pesantren dulu, semuanya pelaku monogami, apa mereka minim pengetahuan agama tentang dalil dan ayat ayat alquran yang selalu dijadikan alasan poligami, mereka paham, saking pahamnya lebih memutuskan monogami, heran kan? Kyai saya Rahimahullah K:H Mufid Mashud, siapa yang tidak mengenalnya di kalangan Pesantren Yogya -jawa tengah, Keilmuannya mendidik ribuan santri dan melahirkan ribuan tahfid alquran, penerusnya Sang Putera yang kini memimpin Pesantren, Lulusan Madinah dengan predikat terbaik. İni masalah pilihan saja. Yang berilmu dan paham agama juga belum tentu mempraktekannya karena menilai dirinya sendiri tidak merasa mampu, mending fokus ke urusan ummat yang jauh lebih penting, Banyak sunnah lainnya yang bisa di amalkan. Ada yang baru ‘kecelup’ belajar agama dan sedang semangat semangatnya, belajar agama langsung praktek poligami dulu. Belajar kek benerin bacaan alquran dulu, ilmu-ilmu penunjangnya seperti Nahwu shorof , biar ga serampangan membaca ayat dan menafsirkan sesuai kebutuhannya saja.

Poligami dan ekonomi

Saya menjadi saksi sendiri (Secara subyektif) tentu saja pemikiran ini. Ada teman di kampung menjadi istri ke-dua,baru lulus SMA, bayangkan! saya yang lagi pusing mikir ujian İSİ sama UMPTN, dia sudah akad nikah dan sah menjadi istri ke-dua dari seorang pengusaha . umur lumayan beda jauh. Padahal sebelumnya ada yang mendekati dengan status bujangan tapi pekerjaan belum mapan. Ya si teman memilih jadi istri ke-dua dengan alasan ekonomi, apalagi si suami nya tersebut juga masih kerabat jauh, sukses punya usaha sendiri, hampir seumuran bapaknya-.-‘ kadang ya ga habis pikir kok mau? kalau disebut- pelakor’ rasanya juga kurang tepat, karena istri pertamanya mengetahui dan datang juga ke rumah si teman, mencoba berdamai dengan keadaan dan pilihan suaminya mendua.

Secara finansial, jelas mampu, perlahan si suaminya ini juga membuka usaha di rumah si teman, ekonomi keluarganya terangkat. syarat poligami dari istri pertamanya dipatuhi, dia bisa menerima kehadiran anak-anak si istri kedua asal tidak dikumpulkan satu rumah dengan si ibunya, Alasan awal mau di poligami jujur ga jauh dari faktor ekonomi, ya syukurnya sampai sejauh ini dia masih harmonis sampai terakhir mendapat kabar si istri pertama suaminya wafat karena sakit, lalu apa suaminya menikah lagi mencari istri baru? selepas istri pertama wafat? setahu saya, tidak. jadi ujungnya tetap monogami kembali. tapi ini hanya contoh satu kasus saja, saya juga melihat kasus lain di lingkungan saya, Bapaknya nikah lagi diam-diam tanpa persetujuan anak istri, punya istri muda dan anak lagi, hubungan kurang harmonis, begitu si bapaknya wafat, si istri muda kebingungan harus menafkahi anaknya, jadilah banyak selisih paham berujung warisan.

Karena pada prakteknya, nafsu manusia itu juga sulit dikontrol, disuruh nurut nih bapaknya nikah lagi, harus hidup akur sama saudara-saudara beda ibu dan perempuan lain yang harus dia panggil ibu juga, terlihat harmonis didepan kamera, dicekokin dalil dalil agama seputar kunci surga saja, tiket ekpress, siapa yang bisa menjamin isi hati anak-anak mereka ketika tumbuh besar, mereka bukan kerbau yang dicocok hidungnya untuk nurut sama tuannya, dikasih akal pikiran, ada masa-masa pencarian jati diri, lingkungan yang harus mereka hadapi. Apalagi zaman internet seperti sekarang, perdebatan dan segala bacaan mudah ditemukan di dunia maya.

Jika diberi kecukupan rezeki, dan ada kesempatan bagaimana?

ini pernah saya tanyakan sama suami, jawabannya? Kalau punya duit banyak, mending menghabiskan waktu dengan traveling keliling dunia, melihat berbagai kebudayaan bangsa lain, kehidupan mereka, bumi luas, hidup cuma sekali di dunia, cara bersyukur menjalani kehidupan ada banyak jalan. Praktek sunnah agama banyak pilihan, merawat bumi dari kerusakan tangan manusia juga bisa jadi jalan kamu menuju surga, membersihkan paku-paku dijalanan demi kenyamanan orang lain juga ada ganjaran pahala, merawat dan menyantuni anak yatim juga, banyak jalan. İni tentang pilihan saja. Dengan alasan melahirkan banyak generasi baru, sebenarnya yang dibutuhkan kualitas apa kuantitasnya? sedikit tapi berkualitas, apa kuantitas yang penting ramai dan ber-ktp agama yang sama saja. Yang penting banyakin dulu jumlah ummatnya, soal kualitasnya??

Apalagi praktek poligami di Turki yang termasuk sulit, sulit berbuat adil, karena hak penuh tetap ada di istri sah dihukum negara, yang istri lain? tidak ada kekuatan hukum, menuntut porsi sama semisal dapat asuransi dan tunjangan sama, hanya berharap belas kasihan suaminya saja, ya kalau suaminya memang kaya raya, bukan perkara sulit, ketika si suami kaya wafat, hak penuh tetap milik istri sah di hukum negara. Lalu yang lain dapat apa? kalau dia pintar investasi, memanfaatkan si suami ketika sedang berjaya. Kalau tidak berujung kerja keras sendiri atau cari suami baru? ujungnya tetap ekonomi ya. Berapa persen dengan alasan benar benar tulus cinta atau ekonomi yang dibalut agama?

Topik hot gini, kalau lagi sama sama santai, kami memposisikan diri sebagai teman biasa yang berbagi pandangan, ujungnya si suami mikirnya: Punya duit banyak, mending jalan jalan daripada dihabiskan buat pesta nikahan, belum emas, rumah, mobil, dan nambah anak. Ga! Mungkin dia ga cocok otaknya di upgrade seperti penggiat poligami yang mengaku punya anak 24, horor sendiri kalau yang dirumah. Dia 5 bersaudara saja kadang pusing kalau dulu ada konflik adik kakak, apalagi ngurus anak berjumlah puluhan. Buat yang sanggup silahkan. İni hanya berbagi pemikiran kami berdua saja.

Saya sempat bertanya juga, semisal ketika beranjak menua, saya wafat duluan, ”kamu bagaimana?” ” mau nikah lagi?” dengan santai dia malah bilang. ”apa harus nikah lagi?’ Tau ga sih pusing memulai kehidupan dari awal lagi, kayak ngulang ngulang lagi fase menikah,ngurusin rumah tangga lagi, belum masalah datang lagi” –saya bisa sendiri ada anak-anak, saya ingin berpetualang” ya ujungnya tetap itu terus.

Kesimpulannya dari tulisan muter muter diatas:

si Suami paham ada praktek poligami, buat yang mampu silahkan saja, asal syarat terpenuhi, mikirin kesejahteraan, pendidikan anak keturunannya, bukan cuma ajang bangga-banggain bisa punya istri banyak doang. Tapi kesejahteraan dan pendidikan anak terbengkalai. Malah istri istrinya yang bekerja keras? Lelaki yang ga punya harga diri? Cuma besar mulut? apa namanya.

Dia lebih milih praktek sunnah lain, terserah kalau ada yang bilang tipe lelaki gini lemah atau kurang paham agama. Jidatnya memang ga membiru tapi saya jadi saksi sendiri gimana sikap dia di masyarakat, dapat gelar pendonor darah terbanyak se provinsi sampai dapat medali kehormatan sudah cukup saya menilai jiwa sosialnya buat nolong orang lain kayak apa.

Ya maklum mungkin kami masih jauh dari pasangan ala ala couplegoal syahr’i –soal surga dan neraka itu hak preogratif Allah SWT, jadi kalau dipaksa harus setuju tentang Poligami, silahkan saja asal jangan kami:D banyak hal yang ingin saya atau suami lakukan di dunia selain urusan menuhin syahwat saja.

4 Comments

  1. Rumus kejatuhan pria pada umumnya : harta, tahta, wanita…
    (Kalau perempuan yg terakhir : belanja dan kuota) :))

    1. Author

      Haha iya, tp kl nanya dia ttg poligami itu artinya: banyak duit, dia kl byk duit fokusnya mending ngehabisin sendiri jalan kmn dia suka drpada kasih makan anak org lagi, apalg nambah anak😅 jawaban akan berujung kesitu mulu kl dipancing

  2. Ada yang bilang poligami ibarat pintu darurat di pesawat, cuma boleh dipakai saat darurat.

    1. Author

      hehe tapi skrg banyak yg keluar konteks mba..malah dikomersialkan sengaja nyari peminat trus diseminarkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *