Beberapa kali saya baca ulang keyword yang masuk ke Blog Keluargapanda, contoh: Cara membuat Pria Turki jatuh cinta? Cara videocall dengan pria Turki, Tipe perempuan kesukaan orang Turki,Bagaimana cara mencari aplikasi cowok Turki di Badoo. Sering juga ada İnbox dari adik-adik yang sedang kasmaran, berumur belasan, Kenal baru sebulan, lalu bertanya? apa dia serius? lah…, Baru dibisikin Seni seviyorum, langsung buka Google: Bagaimana caranya Menikah dengan Orang Turki! Nikah muda Jadi impian.

Bukan mau Julid sih, tapi syukur kalau mau dibaca dulu tulisan ini. Ketika berada di puncak usia Remaja, apa yang teman-teman (terutama yang udah Menikah) Lakukan? Semisal baru masuk kuliah tahun ke-dua.

Kalau saya Pribadi, Mikirin kapan lulus, kapan wisuda dan kapan bisa bekerja, punya Gaji sendiri. Menikah? entar dulu lah…, Apalagi kalau punya kesempatan Kuliah ke Luar negeri, atau punya otak secemerlang Maudy Ayunda, yang galaunya level dewa: Mau lanjut kuliah di Stanford apa Harvard.

Usia Galau

Usia akhir belasan dan awal dua puluhan kesempatan emas mengejar mimpi. Dan ketika ada adik remaja Curhat ‘galau’ punya pacar dari Dating online, nanya hubungan serius dengan Pacarnya? Sedang masa Kuliah?Duh dek.., daripada mikir si abang yang belum jelas nyalinya ngajak berumah tangga, coba pikirkan juga bagaimana kedua orangtua yang sudah biayai pendidikan kamu sampai jenjang Kuliah. Saya pribadi suka gemas, sama adik-adik ini.

Penyumbang utama pemikiran tentang konsep Nikah Muda, bisa datang dari İnfluencer, selebgram yang difollownya, Atau karena keseringan melihat foto-foto pasangan idola muda di sosial media. Tapi petakan juga kondisinya dengan orang yang di idolakan, Hubungan mereka tidak bisa jadi tolak ukur untuk hubungan yang akan dijalani sendiri. Sekarang makin banyak remaja galau mencari pacar online, saking ngebetnya ga nunggu di ‘tembak’ malah nekad nembak si pacar onlinenya.

Baca: Agama nya orang Turki

 

Saya tidak menakut-nakuti tentang urusan dokumen menikah dengan orang asing itu susah, tapi kenyataannya emang susah! Ada yang karena Bucin’ ,mabok cinta sama Bule atau Pria Turki, Mau aja di ajak Nikah, Mau aja disuruh datang ke Negaranya nyelonong sendirian, beberapa kasus yang terjadi seperti jadi korban pelecehan sexual, korban penipuan, tetap ga bikin kapok. Pernah dapat cerita yang menurut saya, konyol tapi ya kenyataan, Pria Turki yang baru melek internet kenal sama perempuan İndonesia, ngajak nikah, menggampangkan semua urusan, dia pikir, nikah ya nikah aja terus bisa hidup bareng layaknya pasangan normal di negaranya, ga tahu apa itu İkamet (resident permit) izin tinggal untuk orang asing, karena tingkat literasi diantara mereka yang sedang mabok cinta juga kadang rendah, maunya bagian İndah-indahnya aja dibaca, lalu ketika dihadapi dengan urusan setumpuk dokumen: gagap nya minta ampun. Belum rendahnya penguasaan bahasa asing, jadi problem tersendiri.

Saya pernah di inbox, seseorang yang terobsesi maunya menikah dengan Orang Turki, hubungan pertamanya gagal, lalu berjuang lagi mencari Pria lain, keterbatasan bahasa, berkali-kali İnbox ulang, menanyakan terjemahan, atau kirim screen shoot percakapan dengan Cowok incarannya, Selang satu bulan, menanyakan Proses Menikah dengan Pria Turki, Proses Kilat! seperti sebuah keharusan baginya mendapatkan Pria asing. Bahkan ada yang sengaja melakukan perselingkuhan demi bisa bersama lelaki pujaannya, datang ke negara pacar onlinenya, Bilang sama suaminya liburan, taunya ngejar pacar di negara kebab. Moral? sudah kalah sama kebutuhan selangkang**n dan mabok muka bule dengan hidung mancung. Harga diri? dihempaskan. Soal Azab, nanti-nanti dipikirkannya. Ya kalau umur panjang.

Photo by Alvin Mahmudov on Unsplash

Pelaku kawincampur

Memang saya juga salah satu dari ribuan pelaku kawincampur Perempuan İndonesia dengan warga negara asing, tujuan utama tetap menulis seperti ini, hanya salah satu cara saja ngebantu teman-teman, biar tidak sampai mengalami kejadian berulang-ulang yang memalukan. Selain kerugian diri sendiri, nama baik perempuan İndonesia juga sering dianggap sebelah mata. Dulu saya mikirnya Perempuan-perempuan pengejar Bule itu hanya berkeliaran di negara eropa sama, sebagai benua impian.

  Baca: Pandangan Cinta dari berbagai negara

Turki negara İncaran baru

Semakin gencarnya Pemberitaan tentang negara Turki, apalagi Media banyak yang menjual berita laris berbalut ‘agama’. Menyoroti Pemimpin negara Turki dan diperbandingkan dengan Pemimpin Negara sendiri. Kesalehannya, kedermawananya dan segala permak cerita seakan, Pemimpin Umat terbaik? lalu bisa hidup di Negara yang dipimpin ‘orang saleh’ ini jadi impian si pengejar bule İslami, soal muka Bule, mata biru, stok di Turki juga banyak. Berbelok lah mencari Pria İdaman, seperti lewat keyword yang masuk ke Blog ini.

Maunya dapat Bule udah İslam tanpa harus di-İslam-kan dulu. Yang ga makan babi, yang ga minum vodka, beer. Ehmm..bangun dek…,

Belakangan ini semakin banyak kasus muncul kepermukaan, Grup-Grup di Media sosial seperti Facebook, jadi ajang tempat mereka mencari Pria pujaannya, dari yang judulnya Grup belajar bahasa berubah jadi Grup pencari Jodoh, ada juga yang mengambil keuntungan dengan menjadi makcomblang, menjodohkan pasangan, yang kadang ga peduli status yang dijodohkan, asal bisa menerima keuntungan. Praktek seperti ini ada? Ada. Kalau akhirnya berkasus, mereka angkat tangan. Ada yang akhirnya bercerai? banyak. Dokumen ditahan si pasangan.Runyam.

Baca Orang Turki kurang Sabar

Menikah Muda

Menikahlah di usia yang benar-benar siap secara mental, saya bukan penganut nikah muda, dan tidak menyarankan, kalaupun dalam beberapa kasus banyak yang berani ambil keputusan menikah muda, mereka juga tidak bisa jadi tolak ukur akan jaminan kebahagiaan kita sendiri. Karena menikah bukan perlombaan.

Di masa lalu, segera nikah itu baik. Di masa kini, problemnya lebih komplek. Yang belajar falsafah sejarah dan psikologi perkembangan, akan mengerti tingkat kedewasaan orang di masa lalu dengan sekarang berbeda.

(@gus-taa)

Pernikahan dan Membina rumah tangga itu, bukan urusan ‘birahi’ semata, demi alasan menghindari zina, Memang Nikah Muda itu Sunnah, tapi memantaskan diri dengan kesiapan dan kualitas itu wajib. Apalagi jika menikah dengan warga negara asing, Harus siap Mental, lalu kualitas diri? Nah kualitas diri ini yang bagusnya ditempa dulu, Bekali dengan ilmu yang cukup, jangan korbankan pendidikan.

Baca: Dalam Pernikahan Cinta saja tidak Cukup

Kalau masih sekolah, Kuliah, selesaikan dulu, pergunakan kesempatan yang ada, untuk bahagiain diri sendiri, orang terdekat. Banyak yang harus dipertimbangkan. Tidak semua orang siap dalam kondisi jadi ibu rumah tangga 24 jam di rumah. Sedang rumah tangga di Turki umumnya lebih menginginkan peran ibu rumah tangga penuh waktu.

Salam