Menginjak hari ke 10 ramadhan tahun 2018, Suka duka saya berpuasa dan berlebaran di Turki,
Ngebandingin sama Puasa dan lebaran di kampung halaman , ya jauh banget.
Pertama, Puasa di Turki lumayan lama, maghrib sekitar jam setengah sembilan malam.
Menu berbuka puasa dan sahur yang tentu saja ala Turki, tapi ini juga pilihan, sebagai perantau, banyak yang berkreasi masak makanan nusantara untuk menu berbuka atau sahur.
Ajakan Bukber: ini juga pasti ada, umumnya mengundang Bukber ke rumah, atau datang ke KJRİ maupun kedutaan , biasanya tiap weekend selalu mengadakan buka puasa bersama seluruh WNİ, yang menarik selain hidangan nya menu indonesia, juga ada stand baazar İbu-ibu indonesia, jadi bisa sekalian belanja menu makanan nusantara siap saji.
Untuk saya pribadi, beberapa kali ramadhan sudah mulai adaftasi, adaftasi dengan suasana yang tentu saja berbeda dengan terakhir saya di Tanah air.
Kalau mikir saya bisa tarawih di Masjid biru tiap hari?
lokasi tinggal saya lumayan jauh dari center turis İstanbul, butuh 2 -3x berganti kendaraan, naik metro subway saja hampir 40 menit dr daerah rumah masih sambung naik ferry nyebrang bhosporus, masih harus jalan kaki atau sambung tramvay, İya jauh banget:)
Jadi hari-hari Ramadhan saya di Turki?
Disibukkan dirumah dengan anak-anak saja, alhamdulilah:)
Sebenarnya ada pengajian selepas dhuhur juga disekitar rumah, nah lagi-lagi balik ke anak-anak yang tidak bisa saya tinggal atau titipkan, apalagi masuk jam tidur siang si bungsu. Lalu pilihan ngaji sendiri dirumah itu yang terbaik-inipun kalau aman dari jangkauan si bungsu yang masa-masanya eksplor sana-sini–
Pagi selepas sahur, jam imsyak sekitar 3.30 pagi, saya cuma bisa tidur sebentar, begitu anak-anak bangun, rutinitas sehari-hari tidak ada perubahan, tetap harus masak untuk sarapan anak-anak, menjelang siang biasanya menidurkan si kecil, selepas  dhuhur wajib keluar rumah untuk bermain di park, biasanya sampai azan ashar baru mereka mau pulang, sampai rumah istirahat sebentar, lanjut sholat, mandiin anak dan masak.
Begitu selesai buka puasa, sudah jam sembilan malam, anak-anak pun mulai mengantuk dan saya harus menidurkan si kecil.
Tarawih ke masjid?
Sepertinya saya harus bersabar (lagi) karena jam tarawih menjelang tengah malam sekitar jam sepuluh malam  keatas,dan baru selesai jam sebelas malam, meninggalkan si bungsu dirumah juga pilihan sulit. Tarawih sendiri dirumah jadi opsi terbaik sambil menjaga sikecil.
Zaman single ramadhan biasa saya isi dengan ikut berbagai kajian ramadhan di masjid-masjid besar jakarta, bukber bersama sahabat-sahabat dekat, ikut kegiatan sahur on the road, berbagi hal positif, buka puasa dengan anak-anak panti. Sebisa mungkin mengisi bulan ramadhan dengan kegiatan bernilai sosial dan ibadah, selagi ada kesempatan saya berusaha untuk ikut terlibat.
Lalu ketika menikah dan berkeluarga, saya berfokus dengan keluarga kecil, walau ga dipungkiri rasa kangen itu ada, menikmati suasana ramadhan yang menyenangkan, sesekali saya buka youtube lalu nonton video tentang ramadhan atau lagu-lagu religi bertema ramadhan terutama lagunya tompi.
Lebaran di Turki?
ini juga jadi alasan terbesar teman-teman saya untuk memilih Mudik di hari raya ke Tanah air.
Karena suasaa lebaran yang tidak begitu ‘Kental’ di Turki, apalagi suasana malam takbiran?? senyap. Meski sama-sama  negara bermayoritas muslim tapi tidak bisa disamakan cara merayakan hari raya-nya. ( lebaran besar itu hari raya idul adha dengan libur nasional lebih lama 1 minggu, idul fitri maksimal 3hari saja) Hari raya di indonesia memang jauh lebih semarak, Malam takbiran yang kadang membuat saya paling rindu tanah air, di Turki tidak dirayakan malam takbiran dengan suasana ramai, mungkin hanya suporter sepakbola saja yang turun kejalan untuk pawai merayakan kemenangan Tim nya di negeri ini.
Yaa di Turki tidak ada malam takbiran seperti  di İndonesia, gema takbir ada tapi hanya di dalam masjid saja, itupun tidak terdengar lewat speaker luar dari masjid.
Sayup-sayup terdengar gema takbir idul fitri ketika waktu sholat idul fitri dipagi hari.
Menu hari raya pun tidak se ‘wah’ indonesia, Hari raya idul fitri pun disebut seker bayram lebaran yang manis-manis? karena hidangan yang disajikan kebanyakan serba manis mulai dari baklava,coklat-coklat, permen.

sarma dan baklava

Menu special tidak jauh dari sarma dan baklava, Lainnya menu biasa sehari-hari. seperti menu pagi dihari raya, kami hanya sarapan biasa ala Turkish breakfast.
Libur idul fitri
Biasanya libur nasional 3 hari tapi kadang juga cuma 1 hari, seperti libur suami, meski dia bekerja di pemerintahan, karena ada tugas yang tidak bisa digantikan, jatah lebaran nya hanya diberi 1 hari. memikirkan mudik  ke rumah mertua saja rasanya tidak mungkin, jadilah lebaran  cukup bersilaturahmi dengan kerabat dan kenalan saja di İstanbul, besoknya langsung masuk kerja seperti biasa.
Awal-awal merasakan suasana ramadhan di Turki memang butuh adaftasi, banyak juga acara berbuka puasa bersama seperti diadakan belediye-belediye dengan menutup jalan lalu memasang meja kursi disepanjang jalan, baazar ramadhan pun dibeberapa titik pusat keramaian digelar selama ramadhan.
Tapi suasana hangat ramadhan di indonesia memang tidak tergantikan, apalagi  kalau mengingat kenangan masa kecil, tiap subuh selepas sahur, banyak yang berjalan kaki alasannya olahraga tapi lebih banyak bermain, terutama waktu itu main petasan atau ‘meriam’ dari bambu. Suasana ceria dipagi hari, kalau di kampung saya biasanya kami menuju kompleks LAPAN, area jalan di kompleks lapan yang lenggang dan asri selalu jadi pilihan untuk olahraga pagi , muda mudi kumpul, bahkan terakhir saya mudik, rutinitas hari minggu pagi selalu datang ke kompleks lapan, Warga dibebaskan masuk area kompleks untuk olahraga dan melihat koleksi rusa di taman kompleks. Hiburan murah meriah dan tentu saja menyenangkan terutama untuk anak-anak saya.
Kalau bercerita puasa dan lebaran memang tidak ada habisnya apalagi tentang cerita puasa dimasa kecil, boleh share loh dikomen,  atau ada yang mau merasakan sesekali lebaran di Turki, saya doain kesampaian:)