Semenjak menikah saya baru pertamakalinya merasakan apa itu ‘mudik’. Dulu ketika kecil dan menonton siaran Tv liputan mudik di TV, selalu berandai-andai, kapan bisa ngerasain pulang kampung seperti mereka , Keinginan kecil yang terlalu aneh, disaat orang-orang menghindari kemacetan,drama mudik sepanjang pantura, sering sekali dengar cerita tetangga atau teman yang mudik ke kampung salah satu orang tuanya. Maklum, keluarga besar saya asli satu kampung, emak dan bapak saya masih ada ikatan saudara, berjodoh.Baik kakek-nenek dari pihak emak dan bapak tinggal di kampung yang sama. Cuma bertetangga RT saja. Dan kedua orangtua juga tidak merantau jauh.

Cerita Mudik di masa kecil

Begitu hari raya kumpul di rumah nenek dari pihak emak, lalu menjelang sore berkunjung ke nenek dari pihak bapak, sehari selesai. Tanpa perlu menginap dan segala kerepotan cerita Mudik seperti teman-teman saya.

Sampai pernah bilang ke si emak: ” pengen deh ngerasain mudik mak, kayak orang-orang di Tv, desek-desekan naik kereta”. keinginan anak kecil yang terlalu polos. Kata si emak: ” iya entar, pasti kamu akan ngerasain mudik kalau sudah menikah”. ” Nikah sama orang mana mak?” tanya saya. ” yang beda pulau, entar bisa ngerasain mudik” . Beberapa tahun kemudian, ucapan si emak terbukti, Allah mengabulkannya, saya bisa ngerasain mudik, beda pulau yang jaraknya kira-kira berjarak 15966 km. Beuh jauhnya. Memang beda pulau, antara pulau jawa dan pulau di Turki.

mudik lebaran pertama setelah menikah.

Mudik pertama kalinya bareng keluarga

Mudik pertama kalinya tahun 2014, waktu si Fatih, anak pertama saya berusia 11 bulan. Kami mudik bertiga dari İstanbul, suami hanya 15 hari saja mendapatkah jatah cuti kerja, itupun penuh drama sebelum hari-H. Karena tiba-tiba harus ikut pelatihan dari lembaga Uni eropa di salah satu hotel di İstanbul, kalau tidak ikut bisa bermasalah dengan pekerjaannya. Dilema. Sampai harus ngurus izin bolak balik minta ikut pelatihan lebih awal dari jadwalnya yang berbarengan dengan rencana mudik kami ke İndonesia. Bersyukur atasannya mau membantu, mengajukan perubahan jadwal pelatihan ke Pusat Ankara untuk suami dan di-acc untuk ikut gelombang pertama. Kalau engga, tiket hangus. Karena jadwal pelatihannya berbarengan dengan hari keberangkatan.

cerita mudik turki-indonesia

Persiapan Mudik apa saja yang dibawa:

Oleh-oleh untuk Sanak Family

Mudik pertama benar-benar dipersiapkan dengan matang, termasuk dengan mencari oleh-oleh untuk keluarga. Berbagai makanan khas Turki saya bawa, selain cinderamata. Dan sayangnya sebagian besar keluarga saya kurang suka dengan makanan khas Turki, terutama Baklava, menurut mereka terlalu kemanisan,serasa makan gula hehe, jadi pilihan aman lainnya, saya bawa aneka cemilan kacang-kacangan yang sudah pasti tidak tertolak: almond, walnut dll.

Obat-obatan Anak

İni rasanya barang wajib untuk anak yang saya bawa, termasuk urusan kelengkapan imunisasinya, saya urus lebih awal setelah konsultasi dengan dokter di sağlik ocagı, beberapa resep obat untuk jaga-jaga. Karena adaftasi anak dari negara 4 musim dan pertamakalinya berkenalan dengan udara tropis. Sebagian koper saya didominasi keperluan anak. Termasuk membawa diapers sendiri, ketika kurs lira masih tinggi, setelah dibandingkan, jadi jauh lebih mahal jika beli di indonesia*karena jatah bagasi anak juga ada 10 kg*saya pakai untuk semua keperluan dia semaksimal mungkin.

Dokumen kewarganegaraan anak

Karena anak berkewarganegaraan ganda, ketika mudik ke İndonesia, saya manfaatkan sekali untuk mengurus administrasi kependudukan versi İndonesia, seperti membuat kartu keluarga, akta lahir, dokumen penunjangnya saya siapkan untuk dibawa dari negara tinggal.

Dana cadangan

Uang yang sengaja terpisah dari uang lainnya untuk jaga-jaga, salah satunya kalau sampai anak sakit dan harus dirawat. Fatih ketika mudik pertama kena diare dan saya sempat membawanya ke UGD, panas tinggi. Entahlah menjadi momok sekali ketika mudik pertama kalinya buat anak balita ke Tanah air İbunya, beberapa teman juga sempat menceritakan pengalaman serupa. Daya tahan tubuh anak yang kurang, kena sakit selama mudik. Cuaca yang saat itu memang pancaroba.

Lebaran pertama di İndonesia bareng anak

Karena Babanya tidak bisa cuti sampai hari raya, dia pulang duluan ke Turki, saya dan anak menyusul sebulan kemudian. Pengalaman berlebaran pertama Fatih di İndonesia, Suasana lebaran di kampung jelas terasa berbeda dengan lebaran di Turki, apalagi hari raya idul fitri dirayakan biasa saja, tidak seperti di İndonesia yang jauh lebih meriah, pokoknya jauh sekali bedanya. İndonesia lebaran yang paling menyenangkan.

Semoga suatu saat babanya bisa merayakan hari raya idul fitri di İndonesia, melewati malam takbiran yang meriah-karena di Turki, malam Takbir umumnya tidak digemakan lewat speaker-speaker masjid apalagi pawai obor, suasana hening layaknya malam-malam biasa. İni juga salah satu yang membuat saya mengalami kultur syok, tidak adanya gema takbir hari raya idul fitri. Gema takbir hanya dikumandangkan di dalam masjid saja, suara takbir dari speaker masjid tidak terdengar, dan hanya terdengar suara takbir di pagi hari sebelum solat idul fitri saja. Ditambah umumnya muslimah di Turki banyak yang tidak diwajibkan solat hari raya, mereka lebih memilih di rumah, untuk sebagian seperti di masjid biru, disediakan saf solat untuk muslimah, tapi di masjid-masjid biasa termasuk jarang.

Cerita Mudik hari raya selalu menyenangkan, sayangnya 2017 saya tidak mudik mendekati hari raya, karena mepet dengan pengurusan ikamet yang mendekati waktu untuk perpanjang, belum urus pasport dan dokumen anak ke-dua. Jadi memilih mudik setelah hari raya idul fitri. Semoga Tahun depan bisa mudik lagi sekeluarga, terutama mengajak suami, dia belum pernah merayakan hari raya di İndonesia.