Setiap hari Rabu, ada pasar buah dan sayur di Pusat kota İskilip, Biasanya Suami yang pergi ke Pasar setiap hari Rabu, tapi dalam satu bulan, ada 1 hari Rabu yang dia tidak bisa pergi karena masuk kerja shif Pagi. Kebetulan Rabu 10 april ini, Jadwal kerja pagi.

Sehari sebelumnya saya bilang, Mau jalan sama anak-anak ke Merkez. Karena Dolmus yang masuk area tinggal adanya setiap 2 jam sekali, saya berusaha menyesuaikan jadwal Angkutan ini. Niat awal, Pergi naik angkutan jam 12 siang, sebelumnya saya juga ngecek waktu sholat dhuhur, karena lokasi tinggal sekarang jauh dari Masjid, tidak terdengar suara azan ke arah komplek. kebiasaan mengecek jadwal sholat saya lakukan lewat internet. Waktu sholat pukul 12.52. Nah Entah kenapa saya kok malah santai-santai aja padahal jam mendekati pukul 12 siang, belum siap-siap turun ke bawah. Ternyata yang saya ingat jam Sholat, bukan jam datangnya Dolmus, lahhh…bakbikbuk menyiapkan anak-anak, sampai lari-lari turun ke bawah. Sayangnya ketinggalan Dolmus.

Naik lagi ke atas, nunggu jam 2 siang, jadwal Dolmus selanjutnya. Sekalian sempatin sholat Dhuhur dulu sebelum jalan ke Carsi. Karena tidak mau ketinggalan dolmus ke-2x, turun lagi ke bawah jam 1.30, lebih awal.

dolmus atau angkot

Karena Dolmus ini sebenarnya menggunakan jenis mobil yang sama dengan mobil service biasa. Warna putih. Berbeda dengan Dolmus di kota-kota besar. Nah kadang juga dolmusnya tidak ada tulisan di depan, seperti di gambar. Dolmus putar balik di depan lapas.

Dari arah Lapas, mobil service yang saya kira dolmus biasa, berhenti di depan gerbang, waktu itu dalam hati: ‘‘ kok tumben dolmusnya datang lebih cepat’‘ Ditanya sama supirnya: ” mau ke carsi?”. ” saya jawab: ‘‘ya’‘. Tanpa pikir panjang naiklah masuk ke dalam. Sebelum duduk di kursi penumpang, saya keluarkan uang kertas lembaran 10 lira, untuk membayar ongkos menuju Carsi. Tapi si supir dengan sopan menolak, dalam hati: Wuih tumben naik dolmus gratis.

Di dalam Dolmus

Penumpang di mobil sebelumnya ada 4 orang ditambah saya dan anak-anak. Kami duduk di kursi belakang, Alya dan Fatih malah tertawa lepas selama perjalanan, tapi herannya penumpang di kursi depan, wajahnya anteng semua. Biasanya, Supir Dolmus yang menuju arah komplek selalu ramah, interaksi dengan penumpang, Layaknya teman lama, Tapi Mobil yang saya naiki ini terasa beda. Selain tentu saja kursi penumpangnya juga lebih bagus dari biasanya, tidak difungsikan layaknya Dolmus biasa. Tapi ah bodo amat, mungkin karena habis Pemilu Walikota, siapa tahu ini Dolmus baru yang digunakan oleh Belediye.

Supir tetap mengantarkan saya dan anak-anak ke Carsi, turun tepat di seberang Pasar mingguan. Karena tetap ga enak hati, saya ulang untuk menyerahkan ongkos (ngeyel kudu bayar:D) masalahnya penumpangnya juga ga penuh. Takutnya si supir merugi. Tetap ditolak. Ya udahlah kalau gitu rezeki.

Saya mengajak anak-anak main di Merkez, menyusuri jalan ditengah kota yang tidak begitu padat, karena kota kecil, Pusat kotanya mudah dijelajahi. Melepas lelah di taman kota, Membeli 2 roti simit dan 2 kaleng jus untuk Alya dan Fatih, Sesekali mengabadikan mereka dalam kamera ponsel, Pemandangan di Taman kota kurang begitu menarik, entah kenapa pengunjungnya di dominasi kakek-kakek tua semua, Pensiunan. yang sibuk bercengkrama di taman kota, ngobrol sambil ngecay di Cafe. Kemudian jalan-jalan dilanjutkan menyusuri sungai kecil yang membelah kota dan lanjut menuju Pasar Buah dan Sayur, lalu membeli beberapa keperluan di minimarket. Pulang dari Carsi, naik Dolmus biasa, Supirnya juga sudah mengenal kami.

Malam. Begitu Suami pulang kerja dan siap-siap untuk menyantap makan malam, saya cerita pengalaman siang tadi, pergi ke Carsi dan main ke Merkez bareng anak-anak, Cerita tentang Dolmus yang agak ‘Mencurigakan’.

Suami kaget. ”Ne !!” ” kamu naik mobil itu? Jangan ulangi lagi”. ” İtu mobil service untuk narapidana”. ”kok bisa kamu naik??” Pertanyaan dengan nada penuh keheranan.

‘ Lah supirnya aja berhenti di depan komplek, nanyain tujuan mau kemana? ya naik aja”.

”İtu bukan dolmus”. ” Bahaya”. Asli suami kaget dengar saya ikut menumpang mobil service tahanan hhaha. Jangan dibayangkan layaknya di film- film ya, berseragam khusus atau mobil tertutup yang dikawal tentara. Karena İni bukan Lapas jenis itu. Tapi pengalaman siang tadi cukuplah sebagai : once in a lifetime experience.

Lain kali saya harus ngafalin wajah supir dolmus yang lewat ke area tinggal, biar ga asal naik. Bapak supirnya juga kok ya baik banget main angkut aja, Tapi saya ga khawatir berlebihan juga, kalau 4 orang itu dianggap bahaya, pastinya si Bapak supir ga bakal berhenti nawarin tumpangan untuk saya pergi ke pusat kota yang kebetulan searah. Apalagi bawa anak kecil. Tapi suami menjaga sekali interaksi kami sama ‘mereka’ alhasil kaget sendiri sama kelakuan İstrinya. Dan Ternyata saya dikira turis nyasar..hahah.