Tinggal pertama kali di Turki dan di pedesaan pula (walau bayanginnya di İstanbul deket masjid biru gitu hehe) Ok lah terima nasib saja dulu dan nikmatin segala moment, karena sekecil apapun pengalaman itu berharga, kehidupanberputar terus dari yang awalnya tinggal di desa, ga ada warung bakso (ngarep amat mba:) saya banyak belajar selama di desa, pelajaran ilmu boga–wuihhh keren, anggap aja keren.
Pelajaran dan pengalaman pertama:
 Bisa motong ayam utuh!
ya Allah motong ayam aja baru bisa pas baru nikah, dulu biasanya ibu saya kalau mau masak ayam, terima bersih dan sudah dipotong-potong sama tukang ayam langganan. Jadi saya ya mana tau ‘ngejagal’ ayam gimana.
semua berawal dari desa pınarcay, pengen masak ayam, nah ayam potong ya gak ada yang jual di desa, harus pergi ke pasar di kota corum, butuh waktu 1 jam dari jalan kaki ke halte, nunggu bisa dan sampai di kotanya. Mertua punya kandang ayam, isinya ayam kampung semua. Beliau menawarkan saya kalau mau masak ayam, potong aja ayam di kandang 1, lalu suami inisiatif motong ayam, berdua sambil mikir gimana caranya motong ayam ini sampai siap masak, nyabutin bulu-bulu nya aja lama, ibu mertua lihat dan kemudian ngajarin saya mana saja bagian ayam yang mudah dipotong, teknik nyabut bulu ayam yang keras pun beliau ajarkan. waktu itu saya tertarik juga dengan ceker ayam, pikir saya ceker ayam enak di sup. Karena di İndonesia orang makan ceker ayam ya biasa, sengaja saya sisihkan ceker ayamnya.
Saya cuci ayam bersih, kemudian menanyakan sama suami kemana ceker  ayam yang saya simpan dipojokan tadi, karena sengaja saya pisahkan. kata dia, ceker ayam dan semua jeroan ayam dibawa ibunya dikasihkan ke anjing liar yang selalu mampir ke pekarangan rumah.
yah…, gagal sudah cita cita masak ceker ayam!ibu mertua mikir kalau ceker ayam ga layak dimakan apalagi usus nya juga (duh mak belum tau sih ya betapa nikmatnya bubur ayam pake sate usus, atau mie ayam ceker) setiap ibu mertua motong ayam masa saya bersaing sama anjing liar-.-‘ setelah itu saya tidak pernah memikirkan lagi ngolah ceker ayam di rumah ibu mertua, karena pasti jadi bahan pertanyaan dan ujungnya jadi obrolah pengantar ngeteh sekeluarga besar.
Percobaan-percobaan bikin bakso,tempe pertama kali di desa, hasil sering nge youtube, praktek didapur mertua,hasilnya failed semua!
Mimpi buruk dengan panci presto.
Masak ayam kampung biar cepat empuk, memakai panci presto. Saya cuma lihat, dan jujur saja saya ga tau gimana makai panci presto tersebut. Jika masakan matang pancinya mengeluarkan desisan suara.
Waktu itu ibu mertua menyuruh saya mematikan api di kompor dan angkat daging ayam yang beliau rebus.İya saya nurut banget, matikan kompor, panci prestonya langsung saya buka dan.., Dhuarrrrrrrr!! isi panci nya tumpah ruah didapur, panik! iya panik, kaget bercampur aduk, berasa ada bomb! duh kalau inget itu sedikit trauma, dan sampai sekarang jangan harap saya bisa memiliki panci presto didapur sendiri, suami sama sekali tidak mengizinkan saya beli panci presto akibat kejadian dirumah ibu nya itu.
Pesta dan adat Turki yang bikin syok
Waktu itu tetangga rumah yang masih kerabat juga, mengadakan pesta syukuran pernikahan anaknya, jadi ada acara makan-makan di rumah, mengundang seluruh penduduk desa, sang tuan rumah membayar koki dan pelayan khusus untuk acara makan-makan tersebut, dan umumnya pesta adat orang Turki, setelah acara prasmanan, para tamu pria menarikan tarian halay, seperti di video ini:

dan yang membuat saya kaget adalah, sambil menari salah satu penari nya melepaskan tembakan ke udara! seperti umumnya adat-adat timur tengah, duh  dengar suara pistol beneran dari dekat, jelas saya kaget, lalu  buru-buru pulang ga tertarik mengikuti acara sampai selesai, dan sampai tengah malam beberapa kali tembakan senjata ke udara terus dilakukan, saat itu saya kok berasa di zona perang-.-‘ 
untuk urusan senjata pas pesta gini sering memakan korban, tertembak tidak sengaja, sampai kehilangan nyawa, banyak kasus yang saya lihat di TV lokal, pemerintah Turki  mulai  melarang penggunaan senjata  untuk pesta, sampai iklan layanan masyarakatnya sering sekali diputar tiap hari, tapi pada prakteknya ada aja yang melanggar.
Salju pertama
Musim dingin tahun 2011, dan saya tinggal di desa. Salju turun dengan lebatnya , sekali turun sampai selutut orang dewasa, kalau mau dibilang norak! ya sebagai anak tropis awalnya saya juga norak, karena langsung ketemu salju banyak.

seharian main salju bareng suami, main bola salju, main perosotan, kami tidak perlu pergi ke resort sky yang berbayar, cukup bermain di perbukitan didesa saja cukup bahagia dan murah meriah.
Melihat Bunga Tulip
Oh ya, saya melihat bunga tulip pertama itu bukan di taman kota atau sekelas emirgan park di İstanbul yang terkenal. Tapi diperbukitan di desa mertua, Tulip liar, bunga bunga ini tumbuh liar di perbukitan, saya pernah metik jenis tulip hitam. Dan seperti foto dibawah ini, adalah bunga tulip yang tumbuh begitu saja di kebun ibu mertua, kalau baca sejarahnya memang tidak mengherankan, karena bunga tulip aslinya memang dari daerah asia tengah, sebelum diperkenalkan keseluruh dunia oleh belanda, bunga ini memang bunga-bunga liar dan sampai sekarang masih sering ditemukan tumbuh di area perbukitan salah satunya ya di daerah corum.
melihat Keledai
Kenorakan saya bertambah selama tinggal di desa, untuk pertama kalinya saya melihat hewan keledai dari dekat, keledai di zaman dulu menjadi tunggangan orang-orang di desa untuk mengangkut barang atau ditunggangi untuk menuju pusat kota, jadi kebayang cerita di dongeng-dongeng, sampai sekarang di corum masih banyak yang memelihara keledai,  keluarga ibu mertua juga sempat memiliki 1 ekor keledai,sayangnya tidak berumur panjang.
 

Foto di atas, adalah si amca yang saya ceritakan di part 1 , dimana beliau selalu menunggangi keledainya menuju halte bis. Kalau penasaran dengan keledai, di İstanbul bisa datang ke prince island-di prince island  daerah kepulauan İstanbul, ada penyewaan keledai untuk di tunggangi,sebagai atraksi untuk wisatawan.
Mata air langsung dari pegunungan.
Selama tinggal didesa, air minum langsung dari keran , Di jalan masuk desa, ada mata air yang mengalir, banyak orang sengaja datang untuk mengambil air di sini, mereka membawa galon galon besar untuk menampung air, kalau di perkotaan mengandalkan air kemasan yg mengklain langsung dari sumber mata air, saya  beneran minum langsung dari sumbernya tanpa pake kemasan dari pabrik.
Memanaskan air untuk mandi

foto ki-k: soba di kamar mandi, foto bawah: soba untuk menghangatkan ruangan dan berfungsi juga untuk memasak

kalau sekarang dirumah ibu mertua sudah dipasang panel surya, air panas bisa langsung mengalir dari keran, tapi dulu awal saya tinggal disana, setiap mandi saya harus rebus air dulu di soba, ada soba khusus untuk memanaskan air dipasang di kamar mandi, menyalakan perapian menunggu air hangat siap, saya juga harus menyiapkan kayu bakar, lalu menyalakan api di dalam soba.
Soba ini penghangat ruangan  manual, kalau didaerah perkotaan sudah banyak larangan dengan alasan pencemaran udara dari asap yang dihasilkan soba, penduduk pedesaan masih banyak yang belum beralih ke gas alam (karena kalau pasang gas ya mahal juga) kadang setiap musim dingin ibu mertua rajin membuat segala penganan roti rotian dengan oven langsung  memakai soba, ada banyak tipe soba, sebelah kanan untuk penghangat ruangan, lalu sebelah kirinya berfungsi juga sebagai oven makanan.
Cerita orang orang desa ini banyak banget yang menarik sebenarnya, saya belajar dari mereka tentang kerja keras, tentang bagaimana mencintai alam, penduduk desa biasa beraktifitas pagi hari  berbeda dengan orang Turki di perkotaan yang biasa bangun siang.
Yang awalnya memang saya sempat syok kultur dan meratapi nasip, tapi ujungnya saya nikmatin aja kehidupan di desa, mengenal orang orang turki di pedesaan.
Kurang lebih 8 bulan tinggal di desa pınarcay dan satu satunya orang asing, jadi mudah dikenali penduduk desa, awalnya suami menjanjikan 3 tahun untuk saya menetap di desa dan meminta  bersabar sebelum kami hidup mandiri, karena posisi suami si anak bungsu laki-laki dan secara finansial kami belum siap, karena ketika memutuskan menikah dan datang ke indonesia, dalam status resign kemudian sebulan setelah menikah alhamdulilah dapat pekerjaan kembali, baru satu bulan nyoba tes kpss. Lalu jalan rezeki selepas menikah di bulan ke 3 mulai terbuka, suami lolos kpss (tes cpns)  ikut seleksi di İstanbul, dan lulus segala test, mulai bekerja dan akhirnya tidak sampai 3 tahun saya sudah boyongan ke İstanbul, saya ingat betul ibu mertua dan baba mertua sampai menangis saya tinggalkan, waktu itu suami sudah berangkat duluan ke istanbul saya menyusul seminggu kemudian bareng kakak ipar sepulang dari rize city, beliau memang tinggal di istanbul dalam perjalanan pulang dari rize, kakak ipar jemput saya dengan mobilnya kemudian kami berangkat ke İstanbul, sementara saya juga tinggal di rumah beliau bareng suami, sambil cari sewaan apartemen yang tidak jauh dari apartemen kakak ipar, bermodal gaji pertama nya sebagai pns, kami nyicil beli beli peralatan rumah tangga. Rasanya hidup mandiri dan sama sekali minim sokongan keluarga, karena umumnya adat orang turki, jika menikah, isi perabotan dan rumah menjadi syarat umum yang diminta ke calon suami, isi rumah kemudian patungan dengan keluarga calon istri. Kami berdua?  nyicil nyicil sendiri karena tahu diri:) dan ada hikmahnya ga ada intervensi apapun dari keluarga tentang isi rumah kami, ya..kalau ngikutin kultur kebanyakan orang Turki, hal hal gini aja bisa jadi sumber konflik kecil-kecilan terutama drama menantu vs mertua, si mertua yang merasa sudah memberi modal besar dalam isi rumah menantu nya,lalu bisa aja ungkit ungkit, iya kadang ada aja kayak gitu.