Suami saya lahir di kota kecil Provinsi corum, daerah Turki tengah, Corum 3 jam dari ibukota Turki Ankara, berdekatan dengan kayseri, samsun dan Amasya. Untuk sebagian besar orang Turki mengenal orang Corum identik dengan orang-orang yang suka sekali dengan komedi, karakter orang corum memang suka sekali berkelakar. Ya tapi ga semua juga orang Corum berprofesi komedian. 
Saya pertama kali datang ke Turki memang tinggal di Corum, dan sepertinya berencana pulang kembali untuk tinggal disana (dan ini maunya suami:D ) menunggu surat mutasi kerja suami turun dari pusat.
Sebagai kota kecil yang dikelilingi daerah perbukitan, tapi jangan bayangin perbukitan hijau seperti daerah karadeniz, wilayah corum dengan perbukitan gersangnya-.-‘  center kota di kelilingi perbukitan seperti foto dibawah ini.

kota corum dilhat dari desa mertua

jalanan menurun menuju desa dari halte bis

desa pınarcay

Desa tempat tinggal mertua bernama: pınarcay köyü , desa ini termasuk dalam area corum merkez, lokasinya di belakang organize sanayı (area perindustrian) dan juga berdekatan dengan lapas kelas 1 corum. Jadi walaupun tinggal di desa, untuk mencapai lokasi desa tidaklah sulit, bisa naik bis kota yang menuju organize sanayi (karena banyak pekerja pabrik dan karyawan) dan juga bis terakhir halte nya tepat di depan Lapas Corum,  sedang desa pınarcay tepat di bawah bukit, Penduduk desa memanfaatkan bis kota untuk menuju pusat corum, beberapa orangtua di desa sering jalan kaki ke atas bukit, karena halte berada di daerah atas, dan jika memiliki traktor atau keledai, mereka dengan santai memarkirkan traktor dan keledai di samping halte, saya yang pertama lihat keledai  takjub juga, berasa bertemu tokoh nasrudin hoca, seorang kakek tua naik keledai, lalu si keledai di biarkan nya merumput di dekat haltekemudian beliau menunggu bis untuk pergi ke corum merkez belanja keperluan harian- oh ya di desa ini tidak ada warung sama sekali, jadi seminggu sekali para penduduk nya akan pergi ke pusat kota untuk belanja kebutuhan sehari-hari, untuk sayur dan buah mereka umumnya bertani dan memiliki kebun sendiri di pekarangan rumah, tapi untuk kebutuhan lainnya harus beli di pusat kota.

Saya pertama kali diajak tinggal di desa, lumayan syok ya jujur saja, karena dipikiran saya desa nya ga akan jauh berbeda dengan model desa di indonesia apalagi kampung halaman saya, ke BSD aja deket, Ternyata desa yang saya temui, sebuah desa yang sepi nya kebangetan, jumlah penduduk ga sampe 100 orang, hanya berbilang puluhan, sisa nya rumah kosong yang ditinggal pemiliknya pindah ke kota dan hanya dipakai sebagai rumah untuk musim panas, beberapa lagi bangunan baru seperti villa, penduduk desa rata-rata berusia tua seperti mertua saya, anak-anak nya biasa tinggal di kota besar atau di luar negeri, jadi desa ramai jika hari raya saja, mirip lah dengan desa desa di indonesia.
Warung kelontong?
sama sekali ga ada, jadi kalau musim panas biasanya ada penjual keliling saja muterin desa kecil ini, mulai dari penjual es krim, kadang alat-alat rumah tangga karpet  dsb, kalau tiap pagi ada juga penjual roti keliling.
Umumnya penduduk desa berprofesi petani, petani gandum, begitu juga dengan mertua saya, mereka bertani gandum, berkebun sayuran, buah. Ada kebun apel warisan kakek suami,kebun anggur, beberapa pohon ceviz (walnut) dikebun dan dipekarangan rumah, buah plum, cherry ,aprikot ditanam dipekarangan rumahnya
Setiap musim panas menjelang hari raya idul adha , karena di Turki hari raya idul adha dirayakan lebih meriah, banyak anak cucu  penduduk desa yang berkunjung, dan biasanya anak-anak mereka yang sudah berkeluarga diperbantukan untuk panen raya, İbu mertua pun demikian, ketika anak laki lakinya pulang kampung, mereka dipekerjakan, kakak ipar yang  bantu panen di ladang gandum atau suami saya. Sedang menantu nya lebih banyak membantu di kebun, metik sayuran, apel, plum, atau ngumpulin kacang walnut yang siap panen.
Saya memiliki ibu mertua yang pekerja keras! dia keluar rumah dari selepas sarapan, pulang siang hari untuk sholat dhuhur lalu ke ladang lagi sampai sore, di usianya yang menginjak 75 tahunan, anak dan menantu sudah melarang beliau untuk banyak beraktivitas, karena ada keluhan sakit juga dikakinya, segala larangan anak-anak tidak digubris, merasa sehat sedikit,ada aja yang dikerjakan. Sepulang dari ladang, beliau masih sempat untuk mengurus ternak-ternak sapinya dibelakang rumah, memeras susu lalu kemudian disimpan keesokan harinya dia olah susu sapi menjadi keju, mentega,yoghurt. Sebagian beliau jual sebagian lagi seringnya dikasih ke anak-anaknya. uang hasil penjualan nya bisa sampai  jadi modal umrah dia 2 tahun lalu.
 
saya sebagai menantu yang pernah tinggal di desa, apa ikut kerja keras juga?
Saya seringnya banyak ngurus isi rumah saja, masak pun kadang-kadang, selepas sarapan, suami kerja, saya beresin rumah, cuci piring, ngevacuum,nyuci baju, begitu urusan kelar, lalu ngapain? Online:D (mantu macam apa ini-.-‘)

ki-ka: panen gandum di kebun mertua, pohon apeli anggur dan walnut yang dijemur

Saya ga ikut ikutan ke ladang, ga dipaksa juga, beberapa ada sih yang minta menantunya ikutan ngurus pertanian mertua nya,
Mertua saya alhamdulilah termasuk baik, kalau cerewet mah sesekali wajar, baba mertua  juga  baik, setiap dia pergi ke pusat kota, dia sering bawa traktor nya, atau kalau malas bawa traktor,ya ditinggal di dekat halte bis, kemudian dia pergi seperti warga desa lainnya naik bis menuju pusat corum, nah saya itu dulu sebagai gelin tapi kayak anak kecil didepan baba mertua, setiap pulang dari pusat kota, baba mertua selalu membawa berbagai oleh oleh cemilan seplastik besar dan semua serba coklat.
Syok kultur tinggal di desa ?
Saya memang lahir di kampung, kampung saya model perkampungan padat di daerah jabotabek, jadi jangan bayangkan desa diatas pegunungan, hamparan sawah yang indah, kampung halaman saya sekarang sudah dikeliling real estate dimana-mana.
Datang ke desa seperti pınarcay ini benar-benar  kena syok kultur, penyuka keramaian, biasa hidup di kota besar, terakhir saya tinggal di kost daerah jakarta pas kerja kantoran yang mana mall besar saja tinggal nyebrang jalan dari kost-an.
Lalu tinggal di desa yang penduduknya sedikit, tiap malam sepi, kadang siap haripun sepi kecuali suara traktor hilir mudik, anak-anak kecil juga jarang. Hanya orang-orang tua, bahkan muhtar-kepala desa- itupun hasil sukarela, kebetulan kepala desa nya adik baba mertua. Kalau beliau lengser harus nyari pengganti , nyari dengan cara menawarkan jabatan saking penduduknya sedikit…. (to be continued)