Desember 2018, keluargapanda resmi pindah ke kota kecil iskilip. Proses perpindahan yang penuh ujian disaat mulai memasuki musim dingin, kami sekeluarga diuji sakit terlebih dahulu, batuk pilek, flu, komplit. Suami berangkat terlebih dahulu, mengecek apartemen baru dan lokasi tinggal. Seminggu kemudian saya dan anak-anak menyusul.

Perjalanan menuju İskilip

İskilip salah satu İlce dari provinsi Çorum, jumlah penduduknya kurang lebih 25 ribuan orang saja, jauh lebih kecil dari penduduk Pendik belediye di istanbul dulu. Menuju İskilip hanya bisa dilalui jalan darat dari Pusat kota Corum, dari terminal utama Kota, hanya tersedia angkutan kecil menuju İskilip dengan jam keberangkatan tertentu. Kurang lebih 56 KM jaraknya. Perjalanan menuju İskilip  akan disuguhi pemandangan alam pedesaan dan pegunungan, juga sebuah danau besar. Jalanan  beraspal yang cukup mulus dan berkelok-kelok, hampir mirip dengan arah menuju Puncak cisarua bedanya ga ada  yang jual oleh-oleh dipinggir jalannya saja hehe. Pemandangan serba hijau, karena sekarang musim dingin jadi serba menguning, dari kejauhan puncak pegunungan sudah mulai diliputi putihnya salju. Ah ga kebayang juga sih bakal tinggal di İskilip, hidup baru.

Tinggal di Lojman

Lokasi lojman (apartemen) satu komplek dengan tempat kerja suami, terletak dipinggiran kota iskilip, kurang lebih 5 KM menuju pusat kota. Dengan ukuran apartemen 3 + 1, lumayan luas untuk kami sekeluarga, ya dibanding apartemen kami sebelumnya di İstanbul. Harga sewa setengah dari harga sewa apartemen sebelumnya, cukup murah tentu saja, fasilitas komplek apartemen juga lumayan, ada park untuk anak-anak bermain, lift di tiap gedung. Rasanya dengan fasilitas dan gedung baru, biaya sewa murah, (Tetap dikenakan biaya sewa untuk perawatan gedung) hal mustahil bisa kami dapatkan di İstanbul, meski apartemen dinas, untuk jangka 5 tahun. Tiap penghuni yang terseleksi, karena mengajukan untuk tinggal di lojman juga butuh persetujuan dari tempat kerja suami, Alhamdulilah pengajuan diterima dan kami bisa menjadi salah satu penghuni lojman.

Pemandangan dari balkon apartemen, dikelilingi ladang gandum milik warga

Menuju Pusat kota İskilip

Dari Lojman hanya hanya ada 1 minibus yang menuju pusat kota, Sebagai penduduk baru, kami mulai menjelajah pusat kota İskilip. Sebuah kota tua, mungkin kalau di İndonesia hanya sekelas kecamatan saja, pusat kota bisa dijelajahi cukup dengan jalan kaki, ngirit bukan. Saking kecilnya. İskilip kota tua, masih banyak bangunan tua berdiri, seakan kembali ketahun 1950-an, Meski kota kecil fasilitas perbank-an cukup memadai, terutama bank pemerintah, untuk pertokoan lebih didominasi Toko pribadi warga iskilip,  pertokoan semacam gerai LC waikiki dsb hanya bisa ditemui di kota çorum, sebagai ibukota provinsi.

pusat kota iskilip

Apa yang menarik dari İskilip

Karena belum menjelajah semuanya, yang menarik dari iskilip? Biaya hidup yang murah:D  untuk pariwisata? saya kasih warna merah dulu,  fasilitas masih kurang memadai, minimnya akses terutama kendaraan umum. Bis besar dari luar kota harus melalui pusat kota Corum terlebih dahulu, karena terminal besar hanya ada disana.  Kurangnya perawatan lokasi bersejarahnya,  İskilip jauh sebelumnya adalah kota kecil peninggalan zaman Romawi, selama 1000 tahun kota kecil ini menjadi tempat tinggal kalangan elite dimasanya. kalau İstanbul dulunya bernama konstatinopel, İskilip dulunya bernama Asklepios,  Jejak  sejarah dari bangsa terdahulunya yang menempati İskilip salah satunya : kaya mezarlari

Kaya mezar di iskilip hampir sama dengan Amasya.

Kuburan batu peninggalan zaman romawi

http://keluargapanda.com/jalan-jalan-ke-amasya/

Sayangnya  kaya Mezar di İskilip kurang terawat dengan baik, aksi vandalisme  disekitar  Kaya Mezar  cukup mengganggu pemandangan, dan bau pesing di bekas makam sangat menyengat, ditambah banyak sampah juga di dalamnya. Berbeda sekali dengan lokasi kaya mezar di Amasya, yang memang terawat dengan baik karena menjadi salah satu andalan tujuan wisata kota tersebut.

Penduduk yang ramah

Menjelajah pusat kota İskilip, berinteraksi dengan warga lokal, sedikit saya rasakan berbeda, warga lokal lumayan ramah, mereka tidak segan menawarkan bantuan, apalagi begitu tahu warga baru, mereka tidak segan menunjukan arah, menawarkan tumpangan jika perlu di antar.  Mungkin karena ini kota kecil, tingkat stress penduduknya tidak setinggi warga turki yang hidup di kota-kota besar, apalagi dikelilingi alam pegunungan,  Ritme kehidupan berbeda sekali dengan kota İstanbul (ya jelas lah:D) Mereka lebih santai, kemacetan kendaraan nyaris tidak ada.  Untuk 5 tahun ke depan saya harus mulai beradaftasi dengan tempat baru ini, perjalanan selanjutnya tergantung kepala keluarga, apa pindah dinas lagi. Saya dan anak-anak  tinggal ikut saja.

Salam dari iskilip