Terhitung sejak maret awal, saya dan anak-anak dirumah aja, terakhir naik kendaraan sekitar tanggal 10 maret, Pergi ke Market, belanja bulanan, ditambah Fatih juga sekolah dirumahkan mengikuti kebijakan pemerintah terkait pencegahan wabah corona covid19 di Turki.

Anak kelas satu SD dan harus dirumah aja, selama wabah Corona melanda Turki, ditambah peraturan ketat yang dikeluarkan pemerintah Turki, untuk Usia dibawah 20 tahun dilarang keluar rumah dan juga untuk usia 65 tahun keatas. otomatis kedua anak saya kena-Banned- dilarang bepergian. Awal-awal peraturan diterapkan, cukup ketat. Babanya pergi ke Pusat kota Provinsi, dan ditengah perjalanan ada razia yang dilakukan Jandarma, isi mobil diperiksa, apa bawa Manula atau anak-anak, jika tertangkap membawa penumpang usia yang dilarang keluar rumah, akan kena denda yang cukup besar. Tidak mau ambil resiko, anak-anak ditinggal dirumah bersama saya, meski untuk pribadi, sebagai ibunya saya tidak dilarang bepergian, karena usia diatas 20 tahun, tapi tidak mungkin juga meninggalkan anak-anak di rumah. Mau tidak mau saya menemani anak-anak untuk dirumah aja, segala keperluan untuk belanja dan lain-lain, babanya yang urus semua.

Kegiatan anak -anak di rumah selama masa karantina

Untuk Fatih, karena dia sudah masuk sekolah, hari-hari biasa diisi dengan tatap muka dengan wali kelasnya via online, belajar jarak jauh. Jam belajarnya dimulai jam 12.50 siang sampai jam 15.00, Fatih juga dapat buku pelajaran khusus, dan juga anak-anak sekolah di Turki, bisa menyimak di website EBA, materi-materi sekolah. Ulangan juga via online. Tidak cukup materi belajar dari guru. Babanya juga jadi rajin membeli buku online untuk Fatih belajar di rumah. Tiap hari wajib baca satu buku bacaan, kemudian nanti Babanya atau saya akan bertanya tentang isi buku yang sudah dia baca. Membuka ruang diskusi bersama anak.

Untuk adiknya yang selalu ngikutin saya kemana aja, masa-masanya meng eksplor sekitar, dia juga sering saya jadikan ‘fotomodel’ karena selama masa pandemi ini, saya menggali hobi baru yakni: fotografi. Suami memberi hadiah ulangtahun, kamera Dslr. Saya manfaatkan untuk belajar fotografi kembali, kalau teorinya sudah dapat waktu kuliah dulu tapi prakteknya kan Nol. Jadi belajar dari dasar lagi.

Alya saya bebaskan saja, dia lebih sering ikut saya masak di dapur, atau bermain dengan Abi-nya kalau sudah selesai belajar. Kalau anak-anak sudah jenuh dirumah, saya ajak keluar. Nah berhubung kami tinggal di Pluto, daerah pertanian dan jauh dari peradaban, social distancing juga sebenarnya tidak diterapkan, kadang di depan komplek juga sepi, adanya gerombolan anjing, bebek atau kawanan sapi milik petani seberang komplek. Jadi saya ajak mereka keluar. Beberapa saya posting di channel Youtube.

https://www.youtube.com/watch?v=2vN_rI2_zjI&t=13s

Selama karantina dirumah aja, saya juga menambahkan belajar iqro dan hafalan surat pendek, yang selalu dilema dengan gaya bacaan orang Turki. Dulu saya pernah ditegur Hoca-nya di TK, karena cara baca hijaiyah Fatih beda dengan anak-anak Turki, pelafalannya saja :bukan Alif ba tha tapi elif be te-.-‘ alhasil ngulang lagi, kadang dia bingung sendiri dan protes.

Jujur saja pola penerapan Parenting saya dan babanya masih jauh dari sempurna, apalagi dengan kondisi sekarang, sebagai orangtua jadi lebih dituntut untuk mengajari anak dirumah, kadang Fatih juga mogok belajar, sempat jenuh dengan PR yang hampir setiap hari dikirimkan gurunya. Pernah di hari minggu, gurunya kirim soal ujian. Liburnya tidak ditentukan hari sabtu dan minggu lagi.

Baca:

Alya juga sudah rindu diajak jalan-jalan seperti biasa, terakhir dua hari lalu, waktu saya dan babanya berbicara di dapur, karena dia akan pergi ke pusat kota untuk belanja, Alya yang tidak sengaja dengar, malah loncat-loncat senang, dikira Babanya akan mengajak dia jalan keluar. Pernah juga waktu Babanya pergi ke rumah Babaanne-nya di Koy, dia juga berharap Babanya mengajaknya seperti dulu, aduh sumpah lihatnya ga tega. Hampir 2 bulan dirumah aja, anak-anak juga merasakan jenuh, meski sering saya aja keluar rumah, ke atas bukit atau bermain di halaman rumah petani, Mereka juga rindu main di Park seperti biasa, Park yang besar. Meski didalam komplek ada fasilitas Park untuk anak-anak, bisa saja mereka jenuh, kesitu lagi-situ lagi:D

model anne

Pemerintah Turki, Bulan Mei ini secara perlahan menerapkan normalisasi , seperti pembukaan unit usaha, perlahan, Pusat perbelanjaan, dengan batas jam tertentu, lalu salon-salon potong rambut, saya sempat menonton tayangan berita Sore, kebijakan membuka kembali unit usaha seperti Salon, disambut baik, sampai ada kapster sebuah salon untuk potong rambut menerapkan antrian-rendevu para pelanggannya, agar tidak datang bersamaan, tetap menerapkan social distancing, kebetulan suami juga udah mulai panjang rambutnya, dan ragu kalau saya bisa bantu pangkas rambutnya, karena tahu niat saya ingin cukur habis biar mirip Upin-ipin. Apalagi banyak tetangga memilih mencukur rambut mereka semua, pernah saya melihat bapak-bapak komplek yang sedang ngobrol sambil menggarap lahan di belakang gedung, kompak botak semua-.-‘ dipikir kalau dirapihin istri-istrinya hasilnya mengerikan mending botak sekalian.

Bulan juni, kalau tidak ada halangan dan kasus covid menurun, Sekolah akan dibuka, namun sayangnya hanya untuk tingkat SMP-SMA, anak TK dan SD sayangnya harus tetap dirumah, Sampai liburan musim panas, dan terbayang sudah berbulan-bulan dirumah kembali, Semoga September nanti ketika tahun ajaran baru dimulai, Fatih bisa kembali sekolah normal. Masih panjang tugas saya dirumah untuk mengawasi Fatih belajar, Katanya İbu adalah Madrasah pertama, disini kemampuan dan kesabaran seorang ibu diuji, dan ujian masih panjang sampai tahun ajaran baru, ya..ya semoga saya dan teman teman yang mengalami nasip sama diberi kesabaran . Oh covid19 segeralah kalian berlalu.