Categories
Family

Cerita 3 minggu di rumah Mertua

Mudik hari raya di Turki juga menjadi ajang silaturahmi keluarga, bedanya hari raya idul adha disini diberikan libur nasional lebih lama dibanding hari raya idul fitri, libur panjang jadi ajang mudik untuk merayakan hari raya di kampung halaman masing-masing.
 Tahun ini kami sekeluarga mudik sekitar 3 minggu, biasanya 1 minggu cukup.
Untuk suami mudik ke kampung halamannya tentu saja sebagai liburan,  bagaimana dengan saya?
sebagai istri dan ibu dua anak: hanya pindah tempat saja ditambah ketemu mertua.

Lalu rasanya ‘survive’ 3 minggu dirumah mertua?

  • Alergi

 Diawal minggu entah kenapa saya terserang alergi kulit, badan bentol bentol, ga tahan untuk garuk-garuk-.-‘ Lalu meminta suami anter ke rumah sakit, pergi ke UGD di hari raya ke dua, dokter hanya meresepkan obat alergi merk allerset dan 1 salep. Padahal rumah mertua lumayan bersih, hampir tiap hari mesin vacuum cleaner nyala untuk membersihkan debu dan lain-lain di karpet. Penyebab alergi? dokter tidak menjelaskan, tapi memang dulu saya punya riwayat alergi dingin alis biduren kata orang zimbhabwe:D tapi kan itu sudah lama, tidak pernah kambuh lagi, tapi entah kenapa setiap datang ke rumah mertua, awal-awal selalu kena alergi. Jangan-jangan ada jenis alergi baru? alergi rumah mertua:D
  • kulit kering

karena daerah kampung mertua, daerah lembah dengan bukit bukit kapur (untuk yang pernah datang ke Turki dan melihat kapodakia,bagaimana alamnya, kira-kira hampir sama, jarang sekali bukit bukit hijau,tapi banyaknya tanah kering atau tandus, hanya daerah yang dekat dengan mata air tanahnya subuh, air dari pegunungan kapur membuat kulit kering,lupa bawa pelembab, lagi-lagi minta suami beli ke kota:) ga tahan dengan kulit kering dan memang saya tidak cocok dengan air di kampung suami.
  • Pola makan berubah.

Saya sarapan ala Turki,dengan menu luar biasa, apalagi dalam suasana hari raya.
Dari sarapan, makan siang dan makan malam, menunya ga akan jauh dari daging,  masak sayur ditambah kiyma atau daging giling, menu menemen ditambah daging giling. Jadi selama  1 minggu pertama, menu ‘kelas berat’ buat saya hampr makan daging tiap hari. İni bukan tentang kemewahan makan enak-.-‘ saya punya masalah gigi, rasanya sakit kalau ada sisa daging nyelip, masak daging tidak akan jauh dari kavurma (daging oseng yang hanya bumbu garam) atau et sote-daging yang dicampur sayur yakni tomat, cabe hijau dan bawang bombay.
Bosan dengan menu masak daging ala Turki, saya inisiatif masak daging ala korea:D kebetulan beli bumbu jadi bulgogi ketika mudik ke Tanah air, lalu saya panggang daging dengan bumbu bulgogi, berjejer dengan menu daging ala Turki.Menawarkan ibu mertua dan suami untuk mencicipi-sudah bisa ditebak juga sih reaksinya:
‘bu ne ya? tatli..et tatlisi mi?‘ –
kenapa manis, kamu bikin kudapan manis dari daging? ya dikira bikin manisan daging. Mereka tidak terbiasa dengan rasa kecap manis yang terasa dari bulgogi.

 

  • Tetap makan di luar

Netralisir menu serba daging di rumah, suami ngajak makan di restoran langganan kami di merkez kota, tapi menu restoran tidak akan jauh dari karbohidrat dan protein hewani,: roti, pilav, aneka kebab, kofte, sayur berkuah dengan bumbunya pun ditambah daging giling. intinya tetap ketemu daging.
inisiatif saya hanya pesan pilav (nasi) dan salad sayur saja, sampai pelayannya menanyakan lagi, mau pesan fasulye juga kah. Saya bilang nasi aja cukup, waktu itu mikir, ‘ mas kalau jual mpek-mpek saya pesen deh’ asal menunya bukan daging sapi dan ayam atau kambing.(bahan dasar  standar hampir semua masakan Turki)
  • Bangun pagi

untuk menyiapkan sarapan, dibanding tinggal di perkotaan, orang orang di kampung terbiasa sarapan lebih awal, jadi anak-anak dan suami harus adaftasi ulang dengan kebiasaan sarapan di desa. Kadang sehabis subuh ga kuat nahan kantuk saya tidur kembali, eh tau-tau sarapan sudah tersedia (mantu macam mana ni)
  • pakai rok dan yazma (kerudung)

kalau dirumah sendiri, ya suka suka saya pagi pagi masih pakai baju tidur lalu masuk dapur,cuek aja. Tapi kebiasaan ini sulit dibawa dirumah mertua, karena beliau punya aturan sendiri hehe. Jadi selama menginap di rumah beliau saya ikutin aturan dalam rumahnya.
  • jadi semakin handal meracik cay..,

ini bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi karena hampir tiap hari lebih dari 1 kali, saya masak teh di dapur, entah karena emang dirumah pada minta nge-cay atau karena ada tamu berkunjung, jadilah penuang cay dan peracik cay di dapur, dan saya pun ‘mabok’ cay. sarapan pagi tentu saja wajib ada cay, makan siang ditutup dengan cay, makan malam juga nge-cay kembali. Begitulah…makin kaya lah para petani teh di karadeniz turki:D ngecay itu sudah jadi hal wajib dalam tradisi kumpul keluarga orang Turki. Oh ya, meski tinggal dan menikah dengan orang Turki bukan berarti saya tergila-gila dengan cay:D bir bardak yeter..segelas kecil juga cukup itupun kalau weekend dan suami sarapan pagi di rumah.
Baca: tips ngadepin mertua
Punya mertua orang Turki menurut saya pribadi..ehm ya biasa aja, Drama mertua vs menantu yang sering ga akur ga memandang suku dan negara, kendati banyak cerita cerita horor ‘yang’ katanya punya mertua emak-emak Turki.
Asal bisa jaga sikap, komunikasi dengan baik, ada respek, akur-akur aja.  Konflik kecil ya pernah juga dilalui. Berproses untuk saling mengenal dan bisa diterima dengan baik dalam keluarga.
Mertua tidak pernah melarang saya ngotak ngatik dapurnya, ‘masak yang kamu suka’ itu selalu dia katakan setiap mudik ke rumahnya.  saya suka masakan indonesia, bikin sambel pedas salah satunya, palingan beliau terbatuk-batuk saja nyium aromanya:D untung terasi ga dibawa, bisa bisa kalimatnya beliau tarik kembali hehe.

4 replies on “Cerita 3 minggu di rumah Mertua”

Hai Rahma, dulu aku pas di Indonesia juga kena biduren. Awalnya pas smp ikut kegiatan pramuka di cibubur. Keluar tengah malam, diplonco, disuruh masuk sawah, pas balik ke tenda bentol2. Kejadian lainnya saat makan cemilan dari kampung pembantu, ga lama bentol2, sampai mata ga bisa kebuka, kejadian lainnya entah apa penyebabnya, tp sering banget gatel2, dan balsem tuh bisa habis dalam seminggu buat diolesi ke badan. Ke dokter sih dikaish ctm aja.. nah pas pindah ke Jerman, walau winter ga pernah kumat lagi biduren nya hehe. Mertuamu nanam bunga2an ga?, klo suamiku tuh pas musim semi makan tablet anti alergi, di Jerman banyak yg kena alergi krn serbuk sari bunga.
Klo kerumah mertuaku, mak mertua masak mulu, enak2, ya spt kamu makanan sdh tersedia dan aku ga ikut bantuin masak hehe 😀 .

nah ini yg saya ga tau, apa serangga, tapi ngerasa ruangan yang kita pakai, bersih terus, nah bentol2nya itu selalu di area lipatan2 tubuh, terutama perut dan sekitarnya-.-‘ dokter cm bilang alergi aja tanpa penjelasan detail, sekarang sudah mau masuk autumn, ga ada bunga2an lagi, palingan cuma mawar di kebun depan itupun sudah kering.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *