Waktu saya buka salah satu akun sosial media, ada postingan tentang suami yang mau bantu urusan rumah tangga, dia mau turun tangan bantu ringankan pekerjaan rumah sang İstri, lucunya ada beberapa komen yang menyimpulkan, kalau si Suami orang tersebut adalah pengangguran, atau suami-suami takut İstri? Beberapa komentar netijen yang saya cek adalah bapak-bapak semua:

”Biarkan saja istri nya capek ,, org itu ladang surganya dia,, kalo istri nya paham dia pasti gk mau klo kita kerjain karena klo kita kerjain maka ladang surga nya sudah menipis ”

”Tetapi sayangnya istri akan dilaknat malaikat ketika istri tidak mau melayani suami ”

Tugas istri menjaga harta benda dan melayani suami, mendidik anak. Yg dimaksud menjaga yo dibersihkan rumahnya pakaianya,anaknya . Masak juga termasuk melayani.
Jadi tugas istri kagak cuma n****** doang 

Beberapa Bapak-bapak memiliki pendapat seperti itu, atau mungkin memang masih banyak diluaran sana yang punya pendapat sama, termasuk di Turki juga, masih banyak yang beranggapan, Laki-laki adalah raja di rumah, semua harus dilayani. Sistem patriarki yang kuat.

Belajar dari İbu Mertua cara mendidik anak laki-laki

İbu Mertua saya, seorang perempuan desa yang tidak berpendidikan tinggi, tahun kelahirannya lebih tua setahun dari kemerdekaan İndonesia, Beliau menikah Muda kala itu, di usia belasan tahun, minim pendidikan agama, apalagi di awal-awal Republik Turki berdiri. Modal beliau hanya bisa baca abjad latin, hasil sekolah Rakyat yang tidak selesai. Tapi urusan parenting rasanya saya harus berguru sama Beliau, Bagaimana mendidik ketiga anak laki-lakinya ringan tangan membantu pekerjaan rumah dan juga tidak merokok. Beberapa obrolan singkat dengan beliau masih saya rekam dalam ingatan saya, tentang pola asuhnya membesarkan 5 anak.

mendobrak kultur keluarga Turki

Kultur Turki, tidak menutup mata, dengan sistem kekerabatan, patriarki. Dimana kaum lelaki lebih dianggap bisa diandalkan disegala bidang, sebagai tulang punggung keluarga, Banyak yang lebih memprioritaskan anak laki-lakinya dibanding anak perempuan, dalam bidang pendidikan misalkan. Salah satunya tetangga satu gedung, dia cerita tentang keinginannya melanjutkan kuliah tapi ayahnya tidak mengizinkan, cukup hanya lulus SMA dan menikah, sedang saudara laki-lakinya diberi kemudahan disegala hal, termasuk urusan rumah, dia dibebaskan. Tidak dididik untuk membantu pekerjaan rumah tangga.

Baca:

Ketika mertua berkunjung ke rumah

İbu Mertua saya, Beliau mendidik ketiga anak lelakinya harus mandiri di rumah, pekerjaan sebagai Petani dan menghidupi ke-lima anak tidak mudah, Setiap hari Anne dan Baba harus pergi ke Ladang dan pulang menjelang sore, Beliau mengandalkan sekali anak pertamanya (laki-laki) agar terbiasa dengan urusan rumah, seperti memasak. Tidak peduli dengan pandangan kerabat atau orang lain, Beliau cuek terhadap omongan orang, teguh sama cara didiknya tanpa mau mengikuti pola orang kebanyakan saat itu, me’raja’kan anak laki-laki di rumah. Kalau si anak ga masak, tidak ada makanan di rumah sepanjang kedua orangtuanya di ladang. Keterpaksaan menjadi kebiasaan.

Membiasakan berbagi tugas

Mulai dari hal sederhana saja, selesai makan, anak-anak menaruh piringnya ke dapur, mencucinya bersama, pola ini saya adopsi juga ke Fatih, seperti pengalaman babanya di masa kecil. Selesai makan, Fatih akan membantu menaruh semua piring kotor ke dapur. Mengerjakan pekerjaan rumah bersama, membagi tugas, siapa yang menyapu, pel lantai, lap kaca, sementara anne nya akan sibuk memasak. Hidup suami dan saudara-saudaranya di masa kecil termasuk prihatin. Membiasakan berbagi Tugas rumah diterapkan Anne ke semua anaknya tanpa kecuali.

Kalau kata Anne, anak memang bagaimana cara orangtua mendidiknya, kebiasaan anak laki-laki bisa ringan tangan, ditumbuhkan dari lingkungannya juga, jika terbiasa dirumah membantu ibunya, bukan hal sulit bagi si anak ketika rumah tangga, akan punya inisiatif sendiri tanpa harus disindir-sindir pakai dalil. Dan saya amin-kan sekali. Karena pola asuh Anne dan emak saya dikampung sana, berbanding terbalik, kedua saudara laki-laki saya, hanya tahu urusan pertukangan, tapi bukan urusan rumah. Bisa jadi supir di rumah, atau urusan service alat elektronik, tapi urusan beberes rumah, dikerjakan kami, anak perempuan dan emaknya.

Masalah anak tidak merokok?

Bagaimana cara si Anne (ibu mertua) bisa sukses memberi pengetahuan tentang bahaya merokok,saya kurang tahu detail, tapi memang disetiap pembicaraan, Beliau seakan duta anti rokok, hafal sekali efek buruk dari asap rokok, entah bagaimana caranya, ketiga anak laki-lakinya kurang bersentuhan dengan rokok, kalau coba-coba mungkin pernah saja. Padahal lingkungan masyarakat Turki kebanyakan perokok, perempuan perokok bukan pemandangan asing di Turki. Melihat Si Baba atau Kakaknya bisa anteng hanya mengunyah kuaci selama ngobrol dengan teman, kerabat, sementara bapak-bapak yang lain sibuk menjadi ‘ahli hisap’ dan tidak mempengaruhi mereka. Bahkan saya menjuluki suami: Hamster Baba, saking seringnya makan kuaci di rumah dan sampahnya bisa berserakan dimana-mana. Masih mending sih daripada puntung rokok yang berserakan-.-‘ cuma sediakan ektra sabar aja untuk mengingatkan, kalau sampah suka ga sengaja bertebaran di karpet.

Baca:

perempuan Turki perokok

Anne menyesal untuk Hal ini

Obrolan terakhir dengan ibu mertua, ketika saya menginap di rumahnya awal musim gugur tahun lalu, tentang sedihnya dia buta huruf hijaiyah. Hidup di awal Turki menjadi negara sekuler memang berat kata beliau, jangankan baca alquran, bacaan solat aja beliau tidak tahu, bermodal bisa baca abjad latin, Anne belajar sendiri tentang tata cara solat, ketika menikah di usia 15 tahunan, modal beliau hanya bisa baca tulis saja. Semua dia lakukan sendiri dengan membaca buku agama yang ada tanpa bertemu hoca*ustaz* masa itu cukup sulit ujarnya. Sehingga bekal dia mendidik agama untuk anak-anaknya terasa kurang.

Modal parenting ala İbu mertua:

  1. Tegas sama sikap sendiri, cuek saja jika ada yang membanding-bandingkan (ketika dia mendidik anak laki-lakinya untuk ringan tangan di rumah)
  2. Harus punya inisiatif belajar. (hanya modal bisa baca tulis saja, si anne belajar sendiri tata cara solat dan bacaannya) Karena menurut beliau, Bekal ilmu agama itu kunci untuk mendidik anak-anak, dia selalu mengingatkan saya untuk hal ini.

Kalau akhirnya saya memiliki suami yang selalu inisiatif sendiri bantu pekerjaan rumah, dan pola pikirnya ga sebutek komenan bapak-bapak netijen yang saya kutip diatas itu, ini semua hasil jerih payah si Anne , İbu Mertua saya yang berhasil mendidik semua anak laki-lakinya, mau membantu pekerjaan rumah tangga. Karena Pola didik beliau, membiasakan anak laki-lakinya membantu pekerjaan rumah, saya hanya memetik hasil kebaikan İbu mertua, merubah cara pandang dari kultur-nya sendiri. Saya berterimakasih sekali dengan Beliau. Melihat kakak ipar laki-laki sibuk memasak di dapur, sementara istrinya istirahat karena kecapean, melihat kedua anak laki-lakinya yang juga beliau didik sama, dua keponakan laki-laki di İstanbul, jago baking semua. Saya pernah mencicipi tiramisu buatan keponakan yang cukup enak.

Generasi Muda Turki semakin jauh dari agama

Prinsip saya dalam mendidik anak-anak, mengambil hal positif dari kedua kultur, İndonesia dan Turki. Untuk bagian negatifnya, buang aja. Hal positif dari cara didik İbu Mertua, tentu saja bagaimana cara dia mendidik anak laki-laki mau membantu pekerjaan rumah dan jauh dari rokok. Saya harus berguru!

Kalau masih ada yang mengeluh, suaminya tidak peka untuk urusan bantu pekerjaan rumah tangga, bersabar dulu, bisa jadi salah satu ujian, tapi masih menyisakan harapan ke anak laki-laki, didiklah dia. Seperti halnya si Anne yang berani memutus rantai kebiasaan keluarga Turki yang terlalu mengistimewakan anak laki-laki. Berani, tegas dan cuek saja sama pendapat orang, anak-anak gue! gitu kali ya hehe.