Problematika hampir sebagian besar perantau adalah: sering rindu masakan favoritnya di kampung halaman, tidak bisa masak, karena rasa ‘rindu’ akhirnya berani turun ke dapur dari terpaksa , menyiksa lama -lama menjadi biasa dengan urusan masak memasak, Trial-error diawal terjun ke medan perang berhadapan dengan penggorengan, percikan minyak, mana ketumbar mana lada sering ketuker, ah biasa itu belum seberapa? banyak yang lebih parah level tidak bisa masaknya, contoh saja: saya sendiri!

Rekor terburuk saya belajar masak adalah:

Rekor terburuk saya belajar masak, dulu ketika zaman sekolah, liburan di rumah, hanya masak agar-agar loh , saya salah memasukan Gula tapi malah pupuk urea! cerita ini bukan bualan hahahah, gara-gara si emak naruh pupuk urea di dapur, sebenarnya beliau taruh di kolong meja gitu, karena waktu itu saya ga tahu si emak naruh gula dimana, ada seplastik warna putih putih di kolong meja, tanpa pikir panjang ya saya masukan lah itu untuk pemanis agar-agar, setelah agar-agarnya jadi, tanpa merasa dosa,saya suguhkan ke kakak saya, tapi dia curiga, saya nemu gula dimana, karena sebelumnya nyari-nyari ga ketemu, dengan polos saya katakan pakai yang dibawah meja dapur. Spontan dia kaget! untung belum sempat dia cicipi. ‘keracunan gue’! ujar kakak saya. semenjak kasus pupuk urea saya tidak begitu diperkenankan turun ke dapur selain rebus indomie dan masak air panas!

Belajar masak menggunakan Magic com

Zaman jadi anak kost di belakang kantor, saya hidup irit, mentang-mentang kost-an dekat Mall, masa iya tiap makan harus masuk mall terus, belum sebulan, bisa bisa gaji ludes semua, Nah mulai di kost-an jelambar ini lah saya belajar masak, alatnya cuma satu: Magic com:D nasi dan sayur tumis saja biasanya yang praktis. Kebetulan tukang sayur kalau tiap pagi mangkal di depan gerbang kost, ngelihat setiap pagi dikerumunin ibu-ibu saya juga kepo untuk ikut milih milih sayuran, ga sempat nimbrung ngeghibah (astagfirullah) karena harus berangkat kerja.

Menikah dan baru belajar masak

OK, karena saya dulu ke pede-an bakal lama kerja kantoran, saya tidak terlalu fokus untuk belajar masak, alih-alih kalau menikah, bayar jasa asisten rumah tangga saja kayak teman teman di kantor. Tapi Nasib ternyata lain, jodoh sama makhluk dari luar jelambar. Diboyong ke negeri antah berantah, sebut saja Pluto. Awal-awal belajar masak, wah jangan ditanya kehebohan di dapur mertua, pakai panci presto, uapnya belum keluar semua langsung saya buka tutupnya dan kebayang gimana hancurnya dapur mertua, cerita selengkapnya bisa baca di link ini:

kenangan pancii presto dan dapur Mertua

Saya tidak menyerah untuk terus belajar, berbagai drama belajar masak. lucu kalau diingat, pertama membuat Bolu, saya putar tombol di oven kelewatan, ga cek lagi, dikira 180 c taunya suhu 250 c hahah dikira mau manggang daging. Hasilnya gosong pemirsa, udah kayak pantat panci, hitam legam. Hamil anak pertama, ngidam pengen empek-empek, mana baru tinggal di istanbul dan belum banyak kenal WNİ, kalau sekarang yang jual makanan jadi cukup banyak. Hanya berbekal resep dari internet, cari ikan segar juga susah waktu itu, dengan pedenya pakai ikan kalengan hahaha, jadinya ga karuan empek-empeknya, ambyarrr, hanya sukses membuat cuko KW nya, ngidam ngirup bau cukonya saja.

Usaha belajar masak, tidak menghianati hasil

Sekarang bagaimana? ga usah saya cerita, cukup gambar saja bercerita:

hasil belajar masak
sebagian hasil kerajinan ‘tangan’ saya

Belajar membuat bakso, aneka roti, kerupuk, budidaya toge sendiri, tempe, tahu dan masih banyak lagi (aihh syombong bener dehhh ahhh)

Saya sudah bisa bedakan mana gula pasir sama pupuk urea hahah, mana merica sama ketumbar, bumbu favorit saya: bawang putih, sebagaimana khas dari aneka masakan oriental, saya cenderung menyukai rasa yang ringan, sejak dulu untuk masakan kayak rempah, saya kurang bisa menikmati, aneka kuah berempah dan bersantan kental, cukup saya pandangi tanpa harus menikmati, perut saya tidak suka kompromi dengan aroma rempah yang kuat. Bisa ditebak kalau bukan fans garis keras masakan minang–padang–.apalagi aneka kari.

Cara membuat YAPRAK SARMASI masakan Turki yang dibalut daun anggur

Bahan masakan Turki yang sering dipakai

Selama tinggal di Pluto, saya jarang membeli masakan olahan yang dijual teman sesama WNİ disini, lebih suka membeli bahan masakannya saja, alasan suami:biar saya belajar sendiri, seperti empek empek atau membuat bakso, suami lebih pilih membelikan saya 5 kg tapioka dan daging giling, Biar daya juang saya kuat katanya:D dan tentu saja jauh lebih menghemat, karena harga masakan olahan juga lumayan. Dengan bahan masakan yang lengkap,saya berkreasi sendiri, bahkan kerupuk juga saya buat sendiri, belajar dari mana? dari video tutorial masak di youtube. Semudah itu kan sebenarnya belajar masak, ga mesti kursus masak pribadi sama chef juna:V kalau cuma masakan rumahan.

MengİNDONESİAKAN bahan masakan di Turki

Memanfaatkan kemajuan teknologi, sekarang semua mudah ko dipelajari, bahkan ada juga dalam bentuk aplikasi. Jadi teman teman bagaimana? terbiasa masak sendiri atau order Go-food nih? enak sih ya kalau di İndonesia, ordernya banyak pilihan, kalau disini–sedih ah diceritain mah. eh tapi kemudahan seperti adanya Go-food gitu harusnya ga jadi penghalang buat terjun ke dapur, paling ga kalau masak sendiri, kita tahu bahan apa saja, berpengawet atau tidak, kualitas sayuran atau lauknya juga terkontrol masih segar atau sudah berbau, karena saya jamaah golongan di dapur anti micin, kecuali masak mie instant: baru sok akrab sama micin untuk masakan harian, jarang menggunakan MSG, cukup andalkan duo bawang dan air rebusan kaldu saja. Semua bisa dipelajari, bisa karena terbiasa meski awalnya kepaksa, memasak itu ternyata menyenangkan kok, kalau saya bisa disambi nonton Drama, apalagi kalau masaknya lama, multi-talenan banget kan saya, tidak hanya disambi nge-drama kadang disambi nyebokin anak juga kalau tiba-tiba pup..aduh ga enak amat ujungnya:V.