Memiliki anak campuran, kemudian mengenalkan bahasa İndonesia, buat saya sebuah kewajiban, saya ingin kedua anak saya bisa bahasa İndonesia, meski mereka tidak tinggal di İndonesia. Karena separuh identitas mereka mengalir darah İndonesia. Salah satu harapan terbesar saya, ketika mereka dewasa, Mereka tetap bisa berbahasa İndonesia dengan baik.

Begitu idealis kah saya? Kenapa ga bahasa İnggris saja diutamakan, karena bahasa yang banyak digunakan secara global?- İya saya tahu, tapi bahasa İbu saya adalah bahasa İndonesia. Anak-anak tetap saya ajarkan bahasa İnggris, tapi untuk saat ini, dari usia dini, saya belajar untuk konsisten dulu mengenalkan bahasa İndonesia, pengenalan bahasa inggris baru dasar saja, tapi tidak dominan saya gunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.

Keluarga saya bukan asli British, apalagi amerika, tujuan saya mengenalkan bahasa İndonesia lebih dulu, untuk komunikasi anak-anak dengan pihak keluarga di İndonesia.

Saya belum memiliki pengalaman mengajarkan anak banyak bahasa, Fatih sebisa mungkin tetap berbahasa İndonesia dengan saya. Meski hasilnya dia sering terbolak-balik menyusun kalimat bahasa İndonesia, dan masih ‘tercampur’ bahasa Turki. Beberapa kalimat yang sering Fatih ucapkan dan saya harus koreksi :

” Anne, Baba dimakan ayam!” — bayangkan sebesar apa ayam yang bisa makan babanya— Saya koreksi kalimatnya : ” ayam goreng, dimakan baba” . Waktu itu Fatih protes ke saya karena ayam gorengnya dihabiskan baba.

” Anne, sinek lihatin Fatih, kaki gatal”(sinek: serangga) Waktu itu Fatih sedang bermain di Park sore-sore, kakinya gatal karena digigit serangga, tapi Fatih bilang: dilihatin : maksudnya dia digigit tapi yang keluar kata dilihatin.

” Anne, besok kemarin kita mau ngapain?”– maksudnya dia nanya, besok mau ngapain, tapi selalu terselip kata : kemarin.

generasi yang harus mengenal bahasa ibunya: İndonesia!

Berbahasa İndonesia hanya dengan saya di rumah, menjadi tantangan tersendiri, tips terbaik, sering diajak berinteraksi dengan teman sesama İndonesia, lebih tepatnya jika diajak liburan ke İndonesia. Wah ini tips terampuh, di usia 4 tahun, Fatih ‘campur-aduk’ ngomongnya, asli bikin saya mikir kalau dia ngomong: 3 bahasa dicampur: Turkche-İnggris-İndonesia. Kemudian diajak liburan ke Kampung anne-nya 2 bulan, sempat ikutan kelas PAUD di kampung, karena kebetulan salah satu paman saya mengelola PAUD. Tujuan saya supaya Fatih bisa berinteraksi dengan teman sebaya untuk melancarkan bahasa İndonesianya. Meski lingkungan berbahasa daerah, Sunda. Saya meminta ke Keluarga besar, agar bicara bahasa İndonesia saja dengan Fatih. Hasil mudik 2 bulan, bahasa İndonesia Fatih tertata dengan baik, ada kemajuan. Tapi sekarang? karena jarang berinteraksi dengan teman-teman WNİ, Saya harus berjuang lagi untuk mengenalkan bahasa İndonesia ke anak-anak.

Kenapa ngotot ngajarin bahasa İndonesia?

Belajar Bahasa İndonesia tetap penting, apalagi anak-anak setengah İndonesia, banyak orang asing yang mati-matian belajar bahasa İndonesia, kenapa sebagai seorang İbu berkebangsaan İndonesia, Tidak mengajarkan bahasa İndonesia? Ga ada ruginya mengajarkan bahasa İndonesia, tetap akan berguna buat mereka dimasa depan. İngat İndonesia itu negara besar. Saya yakin bahasa İndonesia akan menjadi salah satu bahasa Global juga, apalagi Diaspora İndonesia menyebar di berbagai negara.

Tantangan Mengajarkan bahasa İndonesia ditengah keluarga Turki-nya

Nah ini masalah yang sering dihadapi, banyak dari keluarga Mix İndonesia-Turki, hanya dominan mengajarkan bahasa Babanya aja ke anak, karena permintaan keluarga Turkinya. Wah buat saya, ga adil namanya. Saya juga sempat ditegur Babaannenya Fatih. Minta saya berbahasa Turki saja dengan anak-anak, karena alasan beliau: Mereka itu sekolahnya di Turki. Tapi setelah bertanya ke teman, yang memiliki anak remaja, saya bisa sedikit santai, kemampuan anak berbahasa Turki akan terasah sendiri ketika mereka masuk dunia sekolah. Justru yang harus dipikirkan konsistensi ibunya untuk tetap berbahasa İndonesia dengan anak di rumah.

Hasilnya memang belum langsung terlihat sekarang, bisa saja logatnya ala Cinta laura, dan kenyataannya banyak yang seperti itu, untuk Fasih berbahasa İndonesia 100 persen bukan target utama, bisa ngobrol bahasa İndonesia saja, dan kalimatnya benar, saya ucap Alhamdulilah:) Yah doakan konsisten mengajarkan bahasa İndonesia ke Fatih dan Alya. Mereka sehari-hari memang memakai dua bahasa: Turki dan İndonesia, tapi tontonannya berbahasa İnggris semua, tidak suka tontonan berbahasa Turki apalagi bahasa İndonesia. Jadi memang PR-sebagai İbunya Duta İndonesia di Rumah:))