Dulu, awal datang ke Turki, layaknya perantau baru, saya juga mencari lingkaran pertemanan orang İndonesia, suami sampai bela-belain nanya ke teman-temannya, apakah ada orang İndonesia yang tinggal satu daerah dengan kami? Sampai akhirnya mengenal satu orang, mbak fatma namanya, waktu itu dia mengatakan sudah 17 tahun hidup di Turki dan sudah berganti warga negara, bahasa İndonesianya tidak begitu lancar, tapi bahasa jawanya masih cukup lancar. Dia bertemu suaminya ketika di saudi arabia, bekerja sebagai TKİ dan bertemu jodohnya seorang lelaki Turki.

Kemudian ketika ada kesempatan untuk pindah ke kota megapolitan İstanbul, kota terpadat, terbesar di negara Turki, kesempatan untuk bertemu sesama perantau İndonesia jauh lebih besar, tidak hanya orang İndonesia, orang asing dari negara manapun mudah ditemui di İstanbul. Saya pun berbaur dengan teman sesama WNİ, ikut pengajian, piknik, atau acara apapun, apalagi waktu itu KJRİ juga baru didirikan di İstanbul, bisa dikatakan: Comfort Zone, tidak terlalu sulit ketika rindu masakan tanah air. Mengikis ‘home sick’, lingkaran pertemanan sebangsa.

Tahun-tahun berlalu, menginjak tahun ke 10 saya menetap di Turki, tentu saja banyak sekali perubahan terjadi, lalu ketika saat ini menetap di Pluto, dan harus adaptasi dengan lingkungan lokal, lingkungan 100 persen orang Turki, hanya ada 1 teman wni yang saya kenal dan itupun belum lama dia pindah. Kemampuan bahasa terus dipraktekan, ya terus terang, selama di İstanbul, lingkaran pertemanan saya dengan orang Turki terbilang sempit, hanya lingkaran keluarga kakak ipar.

Saya dekat dengan istri dari keponakan tertua kami di İstanbul–sebagai informasi, keponakan kami hampir seumuran-— Suami si anak bontot, tumbuh besar sendiri, karena jarak umur yang cukup jauh dengan ke empat kakaknya– jadilah saya berteman dengan istri keponakan, dia memanggil suami saya: amca (paman) sebagai bentuk hormat, karena bagaimanapun adik dari bapak mertuanya, tapi memanggil saya: Rahma, sebagai panggilan seorang teman, bukan tante, ya meski dalam keluarga, kedudukan saya adalah tante mereka:D suaminya tetap panggil saya: yenge–(bibi) seorang bibi yang memiliki keponakan om om brewokan-(kelahiran 1985)-tiba tiba berasa tua-.-” istri si keponakan tertua itu adalah teman Turki saya satu satunya di İstanbul. Selebihnya teman teman saya adalah sesama WNİ.

Kemudian saya mulai membuka diri, tidak membatasi pertemanan, terkadang jadi subyektif ketika kita menilai prilaku kebanyakan orang turki hanya dari kacamata sebagai Gelin (istilah menantu) banyak keluh kesah yang sering saya dengar dari temen teman, tentang lingkungannya sekarang, bagaimana jadi ikut terbawa adu otot, ikut ngomel-ngomel, berani melawan ketidak adilan ketika bertemu orang yang tidak sopan, adaptasi dengan kultur lokal, toh bagaimanapun meski mengakui diri sebagai orang indonesia, tapi ketika memutuskan menikah dengan warga negara asing, sebagian hidup kita pasti terpengaruh dengan kultur yang dibawa pasangan, sebagian kita menjadi ‘turki’ karena ikatan yang terjadi, anak yang dilahirkan jelas membawa DNA dari ayahnya, saya tidak bisa mengklaim: dia anak İndonesia, karena memang garis ayahnya bukan warga negara İndonesia. Tetap bangga mengenalkan jatidiri tanah air ibunya, mereka juga bisa berbahasa İndonesia.

Saya pernah membaca, untuk anak campuran berayah WNA dan ibu WNİ, kewarganegaraan utama sang anak adalah negara ayahnya, İndonesia menjadi kewarganegaraan kedua, itulah ketika membuat paspor anak, tidak semudah anak dengan ayah ibunya WNİ, karena harus membuat surat perjanjian didepan notaris tentang pernyataan bahwa ayahnya (WNA) memberi izin anaknya memiliki paspor İndonesia.

Keluar dari comfort zone

Keluar dari comfort zone itu sulit, tapi ya harus! tarik ulur dengan suami, ada perasaan ga siap, ga rela, terkadang sampai saat ini masih terus bertanya kapan pindah lagi? karena kondisi saja, akses publik, pendidikan yang terbatas, tidak banyak pilihan sekolah. OK lah ketika usia pensiun hidup tenang di kota kecil, tapi memiliki anak-anak usia sekolah, tinggal di daerah terpencil tentu saja kendala.

Lalu ketika membicarakan tentang lingkar tertemanan kembali, bisa dibilang lingkar pertemanan saya sangat kecil, baik itu sesama WNİ atau orang turki, seperti cerita sebelumnya, bahkan di İstanbul saya hanya mengakui 1 teman, yakni istri keponakan. Kemudian ditempat sekarang, selain my only and only one: suami, tapi kan kadang bosen juga ghibah sama dia sih, mau muji aktor ganteng aja protes, katanya hanya boleh dia seorang yang paling ganteng dihidup saya –(tolong jangan pada bergidik hahahahaa) — dari 3 gedung lojman, pertemanan juga menyempit, saya tidak bisa mengakrabkan diri disemua gedung, tapi saya yakin sih mereka mengenal saya, karena satu satunya yabancı, mudah dikenali.

Pertemanan ibu-ibu Turki juga terkotak-kotak, hingga akhirnya saya hanya berinteraksi lebih sering 3 orang saja, dan itupun tidak setiap hari kita bertemu, komunikasi tetap ada, baik di WA, dan yang sering mengajak saya ngobrol hanya 2. Kita butuh berteman di luar lingkaran keluarga suami, kalau dengan istri keponakan, masih masuk lingkaran keluarga, dan baru di pluto ini, saya interaksi murni dengan teman turki selain keluarga. Saya perlu membedakan dengan alasan? ya namanya masih ‘keluarga’ bisa-bisa mungkin dia keceplosan membicarakan sesuatu yang bisa mengusik satu sama lain, misal saya bahas mertua, nanti sampai telinga mertua hahaha.

Kalau ditanya loh sudah 10 tahun di Turki, kok teman Turkinya ga banyak? alasan utama karena lingkaran pertemanan sesama perantau itu yang mempersempit, kemudian interaksi dengan tetangga dulu, saya tidak memasukkannya dalam lingkaran pertemanan, ngobrol sama tante-tante seusia mertua sudah sering, dan satu hal, saya tipe orang yang sulit sekali ‘dekat’ dengan orang baru, karena saya menganggap interaksi sama keponakan, kakak ipar, itu bukan pertemanan murni heheh–keponakan keponakan kami itu hampir seumuran, bahkan mertua saya sudah memiliki cicit 12). Yang murni di luar lingkaran keluarga, masih sedikit.

Bedanya antara pertemanan murni dan lingkaran keluarga:

Tentu saja lebih obyektif, beberapa kali ngobrol dengan teman turki, saya bisa paham jalan pemikirannya, saya lebih bebas nanya tentang kehidupan keseharian masyarakat turki, tidak segan mengkritik, ya kadang jika dengan keluarga Turki, saya masih memilih kata-kata yang kiranya tidak bersinggungan, ga mungkin kan saya bahas mertua dengan kakak ipar perempuan, itu ibunya, dengan keponakan, lah itu neneknya, dengan teman turki lain ya layaknya sesama wanita saja.

Jadi lebih mengenal karakter karakter pertemanan dengan ibu -ibu Turki. Kalau dengan sesama wali murid? ini belum saya masuki, interaksi sepanjang 2020 hanya obrolan grup WA, bukan interaksi langsung seperti sebelum pandemi, dimana layaknya mamak-mamak yang sering membuat geng tunggu anak sekolah, phiuhhh untungnya Fatih pulang pergi ada mobil jemputan, jadilah saya tidak punya teman sesama wali murid, mungkin belum.

Ga ada ruginya membaur, tidak eksklusif lingkaran pertemanan harus sesama perantau saja, karena saya melihat ada yang memang seperti itu, alasannya bisa jadi karena kendala bahasa, dan ada juga yang berpikiran negatif dulu, padahal teman baik atau buruk tidak mengenal ras, sesama indonesia aja bisa menusuk dari belakang, karena sudah sering saya melihat drama pertemanan perang sindiran di sosial media hingga berujung ‘memanas’

Saya belajar banyak dari tipe teman teman WNİ yang terbuka, berteman tidak hanya satu lingkaran pertemanan saja selama ditanah rantau. Untuk seorang berkarakter seperti saya bukan perkara mudah, tapi terus saya coba.