Ramadhan di Turki, di post-post sebelumnya saya sudah cerita tentang suasana ramadhan  yang saya jalani di Turki, Kali ini saya mau cerita tentang ‘perjuangan’ saya membawa anak-anak demi bisa hadir ikut kajian ramadhan.
Dua hari sebelumnya salah satu teman saya kirim pesan di WA ngajak datang ke kJRİ karena ada kajian ramadhan, ada mobil service juga yang disediakan demi memudahkan perjalanan lintas benua menuju kjri (karena lokasi nya di istanbul sisi eropa dan saya tinggal di sisi asia) saya meng-iyakan, walau belum izin suami,tapi saya sudah yakin kalau urusan ini pasti izin mulus plus akomodasi pun pasti turun dari suami.
Belum sempat bilang ke suami, lalu si teman kirim pesan kembali, mengabarkan perubahan lokasi acara, yang tadinya akan dilaksanakan di KJRİ lalu dipindahkan ke rumah ibu sofie (salah satu teman WNİ, yang kami ‘tua’kan sebagai ibu ) Wah berarti jadi ga jauh dari rumah, ibu sofie tinggal di daerah tetangga belediye, saya cukup naik bis ke kartal merkez bisa lanjut jalan kaki atau naik angkot sebentar.
Malam sebelumnya saya sudah bilang ke anak-anak , kalau besok mau pergi, dengar kata ‘jalan-jalan’ mereka pun semangat, dan mau tidur lebih cepat, ya maklum biasanya bepergian naik kendaraan umum selalu bareng babanya. Karena tidak terlalu jauh, baba nya izinkan saya dan anak-anak pergi, apalagi pergi untuk datang ke kajian ramadhan, saya bilang: ada sohbet (tausiyah) dari ustaz indonesia, saya mau datang, dia pun meng-iyakan.
Anak-anak bisa dibangunkan lebih awal, biasa bangun jam 9-nan upps.., (kalau seperti ini saya selalu nge-cap darah turki mereka yang dominan hehe) walau acaranya jam 11 siang, mempersiapkan keberangkatan dari jam 8.30, kenapa? ya namanya anak-anak, sebelum berangkat ada aja drama-nya, adiknya yang gak mau ganti diapers, lari-lari dulu, kakaknya yang disuruh ganti baju malah pindah posisi ke sofa eh tiduran lagi, belum drama milih-milih baju, si bungsu yang ngotot pengen make jaket tebal, padahal di luar matahari mulai terang dan suhu hari itu 35 c, belum masak dulu, niatnya nyuruh anak-anak sarapan, tapi terlalu excited mau naik bis (bahagia anak-anak itu kadang sederhana) dua-dua nya ga mau sarapan, akhirnya bekal makanan pun masuk tas, isi tas ‘peralatan tempur’ : baju ganti si bungsu , gendongan praktis GEOS, 3 diapers, tisu basah, tisu biasa,akbil, hp, mainan  mobil-mobilan,buku gambar dan boneka panda ditambah mampir ke warung beli cemilan tambahan. (udah mirip Dora the explorer deh:D) bawa tas punggung lumayan agak berat, kadang gendong anak-saya ga bawa stroller lagi malas kalau berdesak-desakan di bis, jadi cukup bawa gendongan praktis, dan mata harus tetap awas ke si fatih yang kadang sambil jalan sambil berlari-lari,beberapa kali harus keluar teriakan agar dia berhati-hati, jalan kecil di depan apartemen selalu ada saja mobil lewat, Begitu naik bis dia yang minta untuk nempelin kartu akbil di mesin nya,kalau engga, anaknya jadi ngambek, karena hal yang paling dia sukai adalah nempelin kartu akbil di dekat pintu depan bis pas masuk.
Dalam perjalanan saya sudah wanti-wanti ke Fatih, agar jangan terlalu banyak polah di lokasi acara. Karena saya udah kepikiran dengan tingkah fatih kalau bertemu anak-anak lain, super aktifnya keluar. Ya omongan sih tinggal omongan, selama acara, beberapa kali saya harus menegur fatih agar tenang, ketemu anak-anak lainnya. selalu heboh, berisik dan ngomong ga bisa pelan.
Karena harus fokus sama dua anak, terpaksa banget selama acara, saya merekam point-point penting dari ust adi hidayat melalu video di hp.
 
Namanya bulan suci ramadhan, berlomba-lomba dalam kebaikan, saya pengen banget anak-anak bisa sering saya ajak ke kegiatan positif:  sosial maupun kajian kajian keislaman.
Alhamdulilah WNİ  yang  di istanbul sering diberi kesempatan bertemu ustaz atau orang-orang berpengaruh yang kebetulan sedang kunjungan ke İstanbul, umumnya mereka yang melaksanakan ibadah Umroh plus Turki, Ketika datang ke İstanbul, menyempatkan bertemu WNİ yang tinggal di İstanbul.
Buat saya ini point yang sangat saya syukuri, ketika di Tanah air saja kesulitan bertemu orang-orang seperti mereka, di İstanbul diberi kemudahan.
Ust. adi hidayat
Beliau  cukup mumpuni dengan latar belakang keilmuannya, silahkan baca-baca biografinya profilnya ada di profil Ust adi hidayat
Masha allah, saya berdoa semoga salah satu anak  atau keduanya,bisa mengikuti jejak beliau, jadi anak yang paham agamanya, tidak sekedar berislam karena warisan anne -baba nya, menyeimbangkan akhirat dan dunia-nya.
Sebagai seorang muslimah, saya pasti berharap anak-anak saya menjadi shaleh dan shaleha, anak-anak yang bisa menolong orangtuanya di akherat, doa yang tidak terputus ketika anne-baba nya wafat, dan bekal pendidikan agama lah yang harus saya berikan selama menjaga mereka di rumah.
Kajian nya juga cukup menarik, menyejukkan, memberi motivasi ke jamaah yang hadir, berburu keberkahan,ampunan Allah SWT di bulan ramadhan, menceritakan tentang kejadian-kejadian bersejarah yang terjadi di bulan ramadhan termasuk lahirnya kota Jakarta yang ternyata juga peristiwanya terjadi di bulan ramadhan, termasuk hari kemerdekaan İndonesia 17 agustus 1945 itupun terjadi di bulan ramadhan.
Kenapa saya menulis ‘berburu’?
Karena untuk mengikuti kajian-kajian seperti ini termasuk perjuangan, menempuh jarak, membawa dua anak dengan tas dora yang besar, berharapnya setiap ada pengajian atau acara di KJRİ saya datang, tapi harus liat situasi dan kondisi terutama berkaitan sama anak-anak, menempuh jarak yang lebih jauh, baba nya kadang beri izin dan lebih banyak izin tidak turun:D demi keselamatan anak-anak diperjalanan apalagi kalau cuaca tidak bersahabat.
Dapat ilmu gratisan di majlis penuh barokah, nambah-nambah pengetahuan, berkumpul dengan teman teman shaleh dan shaleha, buat saya salah satu ‘cara’ saya memberi Gizi untuk jiwa, untuk ruhani, apalagi ini di bulan suci ramadhan.
Kadang ya, ketika hidup jauh di luar negeri, mengikuti kajian seperti ini menjadi hal yang saya rindukan, di Turki juga ada kajian islam (Dalam bahasa Turki tentu saja:D) yang mana loading transletan di otak saya butuh waktu sedikit lama-.-‘
Paling-paling buka youtube, tapi saya juga kangen ada majlis yang bisa berinteraksi langsung, ketika ada kesempatan untuk datang, bismillah saja di niatkan karena kata ustaz nya pun bilang: datang ke kajian saja sudah merupakah rahmat yang Allah berikan.., sehingga bisa berkumpul.
Jadi mumpung ramadhan, bagusnyapun diluar bulan ramadhan, selain sibuk sama urusan dunia yang tidak ada habis-habisnya, ngumpulin bekal untuk akhirat pun harus mulai diperbanyak. Karena umur dan kesempatan berjumpa ramadhan tahun depan tidak ada yang menjamin.
Ramadhan itu bulan penuh ampunan bagi ummat islam, puasa tidak sekadar menahan hawa nafsu, berburu pahala, lailatul qadar, Bulan suci yang selalu dirindukan perjumpaannya.
Kalau saya disini’ harus berburu dulu..yang di tanah air diberi kemudahan, ayolah datangi majlis majlis ilmu, misal seperti di Masjid al azhar kebayoran–dulu saya anak yisc juga– wah suasana ramadhan begitu kental disana, saya kangen ramadhan ala Yisc. Sekarang berusaha ‘menghidupkan’ ramadhan yang hangat disini.