Berpuasa di Turki, terkadang rasanya-seperti berpuasa di negara yang bukan mayoritas berpenduduk muslim!
Saya pernah mengajak anak-anak jalan, kebetulan waktu itu sepulang dari kajian ust adi hidayat di rumah salah satu teman indonesia, saya mampir dulu ke gerai fast food di center kartal belediyesi. Daerah Kartal di sisi asia side İstanbul memang terkenal dengan basis sekuler-nya, sekuler disini bisa dikategorikan, mereka kemalisme(*pemuja bapak sekuler-nya Turki) Alevi (dibaca:alewi)–salah satu sekte kaum syiah) suasana ramadhan kurang begitu terasa disepanjang pusat keramaian, walau restoran-restoran disepanjang sahıl (daerah pinggir laut) menawarkan paket-paket menu berbuka puasa, tapi pengunjung restoran yang datang juga tetap tidak kalah ramainya.
cerita tambahan: berburu kajian ust adi hidayat
Secara KTP-merujuk kimlik yang lama sebelum beralih ke E-ktp) rata-rata tertulis agamanya:islam, tapi juga ga menjamin 100 persen kehidupan mereka juga islami.
Setelah nanya-nanya suami, di istanbul sisi asia itu sendiri, bisa di peta-kan, mana wilayah yang kategori İslami vs sekuler.
Wah bisa ya terkotak-kota gitu? memang demikian Faktanya.
Untuk wilayah İstanbul asian side,beberapa wilayah yang berbasis islami yang terkenal: Uskudar, umraniye, pendik, wilayah yang terkenal kuat dengan sekuler nya: kadikoy, maltepe, kartal. Tapi bukan berarti di wilayah sekuler tersebut ga ada penduduk yang islami. Sebenarnya tetap ada, dan diwilayah yang kategori islami pun penduduk sekuler atau atheist nya juga ada. hanya mana yang lebih dominan saja.
Seperti saya saat ini, kebetulan tinggal di salah satu wilayah ‘kategori’ islami, tapi tetap saja melihat pemandangan orang-orang dewasa yang tidak berpuasa disepanjang jalan. Masjid besar di daerah dekat apartemen, jamaah tarawih yang didominasi kaum pria juga penuh, bersaing dengan  kirathanesi-atau cay evi yang juga berdekatan dengan masjid besar, para pria turki yang menghabiskan waktu sambil ngecay, ngobrol dan main kartu-azan berkumandang tidak menggerakkan hati mereka untuk menuju masjid besar, tetap asyik bermain , ngobrol, ngecay padahal lucunya selalu saja saya lihat beberapa pria paruh baya atau muda, disalah satu tangannya memegang tasbih kecil, entah dzikir-an apa cuma muter-muterin  bulatan tasbih.
Dan anak-anak remaja terutama anak laki-laki yang saya lihat di gerai-gerai fast food tersebut, cuek saja menyantap makanan pesanannya tanpa ada rasa malu atau risih di bulan ramadhan, Ehm ya ini Turki.
Saya mikir, mendidik anak di Negara Turki juga perjuangannya tidak kalah berat dengan teman-teman muslim yang bermukim di negara yang penduduknya mayoritas beragama lain.
Seperti salah satu teman saya, kebetulan dia tinggal di daerah yang basis penduduknya sekuler, İngin mendaftarkan anak nya ke TK yang ada ‘muatan’ pendidikan agama-nya( kalau di İndonesia hal seperti ini mudah dicari) TK jenis ini hanya ada di daerah belediye yang berbasis islami, untuk menuju TK incaran cukup jauh, dan TK di daerah tinggalnya, hanya TK biasa.
Dan ujungnya sebagai ibu, menanamkan basic dasar pendidikan agama di rumah menjadi pendidikan utama sebelum melepas mereka ke dunia sekolah kalau akses untuk belajar agama hanya sebagai pilihan bukan kewajiban.
Bulan ramadhan tahun ini anak pertama saya berusia 5 tahun. Saya sebagai ibu, tentu saja ingin mengenalkan ibadah puasa sejak dini ke anak -anak saya, kadang juga anak ini melontarkan banyak pertanyaan apalagi ketika jalan-jalan di bulan puasa dan dia banyak melihat orang-orang dewasa yang tidak berpuasa.
” kok, Abi-nya ga puasa?”.  Pertanyaan yang membuat dia penasaran, padahal si fatih melihat anne dan baba nya dirumah berpuasa, makan ketika azan maghrib tiba, oh ya fatih ikutan puasa hanya sebatas menunggu waktu berbuka, kalau lapar ya makan sampai kenyang, begitu selesai makan dia lanjut ‘puasa’ lagi sampai datang rasa lapar nya kembali-(puasa versi fatih) kalau di tanya babanya:
” ben oruc baba” ujarnya, padahal siangnya dia makan semangkuk makarna.
Sekarang mengenalkan saja dulu apa itu puasa, saya berharap begitu fatih mulai sekolah, dia belajar puasa dulu setengah hari, Saya tidak ingin fatih bertumbuh seperti anak-anak remaja di gerai fast food itu, karena anak-anak tumbuh dari bagaimana cara orangtua mendidiknya, dan buat saya mengenalkan anak dengan Tuhan-nya sejak dini menjadi pondasi dasar parenting.
Memilih lingkungan tinggal itu menurut saya penting sekali di Turki, karena bagaimanapun kondisi lingkungan  sangat berperan besar terhadap tumbuh kembang anak-anak.
Tinggal didaerah sekuler dan mendengar suara azan pun sulit, kalau tanpa ada kesadaran dan lalu terbiasa dengan kondisi ‘masa bodo’ seperti tetangga atau keluarga Turki-nya, lama-lama bisa saja terbawa, İman itu kan naik-Turun, kalau tidak kita ‘sirami’ dengan pendidikan rohani, Hati pun jadi gersang dan semakin jauh dari jalan islam ditambah lingkungan yang mendukung.
Bergaul dengan orang-orang baik, sholeh, mungkin bisa jadi solusi  untuk memperkuat iman-nya, misal ikutan pengajian yang diadakan ibu-ibu WNİ, atau datang ke majlis ilmu di masjid-masjid besar maupun dari komunitas tertentu, bisa menjadi salah satu solusi ‘bertahan’  hidup di lingkungan sekuler di Turki.
Beberapa Teman yang menikah dengan pria Turki  pernah berbagi kisah dengan saya, mendapat sepaket keluarga suami yang ternyata sekuler, si teman pernah ditegur mertua-nya hanya karena dia sholat!
Mertua? ber-ktp-islam tentu saja, tapi..,? sangat ‘alergi’ dengan segala aktivitas ibadah layaknya muslim.
Ada, dan banyak loh di Turki.
Saya selalu berusaha ngingetin teman-teman salah satunya yang ga sengaja saya lihat mereka banyak memiliki channel youtube, nge-Vlogg  tentang pasangan LDR ataupun yang mengirimkan DM maupun email, terutama yang mengenal pasangan asing khususnya Turki, saya selalu mengingatkan tentang :
Kenali keluarga-nya, kebiasaan keluarganya, kehidupan beragama keluarganya (bagi yang peduli dan merasa ini penting) karakter-karakter anggota keluarga nya.
Kadang baru dikenalin ‘Muka’ kakak nya,ibu nya saja udah senang ga ketulungan,karena udah yakin bakal mulus direstuin dan berharap happy ending dan bahagia selamanya, ya..ya wajar aja sih berpikiran seperti itu, karena inget: nasehatin orang yang jatuh cinta itu susah:D Baru kerasa  ‘Jlebb’ ketika menikah dan wujud asli pasangan dan keluarga nya keluar…oh noooo…Drama panjang pun tayang di sosmed-.-‘
Begitulah kisah yang saya lihat dan temui sehari-hari sepanjang ramadhan ini, anak muda, bapak-bapak tua asyik ngobrol sambil ngecay di siang bolong di cafe dekat rumah tetap bertebaran,
Baca juga : hobby ngumpul-ngumpul orang turki
tapi ada juga jaringan warung doner yang menurut saya luar biasa, tiap ramadhan semua gerai nya di liburkan 1 bulan, dan pengumuman itu tertulis di depan warungnya yang tutup, kalau ini tergantung pemiliknya,  si pemilik warung doner ini yakin kalau rezeki ga akan ketukar atau seret karena dia ga buka warung doner selama ramadhan, toh saya lihat sendiri,selepas ramadhan warung doner nya tetap ramai pembeli.
Serba-serbi ramadhan dan kehidupan beragama orang Turki, kadang kenyataannya ga sesuai ‘cerita manis’ akun-akun yang ngislami di sosmed yang muja-muji pemimpin disini dan tetap nulis segala keberhasilan negara ini (Dan itu data lama yang dipake, inget ya terakhir kurs lira saja turun terus masih kalah sama ringgit malaysia, padahal dulu sejajar dollar singapore diawal saya menikah)
Dan yang berharap dapat jodoh ‘bule muslim’ yang ga pake susah nyuruh dia sunnat dan masuk islam karena dia orang Turki.
Mbak-mbak tetap harus  berpikir matang, kalau berharap rumah tangga versi sakinah mawaddah warohmah jangan pilih juga asal bule muslim dari negara muslim, tapi kadang sholat aja ga kenal , asal namanya islami dan kalau mau menikah ga repot nyuruh dia jadi mualaf.
Ya..ya hidup itu memang pilihan..
terkadang rasa cinta juga ngalahin logika..
Dan saya menulis cerita dari segala pandangan mata dan fakta yang saya temui, kurang lebihnya kehidupan saya selama ini ya gitu, nyari suasana ramadhan ya datang ke masjid-masjid, kalau ada kajian ya berusaha datang juga, kalau di mall tiap weekend pasti ada acara ramadhan dan yang nontonnya sambil makan juga banyak .
Welcome to Turki.