Apa sih yang paling berat ketika memutuskan tinggal di negara suami?
jawaban pasti sama: jauh dari keluarga.
Nasib dan rezeki tiap orang dalam pernikahan pun tidak bisa dipukul rata, kesampingkan tentang: ” kalau menikah sama Bule / WNA  = auto kaya raya dan bahagia.
Saya sedang berada dititik ini.
Tahun lalu, sebenarnya saya berniat mengundang orangtua ke Turki, Bapak bersikukuh pengen umrah dulu baru ke Turki, (Saat itu kakak saya  membayari biaya umrah untuk ibu -bapak) namun malang, belum rezeki. Sang biro travel tersebut terjerat kasus-sebut saja dengan jelas first travel.
Kenapa kok bisa jadi ‘korban‘ first travel?–ceritanya dari kakak saya sendiri , tahun 2014 selepas kehilangan anak semata wayangnya, seorang teman menawarkannya untuk pergi umrah dengan biaya murah, waktu itu prosesnya cepat dan kakak saya bisa berangkat ke tanah suci, berbekal pengalaman pribadinya, kakak saya berniat untuk memberangkatkan umrah ibu-bapak lewat biro yang sama. Dan seperti sudah diketahui seluruh İndonesia, biro travel ini bermasalah dan gagal memberangkatkan jamaah umrah, salah satunya kedua orangtua saya.
Bapak saya memang beberapa tahun ini kondisi kesehatannya mulai menurun, tahun 2017, atas inisiatif suami mau mengundang bapak-ibu saya ke Turki, tapi permintaan mereka justru ingin saya sekeluarga yang pulang ke indonesia dengan alasan kesehatan ibu bapak yang semakin menurun dan tidak menyanggupi perjalanan jauh menuju İstanbul.
Akhirnya saya memutuskan untuk pulang bawa anak-anak ke indonesia, terutama anak ke-2 saya yang masih bayi. mereka belum bertemu cucu ke-2 nya.
Kedatangan cucu-cucu nya menjadi penyemangat, kondisi kesehatan bapak membaik, dan bapak pun berani menyetir mobil kembali semenjak kedatangan kami.
Karena rencana tahun 2018 ini kami ingin pindah rumah dan sekalian pindah kota, insha allah kalau ada rezeki tahun 2019 mencoba mengundang lagi bapak ibu untuk ke Turki.
Lalu beberapa saat tadi, adik saya kirim pesan lewat WA, mengabarkan kondisi bapak sepulang dari rumah sakit semakin drop, Adik saya menulis pesan yang langsung membuat mata saya berkaca-kaca: Permintaan maaf bapak untuk anak-anaknya, bapak minta maaf kalau tidak mampu mendidik kami dengan baik, bapak minta maaf dengan kekurangannya sebagai orangtua, Bapak memohon maaf ke anak-anaknya.
Adik saya berpesan, agar saya siap dengan kondisi apapun, dan pesan yang begitu dalam dari bapak untuk saya:
”Jangan maksa untuk pulang kalau bapak ga ada umur, bapak cuma minta didoain..,
İnsha allah ‘nanti’ bertemu lagi”—(ini yang saya kagumi dari sosok bapak, kadang dia tidak mau menunjukan sisi lemahnya) Saya tau bapak pasti mengharapkan anak-anaknya ada disisinya jika memang ‘waktu perpisahan di dunia itu tiba’
Di saat bapak dalam kondisi menurun dia masih memikirkan anak-anaknya, Bapak berharap saya baik-baik saja di rantau, saya rukun,bahagia dengan keluarga kecil saya.
Saya?
Berharap keajaiban dan Allah mengangkat sakitnya Bapak, Panjang umur agar saya masih bisa membahagiakan bapak, dan membawanya ke Turki untuk liburan.
Menikah dengan orang asing saya memang harus siap dengan kondisi apapun, kekuatan saya hanya berdoa, syukurnya sekarang era sosial media, saya masih bisa memantau kondisi bapak lewat pesan dari saudara-saudara saya.
Bercerita tentang si Bapak
Beliau memang sosok ayah yang kaku, tidak pernah menunjukan kasih sayangnya dalam pelukan atau candaan ke anak-anak, ditambah bapak saya terkenal keras.
Alasan saya memilih merantau lama di Yogya juga karena Bapak, saya tidak tahan dengan beliau yang mudah sekali marah- Saya tidak membenci bapak, saya hanya menjaga jarak agar tidak menjadi sasaran omelannya.
Secara emosional saya memang tidak merasa dekat dengan beliau, tapi hati kecil saya tetap meyakinkan kalau bapak sayang anak-anaknya dengan caranya sendiri.
İngatan saya kembali ke bangku SD, saya ingat pertama kali bapak beli mobil, merk daihatsu, mobil box lalu berganti mobil pick up daihatsu warna merah, dengan mobil kesayangannya itu beliau mencari nafkah, awalnya bapak berdagang pakaian, lalu mencoba tantangan menjadi supir pick up sewaan, bapak membangun toko kelontong dirumah,ibu saya yang jaga. Lewat ke dua usaha inilah bapak membiayai kami berempat sampai jenjang perguruan tinggi.
Waktu bapak bawa sewa di mobil nya, kebetulan lewat jalan sekolah SD, bapak berhenti dan minta izin ke penyewanya agar bisa membawa saya sekalian pulang ke rumah, padahal muatan mobil penuh, percaya atau tidak, saya bergelantungan dimobil, bapak bawanya pelan tapi tetap saja hal membahayakan dan polosnya saya suka sekali masa-masa itu.

  • Bapak yang pertama kali ngajak saya naik kereta ke Tanah abang,

Lucu sebenarnya, tapi saya ingat betul. Waktu itu ada rombongan ziarah  dari pengajian kampung saya menuju jawa timur dan sekalian ke Bali, ibu saya berangkat dengan kakak tapi saya lebih milih dirumah sama bapak karena dijanjikan naik kereta ke tanah abang,  bapak saya ngajak naik kereta barang, dan entah kenapa saya bahagia dengan hal sesederhana itu, padahal siapa yang ga tau pulau Bali?

  • Bapak yang memberi restu

Memilih menikah dengan pria asing, pintu pertama adalah restu Bapak, bukan perkara mudah meyakinkan calon suami dihadapan bapak, apalagi dengan kenekadan saya bertemu pertama kali dalam kurun 3 hari memutuskan menikah. İya saya menikah mengenal suami memang lewat dunia maya, setahun perkenalan lalu dia datang dan kami memutuskan menikah–nekad? sepertinya gitu,tapi Bismillah saja, saya dan suami  tetap ‘Maju’ kalaupun tidak berjodoh kami sudah siap dengan resiko  masing-masing.
Dalam 3 hari bapak mengenal calon suami, dan restu itu terucap dengan ikhlas. karena bapak percaya dengan pilihan saya.
Bapak saya? Saya tahu memang dia keras, mudah marah, Dibalik sosoknya yang kaku dan galak, tetap ada cinta yang dia balut dengan gayanya sendiri terhadap anak-anaknya.
Bapak saya selalu mendukung  keputusan apapun yang saya pilih, bapak tahu saya bisa bertanggung jawab dengan pilihan saya.
Sekarang kondisi Bapak dikabarkan kritis, saya hanya berharap datangnya keajaiban seiring datangnya bulan penuh berkah ramadhan..
Saya disini, hanya bisa menulis ini, menulis segala penyesalan saya kenapa saya tidak berusaha dekat dengan bapak, berharap saat-saat seperti ini saya juga ada didekat bapak.
Saya tahu resiko dengan pilihan hidup saya, siap dengan kondisi apapun. Seperti tadi suami yang membesarkan hati saya.
Ada pertemuan dan pasti akan datangnya perpisahan….
Pak..sehat lagi ya pak…