Saya ? salah satu orang yang dipertemukan jodoh lewat dunia maya.

Niat banget gitu nyari jodoh di internet? , diantara banyaknya scammer, pria-pria yang online cuma buat  menuhin ‘hasrat’ dan fantasinya.
Niat banget ya engga, saya termasuk realistis ko, kalau bisa ketemu tanpa perantara dunia maya, lebih bagus lagi.
Fokus awal tetap: nyari jodoh sholeh, baik dan bisa jadi imam buat keluarga,
Lalu kok bisa dapat jodoh lewat internet? kok bisa? yaaa bisa aja.., masalah jodoh sudah tercatat  dalam garis takdir saya, bukan dari search engine g00gle. Masalah kenapa bisa ketemu lewat dunia maya, ini cuma salah satu ‘cara’ Allah SWT mempertemukan saya dan suami.
Apa saya terobsesi sama ‘bule’ ?? Bule hunter gitu??? Saya tegaskan: engga.
Saya hanya bercita-cita berjodoh dengan lelaki satu keyakinan, yang bisa jadi sahabat, suami, orangnya sabar, ga  emosian..ya segala yang saya tulis dalam kriteria ideal,walau kenyataannya ga semua masuk dalam kriteria.
Namanya jodoh kan emang harusnya saling melengkapi, terima dengan pilihan yang sudah saya ambil dari awal. ya saya siap dengan segala konsekuensinya.
Awal kenal suami
Saya kenal secara tidak sengaja di salah satu fan page grup musik, Namanya Grup musik DEBU, saya lupa siapa yang awalnya nge-add. karena saya  juga jarang check history. lalu saling sapa  di message fb, dengan bahasa dia yang amburadul mengandalkan google translate, karena niat dia ingin belajar bahasa indonesia.
Dekat-yang awalnya saya kira becanda. obrolan biasa saja. Hingga pada satu titik, kami merasa ‘klik’ satu sama lain, kalau ini saya sulit jelasinnya gimana. Sama-sama merasa nyaman satu sama lain, mulai mencoba membuka diri dan belajar mempercayai.
Gimana bisa yakin?
Kalau ditanya ini, banyak yang meragukan, dari jejeran teman-teman dekat sampai atasan dikantor ‘nyidang’ saya. Karena dipikir nekad memutuskan resign untuk nikah, padahal belum ketemu sama sekali.
Pertama, kepercayaan dibangun dengan cara dia mengenalkan keluarga yang sangat dia hormati dan percaya, yakni kakaknya no 1. Beliau  juga yang membantu meyakinkan orangtuanya. Tanpa back up kakaknya ini, perjalanan kisah kami mungkin tidak berjalan mulus.
Komunikasi intens, saling mengenal dan jujur. Ya biasa lah.
Bisa memutuskan menerima lamaran dan itupun lewat skype? Tau mungkin saya juga ‘error’:D berawal dari segala keraguan banyak orang, bisa-bisanya kami ‘maju’ aja.
Bagaimana kedua orangtua saya bisa nerima?
Jujur saja ini dibantu networking dari teman-temannya, dulu suami saya pernah aktif di organisasi keagamaan, mesti ga lama, jamaah said nursi. Jamaah ini buka cabang juga di malaysia dan indonesia, lewat rekomendasi salah satu temannya di malaysia, dia dibantu teman-teman Turki di indonesia yang aktif juga di jamaah ini, Allah razi olsun, semua diberi kemudahan jalannya. Untuk meminta bantuan seperti ini jelas bukan perkara mudah, asal orang turki belum tentu mereka mau begitu saja menolong, check background nya dulu, karena mereka ga akan begitu saja membantu seseorang yang mereka sendiri tidak kenal secara personal, jangan-jangan penipu? wajar kecurigaan ada. Tapi karena suami saya berteman dengan salah satu anggota jamaah ini di malaysia,dan orang tersebut mengenal kepribadian suami dengan baik, atas rekomendasi beliau, teman teman Turki di Jakarta, membantu proses pernikahan kami, mereka pun mewakili keluarga suami yang tidak bisa hadir di indonesia. Saya sangat berterimakasih dengan beliau.
Dan tentu saja ini mempermudah mendapatkan kepercayaan terutama dari bapak saya. Yakin! kalau calon saya orang baik,serius dan tidak main-main.
Pertama kali bertemu
Ada sedikit masalah di imigrasi bandara, yang..ah kalau saya ceritain agak sedikit gemas sama petugas bandara. Tapi sudah lah, saya yakin sekarang petugas bandara jauh lebih baik.
3 hari bertemu, hari ke 4 kami menikah, wow nekad bener ya…, bapak saya yang justru berinisiatif karena takut anaknya zina katanya,ini setelah menerima saran dari kyai kampung kami, yg kebetulan bertetangga. saya dan suami awalnya hanya berniat akad nikah saja dan syukuran kecil-kecil, bukan bikin royalwedding..huihhh ngayal hehe. Tapi keajaiban terjadi dlm 1 minggu, lagi2 si bapak berinisiatif, bikin hajatan.
1 minggu? iya. cetak undangan, sewa tenda dll, alhamdulilah diberi kemudahan lewat keluarga besar yang turun tangan membantu. semua memakai koneksi:) bahkan hiburan rebana pun dari sekolah yayasan milik teman bapak.
kami resmi menikah dan kemudian urus2 di kedutaan Turki, sebelumnya suamipun dengan nekadnya langsung beliin tiket buat saya.
Kalau meruntut proses kami menikah saya hanya bisa mengucap : masha allah
Semua proses diberi kemudahan dan jalannya dilancarkan, sebagai seorang muslimah saya juga ikhtiar dengan jln saya sendiri: doa,sedekah,sholat. apapun ketetapan dan keputusan yang saya ambil saya memohon yg terbaik petunjukNya.
Tiap orang punya garis takdir sendiri, bertemu jodohnya dengan jalannya tersendiri, yg berkenalan sama lewat dunia maya blm tentu juga memiliki cerita proses menuju halal nya sama.
2018 ini tahun ke 7 kami menikah…, alhamdulilah dikaruniai 2 anak, laki-laki dan perempuan.
Kalau memakai pikiran manusia saja: saya mungkin barisan nekad, halu dan sedikit ga masuk akal. Tapi inilah jalan hidup saya sekarang, Allah mempertemukan saya dan suami dgn jalan seperti ini.
Baca juga: Tentang menjadi İstri pria Turki
Berapa lama – LDR-
Kenal dari awal 2010- menikah bulan sebelas 2011. proses menuju halal sekitar 1 tahun (dihitung bkn dr awal kenal)
kok cepet?
waktu itu saya tegaskan tentang target LDR, mau sampai kapan? ada kepastian? apa sekedar  butuh teman ngobrol saja? karena saya tidak ingin membuang-buang waktu tanpa kepastian, digantung kayak jemuran.
Suami waktu itu jawab: beri saya  waktu 3 tahun. Kalau memang tidak sampai berjodoh, jangan dipaksakan dan siap dengan resiko perpisahan.
Ok.
Saya memang memiliki planning menikah sebelum 30 tahun, untuk memenuhi target,saya juga ga ngoyo jadi sibuk minta dicariin jodoh sana sini,  sibukin saja memperbaiki diri,  tambah pergaulan-waktu itu saya juga mulai aktif ikut kajian salah satunya di Yisc al azhar kebayoran, awalnya diajak teman,saya pikir seru juga, selain nambah teman, nambah ilmu dan ngisi waktu di sela-sela sibuk sama urusan kantor, jadi peluang bertemu orang baru lebih terbuka,  ketemu teman-teman yang asyik dan alhamdulilah sampai sekarang kami tetap dekat, pikir saya kalau emang sama  orang yang saya kenal lewat internet ga berjodoh, saya masih yakin Allah bakal mempertemukan saya dengan jodoh di jalan yang baik, ini bukan ‘selingkuh’ ya, saya ga menaruh harapan 100 persen sama manusia, tetap menggantungkannya sama Allah. Fokus memperbaiki diri saja, Dan memang banyak yang saya lihat sendiri teman-teman saya bertemu jodohnya di organisasi ini termasuk teman sekelas saya, beberapa angkatan saya juga mereka banyak yang berjodoh.–eits fokus tetap ngaji-ketemu jodoh itu bonus nya, namanya interaksi organisasi, krn byk kegiatan positif juga, yang memungkinkan mereka untuk bertemu dan akhirnya berjodoh, dan sayangnya ga ada yang deket juga sama saya waktu itu hehehe malah terlalu asyik main sama teman-teman sekelas di kajian yisc angkatan 2010. (asli niat saya ngaji ko dan nambah teman)
Kenapa akhirnya bisa memutuskan lebih cepat dari target awal: 3 tahun?
Nah ini dari pihak suami waktu itu, dia yang ngerasa ‘klik’ dan bilang, ga mau kehilangan saya **uhukkk gakkk saya ga make pelet apapun..suer..*
lalu dia mengutarakan keseriusannya ke orangtua dan kakak-kakaknya(yang tentu saja keluarga besarnya kaget juga, banyak yang ga percaya dan meragukan)
dan proses itupun dimulai…
Kadang gitu ya kalau emang ketemu jodoh nya, mau jelasin detail kenapa bisa ambil keputusan ini-itu,jelasinnya sulit dijelasin pakai kata-kata (nah apa coba)
wejangan dan nasehat apapun kami terima dengan segala resikonya, bahkan suami awal datang ke indonesia juga sudah mempersiapkan mental kalau gagal dan siap katanya nanggung malu didepan keluarganya.
baca juga sekalian: Pria turki dan wajib militer
Apa saya ngebet banget sama orang turki?
waktu kenal suami aja saya baru tau kalo turki punya bahasanya sendiri…lohhh, saya cuma tau İstanbul dan kisah muhamad al fatih, tapi ini juga bukan ketertarikan awal saya.
Dibanding alfatih, saya lebih byk melahap kisah shalahudin al ayyubi, idola saya dari Mts di pelajaran sejarah kebudayaan islam, dan bercita-cita suatu saat saya harus ke damaskus, suriah ziarah ke makamnya, lalu cordova dan alhambra.(dan saya punya koleksi buku2nya)
Turki  dan istanbul bukan prioritas yg masuk list dream saya.
Dan inilah saya sekarang…
kadang hidup sering ga sesuai mimpi,tapi tetap bersyukur bahwa artinya saya diberi kesempatan untuk lebih mengenal negeri ini.
lelaki turki itu yg ternyata jadi partner hidup saya….insha allah jodoh till jannah, doain ya..
Meski kami ga sempurna-sempurna amat, suami juga ga romantis–bahkan selama menikah belum pernah sama sekalipun dapat buket bunga cantik- malah dapat tanaman yang berbunga sama pot-pot nya* mau dibilang romantis malah kayak nyuruh saya berkebun tepatnya.
OK lah  ukuran romantisme bkn dari hadiah-hadiah manis,  menjadi baba kesayangan yang siap sedia nyebokin anak saja udah keren dimata saya, yang  masih  mau berbagi tugas rumah tangga, itu cukup lah.

The best of you is he who he best to his wife

When a husband and wife look at each other with love Allah look at them with mercy

(PBUH :the prophet Muhammad)

Marriage is a mossaic your build with your spouse, millions of tiny moment that create your love story (jn smith)