Mendidik anak dalam İslam ketika Anne dan Baba nya dalam urusan Fiqih berbeda Mahzab, lalu anak harus ikut mana? Menjadi Pekerjaan rumah untuk saya sekarang, ketika Fatih mulai dikenalkan tentang agama. Haruskah mengikuti mahzab mayoritas di Turki atau saya kenalkan dengan Mahzab mayoritas di İndonesia.

Pandemi Corona, sekolah Online, berdampak juga dengan jadwal Kursus Alquran di masjid ketika Musim panas, Tahun ini ditiadakan. Fatih yang sudah memasuki usia sekolah, saya mulai perkenalkan ajaran İslam secara konsisten, Untuk belajar Alquran saya mulai dengan Buku İqro dan Buku dari TK nya dulu, sedikit perbedaan tata cara baca :Alif dan Elif saja kadang membuat lidah saya keseleo, elif, be te, tse…,

Tahun lalu, Fatih sempat masuk kuran kursu di yayasan sulamaniyah cabang Pluto, kebetulan buka kuran kursu yang jadwalnya lumayan panjang, yayasan juga menyediakan makan siang gratis, Selain belajar Al quran, anak-anak juga diajarkan belajar Solat. Tahun ini karena Pandemi Coorna, tidak mengirim Fatih. Musim Panas setahun lalu, Fatih belum masuk SD (masuk SD bulan september) Jadi dia dimasukan kelas TK, hanya belajar Hijaiyah.

Praktis, selama anak dirumah aja, tahun ini mulai menjadi Tugas saya sepenuhnya mengajarkan Fatih, jadwal belajar Alquran tiap siang selepas Dhuhur, Kalau sedang Off, harus diganti sebelum tidur: Al fatihah dan beberapa surat pendek yang sudah Fatih Hafal. Karena sekarang Sekolah sudah mulai lagi, Ngaji juga jadi keteteran, PR dan tugas sekolah lumayan banyak, saya ga mau memaksakan Fatih, diselang seling aja ketika dia ada sedikit waktu, Minimal sebelum tidur dia baca Annas, al alaq, al ikhlas, al kautsar dan masih mau saya tambah lagi hafalannya nyicil.

Mengajarkan Solat merujuk mahzab Mana?

Muslim di Turki mayoritas merujuk hukum Fiqih berdasar mahzab Hanafi, Hukum Fiqih ini mengatur Syariat dan ibadah muslim di Turki, Sedang saya yang terlahir dan besar di İndonesia, dikenalkan sedari kecil dengan Fiqih yang merujuk Hukum fiqih Mahzab Syafii, Ada banyak perbedaan dalam tata cara beribadah, yang paling jelas sebagai pelaku kawin campur İndonesia-Turki, dari Hukum Nikah juga sudah terlihat, dimana Hukum Nikah Di Turki yang merujuk Mahzab hanafi : Keberadaan WALİ nikah tidak menjadi syarat SAH , Sehingga hal ini berpengaruh juga dengan tata cara Menikah di Turki, Wanita yang sudah akil balig, dewasa baik Gadis maupun janda, berakal sehat dan mampu melakukan Akadnya seperti Jual Beli maka dia berhak melangsungkan akad Nikah tanpa izin Wali. Untuk sumber bacaan detailnya bisa cek di: Rumah Fiqih

Baca juga

Syarat Menikah di TURKİ untuk WNİ

Nikah İmam dan Nikah Resmi di TURKİ apa perbedaannya

Diajak menikah oleh Pria Turki pertimbangkan Hal ini

Lalu ketika Sampai Pada Bab Salat? Saya harus merujuk kemana? Karena Fatih lahir dan dibesarkan di Negara Babanya yang mayoritas muslim bermahzab Hanafi, Saya merujuk tatacara Salat sesuai Hukum Fiqih Mahzab Hanafi di Turki, Tata cara solat sebenarnya gerakannya sama, tapi sedikit perbedaan saya temukan di bacaan-bacaan dalam Solat, misal: Takbir İftitah, Muslim di İndonesia biasa melanjutkan dengan bacaan Doa iftitah: Allohu Akbaru kabira Walhamdulilahi katsiiraa…., tapi untuk di Turki dilanjut bacaan Subhanaka: Termasuk Bacaan Tahiyat Akhir, Jika di İndonesia ditambah Doa Sebelum Salam, Di Turki Tidak, dan bacaan Tahiyat pun sedikit berbeda: Attahiyatulmubarakatussolawawatu thoyibatulillahi…, Di Turki sesuai Bacaan Tahiyat menurut Mahzab Hanafi.

Bacaan Dalam Solat menurut Mahzab Hanafi di Turki.

Nah jadi PR- juga kan buat Anne-nya agar belajar lagi, ditambah Solat Sunah Qobliyah dan Ba’diyah (Solat Sunat sebelum dan sesudah Solat wajib) Sunnatnya tertib sekali dilakukan Muslim Turki.

  • Solat Subuh: 2 rakaat Solat Qobliyah, 2 Rakaat Subuh
  • Dhuhur: 4 rakaat solat sunat qobliyah, 4 rakat solat dhuhur dan 2 rakaat solat sunah Ba’diyah.
  • Ashar: 4 Rakaat Solat Sunat Qobliyah, 4 rakaat Solat Ashar
  • Maghrib: 3 Rakaat Solat maghrib, 2 rakaat Sunnah
  • İsya: 4 rakaat Sunah Qobliyah, 4 rakaat İsya, 2 rakaat Sunat Ba’diyah

Menyesuaikan dengan Hukum fiqih di Turki, Alasannya ya karena anak-anak lahir dan besar di Turki, interaksi juga dengan teman teman Turki, kalau nanti kuran kursu di Buka lagi, Semua merujuk ke Mahzab Hanafi , terutama ketika belajar tata cara İbadah sehari-hari. Pengalaman saja, waktu Fatih saya masukan TK İslam di İstanbul, belajar İqro versi Turki sedang dirumah saya ajarkan versi İndonesia, Seperti yang sudah saya tulis di paragraf atas, Fatih ujungnya mempertanyakan, kenapa di baca Alif bukan elif, karena Ustazahnya ngajarin: elif, Be te Tse, sampai bacaan Fatih yang sudah saya ajarkan kena koreksi Gurunya.

Kursus ALquran untuk anak anak di TURKİ

Punya anak campuran rasanya seperti Apa

Jadi gimana? Kalau İbadah, sejauh ini saya sebenarnya masih mengikuti Hukum Fiqih Mahzab Syafii, Menikah di İndonesia juga sesuai Hukum Fiqih mahzab SYafii, adanya WALİ nikah sebagai syarat Sah, rasanya ‘ganjel’ gitu kok Bapak saya ga jadi Wali nikah, Kalau merujuk Hukum Fiqih yang dipakai di Turki, Makanya pilihan menikah di İndonesia jadi syarat Mutlak buat suami dulu, jadilah dia belajar menghafal bacaan ketika ijab Kabul, memilih dalam bahasa arab, dia hafalkan: Qobiltu Nikahaha watazwijaha bil mahril mazkur haalan.., lebih pendek daripada teks berbahasa İndonesia. İlmu saya ga nyampe juga membahas Perbandingan Mahzab, kalau ga Salah ini jadi Program Studi di İAİN (sekarang UİN) tentang Hukum İslam.

Salah satu Tradisi Pernikahan di TURKİ, wajib Ziarah ke Makam Sahabat Nabi

Untuk saat ini setahu saya masih termasuk perbedaan pendapat diantara jumhur ulama, tentang İstri harus ikut suami kah? Jika berbeda mahzab Fiqih. Ada dasarnya dalam Alquran, tentang ketaatan İstri kepada suami, kecuali dalam hal kemaksiatan si İstri boleh tidak patuh, Perkara lainnya, asal Suami ridho dengan pilihan Fiqih istrinya, bisa saja tetap berbeda.

Saya juga sempat diskusi dengan teman lama lewat WA, sesuai background pendidikannya, dan dia juga sempat menjadi Pengajar Diniyah di Pondok dulu, Nanya tentang pendapat dia tentang Perbedaan mahzab antara Suami İstri, haruskah İstri ikut suami? Kalau menurut Beliau, Ga apa apa, ga setengah-setengah, Daripada Talfiq. İstilah yang baru saya baca kemudian saya telusuri sampai membaca jurnal ini: Talfiq dalam pelaksanaan İbadah dalam perspektif 4 mahzab: Rasyida Arsjad, STAİ Hasan Jufri Bawean Lebih jelasnya silahkan baca saja ya. Jadi silahkan ambil kesimpulan sendiri setelahnya, Kalau dulu awal datang di Turki, sempat ikut kajian via skype dengan ustazah yang juga mahasiswi doktoral di Turki, Jawaban Beliau, Rujukannya karena suami adalah imam dalam Keluarga, Pemimpin Rumah tangga, kalau akhirnya mengikuti mahzab hanafi sesuai suami, tidak apa-apa, Daripada setengah setengah menjurus ke Talfiq dalam beribadah. Ehm jadi enaknya Gimana? Masih tetap dengan hukum fiqih bawaan dari İndonesia asal suami tetap ridho ya bismillah aja. Ada yang punya pendapat lain? Sharing ya, saya juga masih belajar…