Categories
jalan jalan Turkey

Amasya, Kota dimana Para Calon Sultan Utsmaniyah dididik

Amasya:  sebuah kota kecil yg terletak di atas pegunungan,   salah satu propinsi di utara tengah daerah anatolia turki, kota ini cukup tua, meninggalkan jejak  bangsa bangsa besar yang pernah berkuasa di tanah Anatolia, Hittit-pontus-, romawi, selcuk dan kekhalifahan utsmaniyah.
Amasya sendiri ber arti:Mother goddness,  dalam bahasa romawi kuno di sebut  Amaciac, yunani kuno : pontus , Amaseia, Turki: Amasya ( dibaca: a-masja)

Untuk menuju kota kecil ini dari istanbul membutuhkan waktu kurang lebih 10 jam-an, dan dari  ibukota Ankara 5 jam-an jika ditempuh dengan Bis. Bandara terdekat adalah Merzifon,dengan jadwal penerbangan yang terbatas, atau dari kota Samsun kurang  lebih 2 jam menuju Amasya, kota ini cukup terpencil  berada di daerah perbukitan. Pemerintah lokal Amasya sedang giat membangun kotanya untuk mendatangkan banyak turis lagi, salah satunya proyek tunnel  Ferhat, yang akan memudahkan para pelancong untuk datang ke kota ini.

Apa sih yang menarik dari Amasya?
Kota ini belum seterkenal istanbul, pamukkale, cappodacia yang selalu jadi tujuan turis dunia ketika datang ke Turki,tapi saya rekomendasikan buat para traveller untuk menjelajah kota kecil ini yang terkenal juga sebagai salah satu kota penghasil Apel di Turki, Apel Amasya sedikit unik dari warna nya, cenderung pink. Sayang karena saya datang di awal musim semi, Pohon pohon Apel yang saya lihat sepanjang perjalanan menuju Amasya baru berbunga.
Oh ya ketika saya posting beberapa Foto Amasya, ada teman teman saya yang menanyalan tentang keterkaitan:  serial king sulaiman, Memoar of hurrem? Karena saya bukan penikmat serial Turki: king sulaiman atau disini disebut muhtesem dizi, Yang saya tahu memang ada beberapa memoar di pinggir sungai irish  tertulis tentang : sejarah kanuni sultan sulaiman dan juga putera nya mustafa di kota ini.
Untuk menuju Amasya, karena saya berangkat dari kota tetangga Amasya, Corum city. Saya dan babapanda cukup naik minibus  saja, datang ke terminal kota beli tiket di konter nya seharga: 12 lira sekali jalan.Perjalanan hanya menempuh waktu 1 jam 19 menit menuju amasya, tapi sebelumnya minibus ini akan transit terlebih dulu di mecitozu, salah satu daerah corum yang berbatasan dengan amasya, untuk mengambil penumpang, karena hanya ada jenis minibus seperti ini  yang menghubungkan dengan kota kota terdekat.

Angkot ke Amasya dari terminal kota Corum

sampai Amasya sekitar jam 10 pagi, sengaja saya dan babapanda berangkat pagi, karena kami hanya  melakukan perjalanan singkat tanpa menginap di kota ini, dan si anakpanda bisa dititipkan ke babaanne nya di corum, begitu sampai kami berdua sarapan dulu di salah satu restoran lokal sebelum menjelajah kota amasya yang lumayan kecil jadi saya pikir cukup dengan menghabiskan waktu 1 hari, walau ternyata perkiraan saya melesat,  kota kecil ini memiliki banyak lokasi yang wajib di jelajahi, salah satunya miniatur amasya, sayang saya tidak sempat melihat miniatur kota ini.
Pertama sampai ke kota ini saya langsung menuju The rock tombs   naik ke atas perbukitan , untuk masuk wilayah bukit ini setiap turis dikenakan biaya tiket 5 lira,

Lokasi perbukitan ini di sebut juga the rock of tombs.

Salah satu daya tarik untuk menjelajah kota Amasya  melihat sisa sisa makam raja raja pontic, Sekitar 183 SM Kota Amasya di huni oleh bangsa helenestik dan menjadi ibukota kerajaan Pontus, di jaman ini juga lahirnya  Strabo seorang ahli geografi yunani, Strabo lahir di Amasya Turki.
Makam raja raja pontic di ukir di perbukitan batu, dengan melubangi bukit dan menaruh makam nya di dalam sebuah ruangan, jenis makam yang di ukir di atas batu seperti ini tidak hanya saya jumpai di Amasya, di beberapa daerah sekitar amasya pernah saya lihat ketika di perjalanan pulang menuju istanbul dari corum, melewati perbukitan, ada jenis makam sejenis. Mungkin ini menjadi ciri khas era pontic pada masa nya.me makam kan raja raja atau juga orang penting pada masa itu di ukir makam nya di atas perbukitan.
Tepat di atas perbukitan ini ada lokasi benteng di sebut juga Amasya kalesi, kami belum sempat menuju benteng di atas bukit ini karena lokasinya hanya bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi ,ada jalan khusus nya atau sewa taksi, kalau mau ngirit ya bisa saja jalan kaki buat yang terbiasa naik gunung:) karena keterbatasan waktu juga saya dan babapanda putar balik untuk mengunjungi lokasi lainnya
Kota kecil ini melahirkan banyak raja , para pemikir, cendikiawan, seniman, baik dari era pontus sampai masa kekhalifahan ustmaniyah turki, Dimana Amasya dipilih sebagai kota tempat para pangeran muda utsmaniyah di gembleng di madrasah madrasah , dilatih militer dan merintis karir pemerintahannya menjadi gubernur Amasya sebelum dipanggil pulang ke istanbul.–

Masjid sekaligus Madrasah tempat belajar para calon sultan

Saya tidak sempat mengunjungi semua objek wisata di Amasya yang menarik,  ke masjid kompleks beyazid yildirim  cuma sempat foto dari luar saja, dan juga  kapı ağa madrasah menurut yang saya baca di internet,  sayangnya tidak dibuka untuk umum. Madrasah tempat belajar para ulama ulama utsmaniyah di masa kejayaannya.
Kota ini di masa kekhalifahan utsmaniyah memang menjadi tempat menyiapkan  para pangeran muda calon sultan , mereka mendapatkan pelatihan dan pendidikan baik dari segi agama, politik dan juga keprajuritan, Dari segi politik biasanya di mulai dengan jabatan pemerintahan pertama menjadi gubernur Amasya. Diantara nya:
Muhamad al fatih  dalam bahasa turki lebih di kenal dengan sebutan : Fatih sultan Mehmed (mehmed II) beliau menjadi gubernur di tahun 1438 selama 1 tahun
Murad II (putera dari Sultan celebi Mehmed) Menjabat selama 6 tahun
Celebi Mehmed di tahun 1309, Yildirım bayezid (1389)
Lalu ada Bayezid II dia menjabat tahun 1454 ketika dia berumur 7 thn(ini yg saya baca dari prasastinya) dan selama 27 tahun Amasya di bawah pemerintahannya, pada tahun 1481 dia dipanggil ke istanbul ketika ayahandanya  Sultan Al  Fatih wafat.
yavuz sultan selim, putera dari Bayezid II beliau tidak menjabat gubernur Amasya tapi Trabzon, kemudian ketika Ayahnya mengundurkan diri, dia dipanggil ke İstanbul.
Mereka yang saya tulis adalah sultan sultan Ottoman yang sukses memimpin kekhalifahan utsmaniyah, nah saya juga sempat membaca prasasti di sebuah Taman  tentang  pangeran pangeran Ottoman  lainnya yang menjadi Gubernur Amasya tapi TİDAK sukses  atau dipanggil untuk mengurusi tampuk kekuasaan Utsmaniyah yang lebih besar:
Shahzadah Ahmet celebi putera dari Murad II, Shazadah Alauddin putera dari Murad II , Shahzadah Ahmed putera dari Bayezid II, Shahzadah Mustafa putera Kanuni sultan suleyman, shah zadah Bayezid putera dari kanuni sultan suleyman (Dua nama terakkhir sepertinya tidak asing bagi penikmat drama king suleyman)   
Banyak museum sejarah yang menarik di Amasya, sayangnya saya cuma sempat masuk ke museum arkeologi nya, karena letaknya yang strategis di depan mall Amasya, miniatur amasya dan museum para shah zadah, sepertinya emang patut di kunjungi, sayang saya melewatkannya, karena keterbatasan waktu, ini beberapa yang saya kumpulkan dari web pemerintah amasya:
Museum Arkeologi nya juga ga kalah menarik, banyak peninggalan peradaban kuno baik era pontus, romawi, selcuk juga Ottoman, Mulai dari perhiasan, uang kertas kekhalifahan utsmaniyah (ottoman) dan yang lebih menarik adalah ini:D
karena pas datang ke museum pengunjungnya cuma berdua dengan sibabapanda, saya tidak berani masuk ruangan ini, ruangan di lantai dua lampu depannya sedikit temaram..IMG_8451

Mummi yang tersimpan di museum Amasya

Pas pintu masuk ada mumi balita yang bikin saya ga berani masuk  lebih jauh lagi, rasanya bener seperti uji nyali, pengunjung cuma berdua dan para penjaga museum  kumpul di depan pintu masuk dan loket saja, jadi ngebayangin seperti di film  Night of museum, gimana kalau tidan tiba mereka  bangkit—aih abaikan halusinasi saya
Memang daya tarik museum arkeologi ini salah satunya bisa melihat langsung mumi asli yang di simpan dalam peti kaca, mumi dari era romawi dan ottoman.
Dan ini:)IMG_0590
pemerintah amasya meng akomodir sekali lokasi buat turis selfie:D dipasang patung seorang pria ottoman berjubah dengan memegang HP:)
kesimpulan saya : kota Amasya itu walau letaknya terpencil,  dan letaknya di himpit pegunungan, saya pribadi belum merasa puas karena belum semua terjeajahi, apalagi di Amasya banyak sekali hamam hamam (turksh bath) di area perumahan turki ottoman, rumah rumah tua di bawah perbukitan yang menjadi daya tarik wisatawan, bahkan ada hamam tua  yang dibangun sejak jaman selcuk, hamam pria dan wanita terpisah, dan sisa sisa  bangunan hamam di tengah perbukitan peninggalan abad 14.
untuk urusan kuliner, ada cafe legendaris di seberang bukit the rock of tombs ini namanya ali kaya restorant , letaknya juga di atas perbukitan dengan view yang menarik ali kaya restoran the pict .saya belum sempat ke sini juga, mengingat lokasinya yang di atas perbukitan, jam 4 sore saya harus balik lagi ke corum, karena itu waktu untuk minibus terakhir dari amasya, kendaraan umum yang terjadwal dan terbatas.
Masih banyak sebenarnya yang saya mau tulis lagi tentang jelajah Amasya , kapan kapan lagi saya tulis, stok foto masih banyak, saya sedang kumpulin referensi kisah ferhat dan sirin (legenda amasya  bak romeo dan juliet) kisah ini menjadi ikon amasya sebagai kota nya romeo dan juliet ala Turki, seorang rakyat jelata yang mencintai puteri sultan tapi ga direstui, Legenda rakyat Amasya, tapi cerita ini juga  ada versi iran, apa raja persia atau sultan ottoman,  karena referensi kebanyakan berbahasa turki dan seperti biasa si babapanda pasti nantangin saya translatin sendiri sekalian belajar, ya maafkan mungkin butuh waktu lama:)
Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *