Ada banyak alasan seseorang membagikan foto anak-anaknya di media sosial, salahsatunya membuat folder khusus seperti di Facebook, dengan judul: Numpang nyimpen disni, HP penuh. Sering sekali saya menemukan kalimat kurang lebih sama, diposting diberanda tanpa dibuat pengaturan siapa saja yang berhak melihat foto anak tersebut, masih disetting publik.

Berbagai foto aktivitas anak-anak di rumah maupun di ruang terbuka, sebagai sesama ibu, sedikit saya memahami kenapa teman teman di sosial media, memposting foto anak-anak mereka, rasanya memang menyenangkan saja, berbagi keceriaan, ada teman bertukar obrolan dikolom komen, terkadang bertukar tips pengasuhan maupun perawatan anak, hingga mungkin ada yang kita tidak sadari ‘celah’ orang asing yang berteman di sosial media, memiliki niat buruk, atau dalam pandangan agama islam, adanya penyakit Ain, dikenal dalam bahasa turki: Nazar.

Mengenal NAZAR di Turki–tentang penyakit ain

Keputusan yang disepakati

Kemarin, seperti biasa jika sepulang bepergian, rasanya ada saja foto yang ingin saya posting di sosial media, ya maklum kehidupan terkurung di komplek dan jarang keluar rumah, berbagi cerita dengan follower di instastories-akun instagram. Kemudian suami menghampiri saya, karena saya memposting foto foto bersama anak-anak lagi, aktifitas biasa aja sebenarnya, bukan foto anak-anak yang terbuka auratnya. Kemudian dia mengatakan: ” anak-anak sudah semakin besar, kamu pernah bertanya ga ke mereka, dapat izin ga posting foto mereka? jangan mentang mentang kamu ibunya bisa bebas posting foto anak?”

Kemudian suami cek lagi, karena settingan akun instagram saya memang settingan untuk publik. Dengan dalih sosial media-terutama instagram saya setting publik karena kepentingan konten Blog juga, dia mengatakan:

”Apa harus punya akun semua sosial media?”,

” sudah ada Blog kalau kamu mau menulis, apa masih kurang?”

Tiba-tiba saya kepikiran dengan teman-teman Blogger yang berjuang keras untuk menaikkan followersnya demi menjadi Blogfluencer, dengan alasan syarat mendapatkan Job, ah saya sadar posisi ini, mencampuradukkan foto pribadi keluarga dengan konten dalam satu akun, awalnya memang akun tersebut saya buat untuk pribadi, memposting foto anak-anak dari bayi, kemudian saya setting untuk publik. ini kesalahan fatal, harusnya saya pisahkan akun dari awal.

Akun instagram baru

Hari ini, saya meng-arsipkan semua foto anak-anak, tapi juga membuat akun baru dengan nama:KELUARGAPANDA17, akun instagram lama: rahmabalci–followers juga tidak sampai 1600, entah nasipnya masih saya gantung, ganti suasana ganti akun, fokusnya diakun baru memang untuk konten dan postingan foto random hasil jepretan kamera Canon, karena saya juga suka fotografi.

Anak İndonesia Turki ikut mahzab islam mana?

Saya diingatkan suami tentang hak anak juga, dia sempat nanya fatih, dan sejujurnya fatih mulai keberatan fotonya diposting di sosial media, dia tertarik fotografi tapi bukan untuk menjadi model fotonya, belakangan saya memang mengajarkan dia memotret dengan camera slr, hasil fotonya terbilang lumayan, anaknya cepat sekali belajar, meski saya harus cerewet mengawalnya ketika memegang kamera, terkadang dia spontan berlari, bikin deg-degan kalau tersandung dan kameranya..arghhhhhh saya tidak bisa membayangkan-.-‘

Kedepan saya akan mengurangi postingan foto anak-anak demi privasi di sosial media, tapi untuk cerita di Blog tentang kehidupan keluargapanda tetap berjalan kok, image-pendukung kan bisa diatur.

Melihat generasi muda di Turki yang semakin jauh dari agama

Saya sadar ada bahaya besar dibalik postingan foto anak-anak, meski kadang mengakui masih ‘bandel’ posting, rasanya kemarin tertampar realita, ketika anak mulai bisa protes. Anak-anak bukan barang properti, untuk sebagian orang masih menjadikan anak ‘bintang’ demi kontennya menarik rezeki, itu hak mereka juga sih, kita tidak berjalan dengan ‘sepatu’ yang sama. Saya mau cari sepatu ukuran saya sendiri:D

Kelihatannya memang keluargapanda kurang luwes ya membuat konten Family:D, orang-orang bisa dengan tanpa beban memposting, menggugah video kehidupan sehari-hari, acara keluarga, tour isi rumah, atau percaya diri posting foto dengan pasangan sangat mesra, ada adegan cium pipi. Serasa lebih dekat dengan penggemar**woey mba..situ artis apa:V?”

Kami masih memberi batasan, ibaratnya ada ring utama, ring ke-2, ring ke-3. Saya harus menghargai pasangan dan juga anak-anak, karena tidak semua merasa baik-baik saja kesehariannya dibuka ke publik.

Ketika anak semakin besar dan sudah bisa protes, ya ya disini akhirnya saya menulis, ada banyak pekerjaan rumah, perawatan sosial media yang harus saya kerjakan tanpa banyak melibatkan foto foto mereka, harus saya akali tanpa harus menunjukan wajah mereka terang-terangan lagi, İya saya masih harus belajar mengendalikan diri, memilah mana yang bisa saya bagikan ke publik atau simpan saja untuk koleksi pribadi.

Dan saya masih tetap menggunakan instagram kok https://www.instagram.com/keluargapanda17/ khusus untuk konten, masih bisa interaksi sama penggemar**huahhh pede sekali mbakknyaaaa:V***