Terus terang saya paling malas nanggepin ‘Mom War’ ibu-ibu zaman Now. Pernah ikutan Sebuah Grup İbu-İbu di Facebook, tujuan grupnya Bagus, tapi isinya komen tentang perbandingan terus, Asi Vs susu Formula, Normal Vs Caesar, hadeuh Perang mulu, Kemudian pilih Leave Grup demi kenyamanan diri sendiri. Karena saya masih ngerasa Waras dengan hak siapapun seorang ibu memilih keputusan terbaik untuk buah hatinya, Mau Normal, Caesar tidak mengurangi perannya menjadi seorang İbu terbaik untuk anak-anaknya.

Keputusan untuk operasi Caesar

Saya memilih menjalani operasi Caesar ketika melahirkan anak pertama, F Bukan karena Gaya-gaya-an, biar tetap ‘rapet’ eh apa sih, Tapi karena kondisi Medis. Dua hari berjuang tapi nihil, saya ingat sekali waktu itu. Sabtu pagi pukul 8, tiba-tiba air ketuban pecah, tidak bisa saya tahan, mikir apa karena sehari sebelumnya saya melakukan senam sendiri, senam Pre-natal lewat video di Youtube, menjelang mendekati jadwal kelahiran, saya rajin melakukan senam di rumah, praktek senam kehamilan dasar.

Ketuban pecah? suami panik, wajar. langsung telpon taksi dan Kakak ipar, herannya saya tidak merasakan mules sama sekali layaknya ibu yang mau melahirkan, semua berjalan normal saja, cuma air ketuban yang tidak bisa saya tahan. Bertiga kami menuju Rumah sakit umum terdekat, langsung ke UGD. Nah sedihnya Dokter Tidak ada sama sekali di klinik bersalin, para staf perawat juga hanya sedikit, masih pagi dan itu hari Sabtu.

Suami sempat bersitegang dengan Petugas medis di poliklinik, karena tidak ada Dokter sama sekali, sementara air ketuban tetap aja ngalir. Dalam kondisi seperti itu, kami langsung meninggalkan UGD, panggil Taksi lagi, langsung menuju Rumah sakit besar Universitas Marmara. Begitu sampai Di Marmara, Petugas di UGD langsung sigap. Suami melakukan pendaftaran, saya langsung di cek tensi dan cek darah oleh Petugas Medis di UGD, Dengan naik kursi roda, kami diarahkan untuk langsung menuju klinil bersalin di lantai tiga Rumah sakit, Sebelum masuk klinik, İpar saya memaksa saya makan beberapa lembar roti gandum dan air, meski belum merasa lapar, tapi dia paksa. Tujuannya? karena begitu masuk ruang isolasi di poliklinik, tidak diperkenankan makan dan minum sama sekali.

Di dalam Poliklinik, pintu masuk pun hanya bisa diakses dari dalam. Pengunjung tidak bisa sembarang masuk ruangan, hanya petugas yang memiliki İD card khusus untuk membuka pintu dari luar. Benar-benar di İsolasi, saya sempat mencoba buka pintu dan memanggil suami yang duduk di kursi ruang tunggu, karena haus dan ingin minta minum, ditegur Dokter. Tidak boleh sama sekali. Hiks! sementara selang infus melekat di pergelangan tangan, saya bawa-bawa dengan alatnya. 2 Hari saya bertahan hidup hanya mengandalkan cairan infus.

Demi bisa melahirkan normal, saya diminta jalan-jalan di koridor, Bolak -balik. Beberapa kali di cek perkembangan janin, masih terlihat normal. Tapi tidak mules sama sekali. Menuju malam, tetap tidak ada penambahan pembukaan , hingga ‘cerita horor’ merasakan Mules karena İnduksi dimulai, diberi cairan İnduksi lewat selang infus, begitu masuk tubuh, langsung mules luar biasa, tapi begitu cairan habis, kembali Normal seakan tidak terjadi apa-apa. Saya bisa duduk santai, bisa sambil memainkan tombol ranjang otomatis, posisi Tidur atau sandaran. Bolak balik ke toilet. Sampai ngajak bicara janin di Perut, minta sama dia buat kasih sinyal kapan mau keluar? Sampai pagi? Nihil. Kemudian induksi (lagi) dan lagi.

operasi caesar
normal vs caesar

Proses mules karena İnduksi ini luar biasa juga, saya sampai meracau, udah ngomongnya campur aduk, İnggris dan Turkche, Dokternya selalu mengatakan hal sama: Az kaldı…..Aza kaldı, ! Pokoknya dibilang sabar bu sebentar lagi, tahu-tahu nunggu 3 jam, masih saja ga ada perkembangan. Setengah sadar dari gelap menuju terang dibalik jendela ruangan, saya masih sempat melihat pemandangan pesawat yang akan Landing di Bandara Sabiha Gokchen, Karena lokasi Rumah sakit tidak begitu jauh juga dari Bandara. Sampai akhirnya Malam senin selepas İsya, Datang Tim medis menyiapkan peralatan, membawa ranjang otomatis, memindahkan saya, setelah menunjukan surat persetujuan yang ditanda tangani suami, Saya akan naik meja operasi. Keputusan Caesar Final. Dalam 2 hari tidak ada kemajuan sama sekali, meski dibantu İnduksi. Sedang air ketuban tetap saja keluar, kondisi Janin kata dokter sebenarnya tidak masalah, dia nyenyak terus tidur….sampai dijuluki: tembel bebek .

Begitu keluar dari ruang isolasi, di koridor bertemu suami, wajahnya kelihatan lelah, dua hari dia menunggu dengan kondisi cemas dan kurang tidur. Bak adegan Drama, dia memegang tangan saya sebelum dilepas, Menguatkan saya, diatas ranjang otomatis, suami tidak boleh menemani. Karena Rumah sakit milik Pemerintah, Keluarga Pasien dilarang menemani proses persalinan.

Menikmati Proses melahirkan Caesar

Begitu masuk ruang operasi yang dingin, Seorang Dokter anestesi langsung menyuntikan sebuah jarum dekat sumsum tulang belakang, waktu itu saya diposisikan untuk meringkuk bak bayi, agar proses penyuntikan bisa berjalan lancar, Proses anestesi spinal. Tidak lama reaksi obat bius yang mematikan sebagian saraf didaerah perut kebawah, mulai saya rasakan. Mati rasa. Dan operasi caesar dimulai.

Masih teringat dengan suasana dingin di ruang operasi, setengah sadar, selang oksigen dan beberapa tempelan di dada untuk mengontrol detak jantung, suara gunting..sret…srettt, Begitu bayi diangkat, terdengar suara tangisnya, tapi bayi tidak langsung diperlihatkan ke saya,langsung dibawake ruang khusus bayi. Operasi masih berjalan, bagaimana suara selang yang membersihkan darah, lalu suara benang ketika menjahit lipatan perut, suara gunting…, Begitu operasi selesai, saya langsung dipindahkan ke ruang khusus lagi, untuk pemulihan. Didalam ruangan, saya tidak tahu persis nama alat-alat Medis Modern di ruangan tersebut, yang saya rasakan, saya diberi waktu setengah jam pemulihan kondisi dengan alat bantu oksigen khusus, oksigen dingin mulai masuk ketubuh. Kadang sampai berpikir, ‘ini dimana? apa masih hidup?’ ruangan dingin, sepi. Hanya alat-alat medis yang mengelilingi.

Setengah jam berlalu, datang petugas kembali, kemudian membawa saya ke ruangan pasien. Tengah malam dipindahkan dan baru ketemu si Bayi yang ditunggu dua hari. Para perawat langsung menyodorkan si Bayi agar dicoba disusui, rasanya? belum bisa gerak, masih senderan, perlahan efek bius mulai berkurang, nyut..nyut….nyuttt, lepas kateter. Paksa duduk, begitu Subuh langsung disuruh belajar berdiri, dibantu dua perawat, pandangan diajarkan untuk fokus ke depan. Ga lama diminta pelan-pelan langsung belajar jalan di koridor, Tengah malam selesai operasi, pagi disuruh belajar jalan? yahhh begitulah perjuangannya. Bisa? Bisa kok. Ga sampai harus tunggu sampai 2 harian, Hari ke dua setelah selesai Operasi Caesar diperbolehkan pulang, seminggu kemudian kontrol jahitan..du..du..du..rasanya makjan!!

Operasi Caesar bisa lebih serem dari cerita viral KKN, tapi kalau ingat bakal ketemu si Bayi, disitulah kekuatan İbu bereaksi, sesakit apapun dilawan.

Operasi Caesar ke-dua

Sebenarnya jarak usia anak saya cukup kalau bisa VBAC- melahirkan normal setelah caesar, tapi Dokter di Rumah sakit Pemerintah tidak mau ambil resiko, mereka sendiri yang memberi jadwal saya untuk operasi caesar ke dua, Kasus caesar kedua, saya Bius total, ingetnya pas masuk ruang operasi, Dokter memasukan Obat biusnya melalui cairan İnfus, tau-tau ngantuk kemudian dibangunkan,dengan rasa perih diperut, setelah selesai operasi. Setengah Sadar. Nahan sakit juga. Untuk Operasi Caesar kedua, dilakukan siang hari, Begitu malam, hal sama dilakukan. langsung disuruh belajar jalan di koridor Rumah sakit, Aih jangan tanya rasanya heheh, Mau operasi lagi? Udaaaahhhh.

Memperbandingkan: Normal vs Caesar

Diskusi yang basi, apalagi antar Perempuan sendiri, membandingkan dan membanggakan dirinya yang bisa Normal, ‘‘ah saya ga lama kok, bayinya langsung Brojol, ga pake ngeden malah” . İya deh iyaaa. Saya juga ketika selesai Operasi, ngobrol sama Keluarga di İndonesia, yang ditanya bukan kondisi selepas operasi, malah mempertanyakan, Kok Caesar? karena Keluarga saya jarang yang operasi Caesar, seakan ‘Mencoreng’ kehebatan leluhur, maksudnya Nenek saya bisa melahirkan normal 15 kali,4 bayinya wafat, sampai dewasa ada 11 anak. Masa ga bisa normal? Kalau dimasukan kehati, bawaannya bisa menyumbang Baby blues juga, Tapi saya ga ambil pusing, suami ga masalah, yang penting anak sama İstri selamat, bisa ngedidik anak-anak dengan baik, sehat semua. Keputusan tinggal hanya berdua jauh dari sanak Family baik keluarga suami maupun keluarga İndonesia saat itu, rasanya pilihan tepat, tidak ada intervensi kanan kiri. Apapun tentang Anak kami putuskan sendiri. Menjalani operasi Caesar menjadi pengalaman hidup yang berarti. Masalah orang lain ngebanggain bisa Normal-nya, İya deh..iyain aja:) kesuksesan jadi orang tua ga dinilai dari proses melahirkannya kan?