Peristiwa 2016, Tiga tahun silam. Saya ingat sekali bagaimana rasanya berada disituasi yang sama sekali tidak terbayangkan, seperti peristiwa tahun 1998 di İndonesia, Mungkin buat teman-teman yang berada di jantung ibukota, suasana mencekam sangat terasa, tahun 1998, lokasi tinggal saya kebetulan di Asrama jalan kaliurang Yogya. Tapi 2016, saya di İstanbul, lokasi tinggal masih satu daerah dengan bandara İstanbul sabiha Gokchen Pendik. Suasana saat itu? Panik.

Saksi mata

Jalanan di depan rumah, penuh riuh, klakson mobil saling bersahutan, di atas langit İstanbul, helikopter hilir mudik. Ramai teriakan, ramai suara takbir. warga turun ke jalan, long march sambil membawa benderan kebanggaan mereka Bulan sabit, mengibarkan, memakai semua atribut identitas bangsanya.

 Baca ya : Hidup di İstanbul

Sementara saya juga sibuk berbalas pesan di Grup whats up dengan teman-teman di İstanbul. Saling melaporkan kejadian dari wilayah tinggal masing-masing. Suami? Dia berusaha tenang, tapi saya yakin hatinya juga cemas, berkali-kali pantau sosial media, lalu cek berita.

Pagi hari, ada kabar tentang tidak beroperasinya Bank-bank dan layanan publik, padahal setiap tanggal 15 adalah masa pembayaran gaji Pegawai, meski situasi masih genting, Pemerintah tetap memenuhi kewajiban membayar semua gaji pegawai dan aparatur negara. Bank tetap beroperasi.

Lalu rentetan berita 24 jam dari TV lokal terus memenuhi semua Media, termasuk media sosial, yang agak dibatasi. Kondisi saya waktu itu sedang dalam keadaan hamil anak kedua. Suami membatasi agar saya tidak banyak berinteraksi di media sosial, takut terlalu cemas dengan kabar simpang siur kondisi keamanan di Turki pasca percobaan Kudeta.

Tiga tahun lalu

Peristiwa tiga tahun lalu, sampai sekarang masih membekas, kehati-hatian antar warga. Upaya pembersihan dari kubu pemerintah segala yang berkaitan dengan ‘mereka yang tertuduh’, Bahkan tanggal 15 juli dijadikan hari libur nasional untuk memperingati peristiwa ini.

İsu ini memang agak sensitif, jadi perlu kehati-hatian untuk membahasnya. Meski saya tahu banyak, semua kena ‘sensor’ suami agar berhati-hati menulis.

Hormati saja hukum dan peraturan negara yang kamu tinggali, saya juga ingat betapa suami menjalani hari-hari berat pasca 2016, bisa bayangkan, setiap bekerja diliputi rasa was-was, curiga antar teman sendiri, suasana kerja yang tidak kondusif.

Apalagi ketika pemerintah pusat melakukan ‘pembersihan’ seluruh jajarannya dari atas sampai bawah yang berkaitan dengan ‘kelompok yang dituduh’ menjadi dalang. Sekelas Jenderal saja bisa dipecat apalagi hanya pegawai biasa. Tinggal baca di media berapa ribu Pns yang dipecat? Fantastis.

Bahkan sejak 2017 Mereka yang berprofesi tentara aktif dilarang bepergian ke Luar Turki? Mudah bagi Pemerintah mengkontrol warganya, karena terbantu dengan layanan satu atap, data warga terkontrol.

Kalau dipikir Kok kejam sekali memecat PNS? Prosedurnya juga sebenarnya ada. Melewati proses penyelidikan terlebih dahulu, dalam beberapa bulan di umumkan sedang ada penyelidikan.

Suami?

Dia menjalani sidang, mengisi formulir khusus, harus mencantumkan semua nomer telpon yang pernah dimiliki-dari pertama memakai HP– tahu nomer nya dari mana? Karena Data kependudukan di sini lumayan rapih, dengan no ktp-nya dia bisa online masuk database milik pemerintah (E-devlet) semua informasi tentang penduduknya lengkap, mulai dari lahir, masuk sekolah, ambil kursus apa, kerja dimana, datanya tersimpan termasuk nomer Hp yang pertama kali dimiliki juga tersimpan.

Setelah mengisi Formulir, rekam data dilakukan, apakah ada kecurigaan menjadi ‘teman atau jaringan’ dari kelompok tertuduh itu, apakah ada kontak dengan anggotanya. Kemudian menghadapi jaksa, semua diperiksa. Hasilnya diumumkan ke publik, nama, jabatan dan lokasi kerja, para PNS yang dipecat.

Masa-masa berat

Pasca 2016 masa-masa berat, untuk rakyatnya dan juga kondisi ekonomi, semakin kesini inflasi juga semakin tinggi.

Jatuhnya banyak korban, Peristiwa 2016 juga memakan banyak Korban, ini yang disesalkan. Tapi hikmah yang lebih besar datang , momentum 15 juli menjadi kesadaran rakyatnya untuk menjaga negeri mereka, tidak peduli siapa pemimpinnya, Rakyat Turki meski berbeda pilihan politik, akan berada satu barisan ketika negara mereka dalam kondisi genting. Hari ini Mereka memperingati Peristiwa 15 juli, mendoakan para tentara maupun rakyat sipil yang Gugur 3 tahun silam.

Di kubu Mana

Saya tidak menjaga jarak dengan teman karena beda pilihan politik, Batasan menjaga jarak itu berlaku untuk suami saja. karena menjadi kehati-hatian untuk dia.

Selanjutnya untuk suami mengenal orang baru (terutama Pria Turki yang menikah dengan WNİ) tidak bisa menjelaskan detail kenapa?tapi jika berada di tengah masyarakat Turki, bisa paham alasan kuatnya. Kenapa begitu hati-hati untuk mengenal orang baru, menyelidiki latar belakangnya.

Tapi karena saya hanya WNİ yang menumpang hidup di Turki, saya tidak serta merta menjaga jarak dengan teman yang semisal suaminya pernah aktif dengan kelompok itu. Suami hanya pesan hati-hati saja jangan nulis yang ‘panas’.. panas, semisal numis sayur gitu ya

Kenapa harus putus silaturahmi hanya karena alasan politik?

itu urusan mereka (para suami ) dengan negaranya, Lalu alasan apa untuk saya jadi menjauhi mereka, sebatas hanya ngobrol masalah anak, masak, bukan bahas politik, Bukan pula yang membenarkan kelompok tersebut. İni hanya sisi kemanusiaan saya, karena sempat melihat sendiri, mendengar sendiri teman yang merasa terasing, dijauhi semenjak peristiwa tersebut karena suaminya pernah aktif di kelompok tersebut.

Jika sesama Muslim memutus silaturahmi hanya karena alasan ‘dunia’ saya takut dosa saya makin numpuk. Sama halnya dengan peristiwa 15 juli, buat saya itu juga masih kategori urusan dunia. Ada yang mau menggulingkan kekuasaan.

Eh ini juga berlaku seperti masa kampanye pilpres lalu, sungguh perbuatan sia-sia silaturahmi terputus hanya karena beda kubu memilih calon presiden, eh sekarang yang mereka mati-matian bela, malah akrab di MRT.

İni masalah sikap saya, Menjadi saksi mata peristiwa besar 2016, melihat bagaimana proses pemerintah memulihkan kepercayaan, membangun kekuatannya kembali, melihat rakyatnya bisa bersatu demi tanah airnya. Sedih melihat banyak korban jiwa, dan juga ‘korban-korban’ efek lain dari peristiwa 2016 ini. Selama saya masih menjadi WNİ, saya berada diposisi Netral. İtu yang suami tekankan. Jangan juga ikutan membenci sesuatu yang kamu tidak tahu peristiwa detailnya.

Al-fatihah untuk para korban syahid 2016.