Saya pernah menonton salah satu variety show dari negara korea selatan, tentang ayah yang menggantikan peran ibu menjaga anak, Di salah satu episode, seorang anak yang di tes ayah nya untuk belajar bertransaksi di supermarket tanpa pendampingan sang ayah. Si anak diberi sejumlah uang dan pesanan apa yang harus dia beli di market.
Apa si anak jujur, apa dia membeli barang sesuai pesanan, apa dia hafal nominasi uang yang dia bawa,bagaimana dia berkomunikasi dengan sang pemilik toko- karena ini variety show, si anak dipasangkan kamera kecil di bajunya, melihat cara dia berkomunikasi dengan pemilik toko, belajar untuk fokus dengan pesanan barang dari sang ayah, Belajar berhitung sisa uang kembalian.
 
Fatih, 5 tahun. Anak pertama saya, termasuk anak yang aktif, dia selalu ingin tahu banyak hal, apalagi  rumah kami yang berada dekat dengan minimarket, dia terbiasa melihat orang  hilir mudik masuk minimarket untuk berbelanja. Beberapa hari ini saya dan suami mulai  mengenalkan fatih dengan  transaksi uang, belajar belanja sendiri, mengenalkan nominasi mata uang, tujuannya tentu saja agar fatih bisa menjadi anak cerdas secara finansial.
 
Cara sederhana yang kami ambil contoh dari cerita di variety show tv korea selatan tersebut. Kami ajarkan fatih untuk berani ke minimarket sendiri, membekali dia dengan sejumlah uang, memberikan pesanan tentang apa saja yang harus dia beli.
 
Seperti waktu kemarin kami sedang bermain  di Taman, Fatih bilang dia haus, mau beli air dan jus buah di toko terdekat dari Taman, saya berikan sejumlah uang. Kemudian Fatih jalan ke toko yang berjarak sekitar 50 meter dari park, saya mengamati dia sampai masuk toko. Tak lama, dia keluar dan membawa pesanan belanja. Fatih pun mengembalikan sisa uang kembalian dari toko. Kemudian dia juga melanjutkan cerita bagaimana dia bertransaksi dengan paman si pemilik toko.
 
Disini kami mengajarkan  fatih  untuk fokus dengan pesanan atau amanah yang kami berikan, dia harus beli apa , karena bisa saja dia tergoda untuk membeli mainan atau coklat.  Mendidik  Fatih agar bisa berkomunikasi dengan baik,belajar berinteraksi dengan pemilik toko.
Mengajarkan Fatih tentang kejujuran, dia mengembalikan semua sisa uang belanja, dia juga belajar berhitung berapa uang yang sudah dia belanjakan dan sisa berapa yang dia bawa kembali.
 
Anak cerdas itu bisa diandalkan? İtu menurut saya dan suami, Cara kami mendidik anak-anak agar bisa menjadi anak cerdas, Adalah mulai memberi kepercayaan ke anak, ikut melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari. Selain belajar mandiri, belanja ke market melatih anak kejujuran,melatih anak mengenal nominal mata uang. Fatih juga saya libatkan untuk mengurus adiknya, dia menikmati peran sebagai kakak yang bisa diandalkan, belajar untuk bertanggung jawab. Belajar untuk menjaga dan menyayangi saudaranya.
anak cerdas
Hasil dari penelitian terbaru mengatakan bahwa, Kesuksesan seseorang di masa depan lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya. Kecerdasan akademik atau İQ berkontribusi 20 %, sedang kecerdasan emosi 80%. Disini saya sadar pentingnya mengelola emosi anak sejak dini.
Hal-hal sederhana yang saya dan suami ajarkan untuk Fatih, Salah satunya menumbuhkan empati dalam dirinya, belajar untuk peduli dengan lingkungan sekitar, peduli dengan alam.
Mengajarkan Fatih konsep sedekah atau berbagi dalam bentuk apapun.
1.Belajar sedekah
Setiap hari saya mengajarkan Fatih untuk berbagi , berbagi tidak harus dalam bentuk materi, Setiap pagi Fatih rutin memberi makan burung liar yang sering mampir di jendela dapur, biasanya Fatih antusias mengambil segenggam beras dan menebarkannya di pinggir jendela, lalu burung-burung hinggap dan mulai makan.
Selain itu saya ajarkan Fatih untuk menyisihkan uang jajannya dalam kaleng kecil bekas wadah kopi, lalu saya tempelkan tulisan ‘sedekah’. Begitu koin-koin uang sisa belanja terkumpul banyak, biasanya kami jalan ke masjid atau jika bertemu Pengemis di jalan, Fatih langsung memberikan, Jika kebetulan dia membawa sedikit jajanan, hal itupun dia bagi ke anak-anak pengemis. Hal ini berguna menurut saya melatih kecerdasan emosi dan empati nya, belajar berbagi, belajar peka terjadap lingkungan sekitar, memotivasi Fatih agar rajin belajar, dan kelak di masa depan dia bisa lebih banyak membantu orang yang membutuhkan. Karena #anakcerdasitu baik secara emosi, sebisa mungkin saya dan suami #dukungcerdasnya.
2. Memberi pelukan.
Memberi pelukan hangat terhadap anak-anak dari yang saya baca, banyak manfaatnya terutama untuk perkembangan otak anak, otak anak jadi lebih berkembang dibanding anak yang jarang di peluk.
Pelukan pun bisa menghindari anak dari dampak stress dan cemas , saya dan suami membiasakan memeluk anak sebanyak mungkin, menunjukan kontak fisik kalau kami sayang dan selalu ada untuk mereka.
Kebiasaan ini akan berdampak pada aktivitas anak, kontak fisik dalam bentuk pelukan berguna melepaskan zat kimia tertentu di otak dan bisa meningkatkan kebahagiaan anak, menurunkan hormon stress
hasil gambar fatih yang menunjukan ekpresi bahagia bersama keluarga
Selain pelukan , pemenuhan gizi seimbang untuk Fatih juga menjadi salah satu faktor membentuk anak cerdas baik secara emosional maupun akademik, selain membiasakan fatih makan makanan sehat, pemberian multivitamin tambahan, membantu kebutuhan vitamin untuk Fatih dalam masa tumbuh kembangnya.
Saya sadar sekali akan hal ini, sebagai ibu sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk anak dalam men #dukungcerdasnya.